Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Berpisahlah karena maut


__ADS_3

Aku mengakhiri panggilan dan memasukkan ponselku ke dalam tas.


Hari ini adalah hari terakhir persiapanku dan Abimanyu menuju satu bulan perjalanan di Benua Eropa setelah menunggu lebih lama dari yang aku bayangkan sebelumnya. Kami harus bersabar, bekerja keras dan menyiapkan segala kebutuhan pernikahan kami yang sederhana di Spanyol nanti. Tidak ada resepsi, hanya ijab kabul, itupun diam-diam, setelahnya kami juga akan tinggal di apartemen baru. Apartemen rahasia.


Itu kesepakatanku dengan management Abimanyu setelah insiden foto dan video kami tersebar di internet. Aku ingin tenang tanpa ekspos.


"Bibi, udah siap belum?" seruku di depan kamarnya.


Pukul dua siang aku harus mendatangi rumah orang tua Abimanyu. Dia sudah tinggal di sana untuk beberapa hari demi meyakinkan orang tuanya menikah muda. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk mengulur waktu lagi, Abimanyu slalu berkata jangan.


"Orang bilang sebelum janur melengkung kita bisa tikung. Aku percaya jika Om Rendra mau dekat-dekat Bella lagi." Mata jeli Abimanyu mengamatiku waktu bilang itu, sementara aku menatapnya dengan ekspresi heran.


"Om ganggu kamu lagi, Eli?" tanya Abimanyu. Karena tahu kekhawatirannya akan merambat kemana-mana dan tidak selesai aku mengangguk takut.


"Dalam hal kerjaan tentu iya, ada perusahaan papa yang masih ada kaitannya dengan saham miliknya. Dan untuk urusan bisnis susah untuk lepas, Abi. Soal ini aku harap kamu ngerti. Bisnis bukan cinta dan orang dewasa tidak bisa memutuskan pekerjaan sepihak. Urusannya bisa panjang."


Hening. Lama.


Abimanyu terlihat merenung dengan pelik.


"Apa itu sama halnya dengan kontrak kerja yang aku tanda tangani? Ada masa kadaluwarsanya?"


Aku mendapati kekhawatiran dari mata kanak-kanak Abimanyu. Aku menangkup wajahnya, menjelaskan kehidupan yang diyakini kami berdua setelah menikah.


Cinta dan kebahagiaan, dua porsi yang harus menjadi tujuan kami di atas kendala-kendala yang ada. Itu pasti.


"Nyah, nyonyah!"

__ADS_1


Aku mengerjap. Tanganku menangkup pipi bibi Marni. Dengan gerakan luwes malu-malu aku menurunkannya.


"Obat mabuk udara, minyak gosok urut, udah bibi pastiin bawa di tas?" tanyaku mengurai rasa malu.


"Pokoknya bibi siap jalan-jalan di Eropa, Nyah!" Bibi Marni menepuk tas selempangnya. Senyumnya mengalahkan senyum iklan pasta gigi yang baru saja aku dan Abimanyu jalani seminggu yang lalu.


Aku mengangguk. Joe bergabung dengan kami. Dia menyerahkan semua kunci rumah kepadaku kecuali kunci pintu utama.


"Siap?" tanyaku.


"Let's go..." Bibi Marni mengangkat tangannya. Dia mendorong dua koper besar dan menaruhnya di atas mobil bak terbuka.


Aku melirik Joe. "Hanya mobil ini yang tersedia untuk membawa koper kami semua nyonya." jawab Joe.


Aku masuk ke dalam mobil sembari mengisyaratkan rencana yang sudah kami bicarakan. Kami akan memanipulasi keberangkatan ke Eropa sendiri-sendiri. Joe dengan bibi Marni, dan keluarga Alexa Liu. Aku nanti malam dengan Abimanyu.


"Have a fun guys! Bye..." Aku melambaikan tangan kepada mereka.


Aku terbahak. Bibi Marni memang terlihat cuma seperti mau pulang kampung, dan barang bawaannya sebagian di taruh di kardus. Lima belas menit kemudian, kami resmi berpisah di pertigaan jalan.


Kupu-kupu di perutku langsung berterbangan sewaktu Abimanyu membuka pintu gerbang untukku.


"Hay, baby." sapaku setelah menurunkan kaca mobil. "Have a good day?"


Abimanyu mencondongkan tubuh. Dia menjilat bibirnya dan mencium keningku sekilas. Tanpa bersuara, dia membuka pintu mobil.


"Baju yang bagus untuk bertemu calon mertua." kata Abimanyu. Aku menurunkan tatapan ke pakaianku. Dress vintage floral kuning pucat di bawah lutut dan hanya memakai sepatu flat shoes.

__ADS_1


Aku meliriknya. "Terima kasih."


Abimanyu melambatkan langkah ketika kami masuk di rumah. Demi apapun, dulu aku pernah mabuk dan tidur di sini dengan tenang, sekarang berbeda, aku sadar dan sangat gugup harus menghadapi orang tua Abimanyu.


"Pa... Ma... Bella udah datang." kata Abimanyu di depan kamar beraroma teh. Rudolf, masih diberi kesehatan sejauh ini meski kondisinya sering lemah.


"Hai om, Tante." Aku memberi senyum, menatap dengan gugup Rudolf dan ibu tiri Abimanyu. Aku yakin, mereka pasti selama ini mikirnya aku menggunakan uangku yang aku berikan dengan santai untuk pengobatannya sebagai alat untuk menjerat Abimanyu.


Rudolf menarik sudut bibirnya. "Bella, come."


"Ya." Aku mengitari Abimanyu lalu berjalan ke dekat Rudolf. Aku menyapa dengan kalem sebelum duduk di tepi tempat tidurnya. Gunung kegelisahanku seolah semakin tinggi sewaktu Rudolf meresapi wajahku dan Abimanyu secara bergantian.


"Kunjungi nenek buyut dan keluargaku di Jerman, mereka pasti akan senang melihat cucu mereka datang berkunjung." kata Rudolf, suaranya bergetar. "Titipkan salahku pada mereka, Ian."


Aku menerima alamat keluarga Rudolf dari istrinya. Secarik kertas ini aku baca dan simpan di tasku.


"Kami akan mengunjungi mereka setelah kami menikah nanti. I promise, tapi maaf sebelumnya Om, apa om mengizinkan Abimanyu nikah muda?" Aku mengernyit.


Rudolf berdehem, pemilik brewok yang sudah ubanan menatap ke luar jendela dan Abimanyu.


"Apa kamu bersedia menerima risiko menikah dengan laki-laki yang belum memantaskan diri, Bella? Julian masih butuh petunjuk arah yang jelas dan teratur untuk mengatur hidupnya!"


Aku menatap Abimanyu, yang paling mengusik darinya adalah ia menerimaku bahkan ketika aku tidak peduli dengan diriku sendiri.


"Aku menerima risikonya kecuali perselingkuhan!" kataku.


Rudolf menoleh pada Abimanyu.

__ADS_1


"Maka menikahlah kalian dengan janji yang kalian sepakati dan berpisahlah karena maut. Papa dan mama tidak bisa ikut. Berbahagialah."


...******...


__ADS_2