Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Menyatukan harapan


__ADS_3

Kami semua langsung mengangkat tubuh dan mencondongkan badan untuk melihat cincin lamaran yang Abimanyu berikan. Semua mata langsung terperangah dengan cincin yang Abimanyu bawa.


Itu logam mulia berjenis platinum dengan warna hitam elagan yang terlihat menawan, ada nama kami di lingkaran dalamnya. Untuk cincinku ada berlian kecil berwarna merah muda.


Aku tersenyum lebar, mataku pasti berbinar terang sampai menyilaukan Abimanyu. Terbukti ia menunduk lalu tersenyum malu.


"Aku suka pilihanmu, Abi. Sederhana tidak mencolok." kataku menenangkannya. Abimanyu pasti sedang di landa gelisah yang sangat asing yang belum pernah dia rasakan.


"Aku suka, terima kasih baby." Aku ingin memeluknya, tapi Khoue menahan tanganku sambil geleng-geleng kepala.


"Sabar Bella, sabar. Belum saatnya kau coba ayam jantanmu itu, belum selesai prosesnya. Kau bikin dia nanti takut, kau agresif tau." ucap Khoue serius.


"Om, ssssstt..." Aku menaruh jari telunjukku di bibir, bisa gawat kalau Khoue bocor terus. "Udah." kataku serupa gumaman sembari melirik Abimanyu dengan ekor mata. Padahal aku sudah sekuat tenang berusaha menutup segala aibku. Malah bapaknya Alexa Liu sebagai narasumber.


"Kenapa Bella? Mantu harus tau, kelebihan dan kekuranganmu itu sebelum kawin. Itu tugas Om dan Tante Liu hari ini toh, kau ini gimana?"


"Nanti dia kabur duluan sebelum berkokok om, sssttt... Jangan semuanya, aku itu sekarang jadi gadis bau kencur, mau-mau malu." bisikku di belakang Khoue.


Bapaknya Alexa Liu terbahak-bahak dengan renyah, aku memutar bola mata dengan jengah sambil memikirkan ini acara lamaran apa lawakan. Bisa-bisanya semua kegugupan ku hancur gara-gara ulah bapaknya si sipit yang sudah curi start makan malam dengan menyuapi anaknya.


"Kau simpan dulu cincin itu, Mantu. Kita makan malam dulu saja. Opa lapar." suruh Khoue setelah tawanya mereda dan mengusap matanya yang berair.


Abimanyu mengangguk dan menyimpan kotak perhiasan dengan warna putih itu ke dalam saku jas bagian dalam. Ia tersenyum kemudian, tapi aku bisa pastiin perutnya menegang, napasnya susah, tapi dia punyaku dan tentang hari yang aku anggap menegangkan, ternyata hati lebih lega.


Tante Nita yang mendampingi Abimanyu disebelahnya mengelus-elus punggungnya.


"Kau makan yang banyak, Mantu. Jangan malu-malu, kami keluarga kamu sekarang."


Bibir Abimanyu melengkung. "Terima kasih, Oma."


Acara makan malam di mulai, pada malam yang hangatnya enggan hilang dari rumahku. Aku menyaksikan Abimanyu menyuapkan makan malamnya dengan malu-malu. Walau sedikit hatiku bertanya, ada apa? Kenapa Abimanyu tidak membawa orang tuanya tentang hari ini?


***

__ADS_1


"Saya Khoue, ini istri saya, mama Nita, ini anak dan cucu saya. Alexa Liu dan Anthony Liu. Kamu pasti sudah mengenalnya Abimanyu." ucap Khoue di ruang keluarga, pembawaannya kali ini sangat serius seperti di ruang meeting. Aku jadi bisa meraba dada Abimanyu jika jantungnya berdenyut kencang sekarang. Sementara di samping Khoue ada Bibi Marni, dia terlihat gugup harus merestuiku menikah untuk kedua kali dengan laki-laki yang sudah ia anggap anak.


Abimanyu tersenyum kering dan mengangguk.


Khoue melanjutkan. "Saya sebagai sahabat papa Bella berhak menanyakan keseriusan Abimanyu untuk menjadi suami anak kami. Apakah anak Abimanyu bersedia menafkahi, menyayangi, dan mencintai Bella Ellis dengan hati yang bersih?" tanya Khoue tanpa basa-basi.


Aku melirik Alexa Liu, dia mengangguk samar.


Abimanyu bergeming beberapa saat sebelum menarik napas dalam-dalam dan gemetar.


"Saya berjanji, namun saya tidak bisa memastikan berapa jumlah nafkah yang bisa saya berikan untuk Bella Ellis."


Khoue bertepuk tangan. "Jawaban yang tepat untuk seorang laki-laki! Lalu bagaimana dengan kamu, Bella? Kamu bersedia menerima Abimanyu dengan janji yang dia ucapkan?"


Khoue menatapku. Tepat di mataku.


"Aku hanya meminta kesetiaan, menerima kekurangan dan kelebihanku. Itu saja."


"Bagaimana dengan surat pranikah? Apakah perlu?" sahut Khoue.


Khoue cukup terkejut dengan jawabannya lalu ia melemparkan senyumnya padaku.


"Sekarang keluarkan cincinnya mantu." suruhnya.


Abimanyu merogoh kantong jasnya seraya menaruhnya di meja.


Khoue berdehem lalu berdiri. Aku mengikutinya, berdiri dengan kaki goyah. Benarkah malam ini aku di lamar Abimanyu? Kini mengapa aku di landa resah yang terbagi menjadi katakutan ketakutan setelah menikah.


Narendra, kau membuatku trauma.


"Saya dan Marni menerima lamaranmu, Abimanyu Julian Rudolf.


Berjanjilah untuk menjadi imam yang baik dan tegas."

__ADS_1


Khoue menyematkan cincin platinum hitam ke jari manis Abimanyu lalu memeluknya. "Yang rajin, nanti Opa ajak bisnis-bisnis biar kaya."


"Terima kasih, Opa." Abimanyu mengangguk dalam pelukan Khoue.


Lalu Khoue menyematkan cincin platinum ke jariku dengan senyum kebapakan yang mengingatkan aku pada papa. "For last, Bella. I pray for you." Perut Khoue yang buncit menubruk tubuhku. Dia memelukku.


"For last, i hope so."


Aku tersenyum dan mengusap mataku yang menghangat. "Makasih, om."


"Sudah kau jangan nangis lagi. Kami semua ikut bahagia kau bahagia."


Khoue menarik Abimanyu dan menaruhnya di dekatku. Dia terlihat menahan malu tanpa bisa berbuat banyak.


"Kalian pacaran sajalah, kami mau pulang, sudah kenyang." aku Khoue sembari mengerling mata.


Kami berempat kemudian mengantar keluarga Liu ke depan. Sambil mengiringi mobil merah itu berjarak dengan rumah, kami melambaikan tangan, Joe menutup pintu gerbang.


Bibi Marni langsung menghela napas lega dan melepas sepatu hak yang dia pakai.


"Bibi ganti baju dulu Nyah terus beres-beres meja." ucapnya sembari masuk ke dalam rumah. "Jo, kamu juga masuk. Banyak yang belum habis itu masakan bibi."


"Saya bawa saja ke pos satpam!" Joe memberi hormat kepadaku dan Abimanyu seraya masuk ke dalam rumah.


Mendadak ketika hanya berdua saja, aku merasa nyaris pingsan. Aku kesulitan bergerak, bahkan menatap Abimanyu saja aku tidak berani.


"Bella." panggil Abimanyu.


Ughhh... Aku memejamkan mata menahan kebahagiaan besar untuk memeluknya.


"Bella. Chin up." Abimanyu menyentuh daguku, mengangkatnya perlahan hingga mata kami bertemu. Abimanyu tersenyum, "Aku suka menatapmu."


Aku merangkul tengkuknya.

__ADS_1


Mengetahui apa yang dilakukannya slalu berani sepertinya aku slalu menjadi yang tercupu, tapi tidak malam ini. Ada hasrat yang mendorongku untuk menariknya ke arahku, menciumnya, dan ketika bibir kami bersentuhan. Abimanyu memelukku erat sampai kakiku terangkat dari lantai diikuti ciuman panjang yang menyatukan harapan.


...******...


__ADS_2