
Bab 4 - Bellaku
.
.
.
Bella meletakkan secangkir kopi dan semangkok bakso di meja lonjong di balkon kamar kami setelah kami membersihkan diri dan aku merayunya. Ia merunduk, mengecup keningku. Semerbak harum tubuh dan pakaiannya penuh wewangian yang memabukkan.
"Aku tinggal ke kantor dulu baby, kamu makan dulu terus istirahat. Anak-anak dua jam lagi baru balik." Kedua pipiku dia cubit.
"Kamu masih terlihat kanak-kanak, sebel..." ungkapnya dengan muram.
Aku menyandarkan gitarku di tembok seraya mencekal pergelangan tangan dengan lembut. Kami bertatapan. Dia pasti masih memikirkan perbedaan usia di antara kami yang cukup jauh. Dia slalu takut ketika dia menua lebih dahulu aku akan merasa bosan padanya. Merasa dia tidak lagi terlihat sedap di pandang.
"Kenapa? Mau anak lagi? Ayo... kalo itu bikin kamu senang baby." Aku mengecup punggung tangannya, aku akan mengalah jika bayi dalam hidup istriku membuatnya bahagia meski aku tidak begitu setuju memiliki anak lagi sementara waktuku habis di lokasi syuting.
Aku merasa peran ayah yang aku lakukan tidak benar-benar memenuhi syarat sebagai hot daddy. Aku terlalu banyak kekurangan dalam mengasuh dan mendidik mereka, dan setiap pikiranku mundur ke usia satu tahun pernikahan kami banyak sekali lika-liku kehidupan rumah tangga yang mencengangkan.
Aku merasa jiwaku yang masih muda dan sedang menginjak level ketenaran menjadikan Bella perempuan yang tersakiti. Banyak gadis-gadis yang mendekatiku, menyukaiku dan berminat melakukan kencan-kencan di belakang layar. Sementara status istriku yang masih menjadi kekasihku tidak mereka gubris.
Di ambang kebingungan, Bella justru sedang jatuh cinta kepada Neo, anak pertama kami dan cucu pertama papa dan mertuaku di surga. Cintanya pada anak itu sangat besar, seperti Uy Scuti. Bintang berapi paling besar jauh lebih besar dari matahari. Cintanya panas, berapi-api, begitupun padaku namun juga menghanguskan sedikit rasa sejuk dalam rumah ini. Dia meminta waktu dengan dalih “inikah keluarga utuh yang dia bayangkan”, dia meminta andil dalam membesarkan buah cinta kami di tengah semaraknya jadwal kerja lalu pada akhirnya menyerah, sedikit ngambek dan kurang merayu ketika aku ada tanggung jawab yang lain di luar rumah. Bella membesar Neo 80%, sisanya aku. Dan ketika Ollie lahir empat tahun kemudian setelah Neo. Keadaan semakin ramai. Banyak sesuatu yang terjadi di luar kendali kami.
Itulah alasan kenapa memiliki anak lagi belum ada di listku. Kasian Bella, kasian anak-anakku. Sosok figur ayah mereka dapatkan dari Joe. Pengawal Bella sekaligus menjadi suami pura-puranya.
__ADS_1
Kami menumpuk skandal dan kebohongan publik demi rasa aman yang kadang-kadang memancing masalah juga bagi kamu sendiri.
Bella mendengus lalu menyelipkan rambutnya. "Gak usah, kamu nggak niat kok. Lagian aku buru-buru baby, kalo kamu mau, aku nanti harus mandi lagi. Ribet. Lamaaaa..."
Aku mengerucutkan bibir ketika ia menguyel-uyel pipiku dengan gemas. "Jangan kemana-mana, aku balik sebelum sore dan kita bisa membahasnya."
Aku berdehem, seulas senyum samar menghiasi bibirnya sebelum berbalik masuk ke kamar.
Aku mengangkat cangkir kopi, membiarkannya pergi ke kantor dan bertemu geng kemayu lumayan bikin aku cemas.
Geng kemayu adalah kumpulan para istri atau janda kesepian yang mencari kesenangan bersama. Menggosipi pria-pria muda kere, atau konglomerat kaya, tas mewah yang sedang happening, dan kegilaan mereka dengan uang. Meski begitu geng kemayu adalah ibu-ibu penyayang dan berhati mulia. Mereka adalah supporter terbaik paling royal membantuku mendapatkan Bella. Tetapi sekarang rasanya aku malu, Bella yang aku perjuangkan dalam rasa tidak percaya diriku bersanding dengannya harus membunuh waktu lebih banyak dengan mereka dari pada bersamaku.
Aku menoleh. Di ambang pintu, Bella menyisir rambutnya.
Aku menaruh bibir cangkir ke mulutku dan menyesap cairan pekat lezat ini dalam beberapa tegukan sebelum berdiri. Mengembalikan cangkir ke meja lonjong lalu menusuk sebutir bakso dengan garpu dan melahapnya.
"Ollie mau apa?" tanyaku.
Bella mengendikkan bahu. "Tanya ajahh..."
Aku berkacak pinggang dengan sebelah tangan dan menatapnya dengan kesal. Bella sering kali bermain teka-teki sementara tangannya sekarang membelai lenganku.
"Come on... Jauh lebih baik kalo aku tau apa yang Ollie mau, sayang. Katakan?" pintaku.
Bella mengamati wajahku lalu menciumku dengan lembut. Aku menyerap napasnya yang wangi dan terengah. Ia melepaskanku seolah-olah sudah lama tidak memeriksa bibirku dengan lidahnya.
__ADS_1
"Kamu ayahnya, Abi. Apapun pilihanmu Ollie pasti suka." Bella tersenyum. "Udah ah. Jadi nggak mau pergi nih kalo kelamaan liat kamu." guraunya lalu berbalik.
Aku mengikutinya masuk ke kamar. Melihatnya berdandan dengan rapi dan sangat elegan rasanya wanita slalu menarik.
"Besok aku udah balik lagi ke kantor buat briefing bareng orang brainstorming di kantor. Mau kencan nanti malam?" tawarku. Semoga dia mau. Kalau tidak, aduduuuu, rindu ini belum tuntas!
Bella menoleh, matanya tersenyum padaku. "Kencan sama anak-anak, gimana?"
"Boleh." Aku mengangguk, prioritas utama memang anak-anak. Bonus setelahnya adalah kenikmatan.
Aku merangkul tanganku di pinggangnya. Kenyataan bahwa dia tetaplah wanita manja yang tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bersandar di dadaku sembari berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga membuatku tidak lupa, Bella menyukai romantisme.
Aku menggesekkan pipiku di pelipisnya setelah sampai di garasi rumah. Ada empat mobil disini, dan semua adalah hasil dari kegiatan arisannya. Milikku hanya satu, motor gede yang tertutupi sarung motor. Tadinya aku ingin mengajaknya jalan-jalan berdua, setidaknya ada yang intim setelah sebulan berlalu.
Aku mencondongkan tubuh, mencium pipinya sebagai salam pamitan.
"Langsung pulang, jangan kelayapan!" kataku mengingatkan. Bella meringis, nampaknya aku harus memahaminya secara alami. Wanita yang membawa mobil putih kesayangannya keluar rumah membutuhkan waktu untuk diri sendiri.
Aku bergerak setelah pintu tertutup lagi, sedikit waktu mengalihkan perhatianku. Aku membuka sarung penutup motor gede yang jarang aku gunakan untuk aktivitas. Motor ini masih mengkilap dan bersih.
"Kayaknya seru bawa anak-anak jalan pake motor!" gumamku.
"Janganlah mas, nanti ketahuan!"
......................
__ADS_1