
Aku mengemudikan mobil sambil berpikir, memang benar apa yang terlihat tidak bisa mendeskripsikan kenyataan yang sesungguhnya. Abimanyu yang aku kira menjalani hidupnya seperti remaja biasa ternyata sudah menanggung batin kehilangan seorang ibu sejak kecil. Betapa pedih pasti usahanya untuk menerima kenyataan itu, terlebih sekarang kondisi Rudolf sedang turun.
Aku hanya berharap, semoga mama Fanni cukup mengisi relung-relung kosong dalam hatinya dengan kasih sayang yang tulus. Jadi aku tidak perlu membangkitkan jiwa keibu-ibuan ku sekarang ini. Meski bisa, meski aku mampu dan aku mau. Akan tetapi rasa-rasanya aneh dan lucu berteman dengan remaja seusianya. Abimanyu lebih cocok jadi adikku, bukan teman sepermainan.
Tiba di klinik, parkiran motor penuh, tiga mobil juga nampak di samping mobilku. Aku tersenyum memandangnya. Dulu kata mama sejak kecil aku sudah centil, sudah suka dandan dan bergaya. Semakin dewasa dan semakin tahu dunia mode dan kecantikan dengan mau banget aku langsung terjun di bidang itu tanpa pikir panjang. Beruntung papa dan mama mendukungku tanpa cela. Jadi rasanya setelah ucapan Abimanyu tadi kenapa aku tidak centil lagi serasa mengingatkan pada orang tuaku.
"Parah kamu, Bella." seru Alexa Liu sambil meraih lenganku lalu menyeretku ke dalam kantor. Alexa menutup pintu sambil melirikku tajam lewat ekor matanya. "Jam segini baru datang, tadi ibu Jesica sempat ngambek karena batal produksi hari ini. Kemana sih?" tanyanya penasaran.
Aku menaruh tas jinjingku di meja. Lalu melepas kancing bajuku paling atas, gerah rasanya setelah berjemur matahari siang-siang di parkiran rumah sakit tadi.
"Semua terkendali?" tanyaku, "Maaf-maaf, semalam aku melayang-layang terus bangun kesiangan. Habis itu nganter temen ke rumah sakit, papanya kolaps."
Dengan gaya santai aku mengambil pakaian gantiku dan handuk di nakas lalu memandangi Alexa Liu yang menatapku aneh.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Siapa yang sakit, Bell? Aku sama yang lain mau jenguk lah nanti." tanya Alexa Liu, jiwa-jiwa solidaritasnya pasti bergerak jika urusannya tentang nyawa seseorang.
"Adalah pokoknya, teman baru." Aku tersenyum sendu, tidak main-main aku langsung teringat Abimanyu sekarang. Begitu juga Rudolf, membaikkah? Mengingat darahnya tadi cukup banyak yang keluar.
"Aku mandi dulu dan buka saja pendaftaran perawatan dengan aku mulai besok, Alex. Aku sudah siap kembali melayani pelanggan." kataku serius, meski bagi Alexa itu bercanda.
"Aku gak bercanda, sipit." sahutku, sambil menjawil hidung mancungnya, hasil operasi plastik di Korea Selatan.
__ADS_1
Alexa Liu dengan ragu-ragu mengangguk sambil memegang hidungnya, takut patah dan seolah ia tidak yakin mengenai permintaan ku tadi karena sejak kemarin selama proses perceraian ku dengan papi Narendra aku memang menutup jadwal perawatan kulit dan wajah denganku untuk beberapa hari sampai aku benar-benar yakin, dan sekarang aku tidak punya kegiatan lagi selain hanya kerja, party dan istirahat.
"Yakin sudah bisa, Bella? Aku dan yang lain masih bisa handle semuanya, kamu take a rest and be happy dulu lah biar kondisimu sudah benar-benar fokus. Lagipula biasanya keluar negeri kalau suntuk, gak coba liburan dulu?" sarannya.
Dengan muram aku menggeleng, aku harus menghitung keuanganku dulu sebelum liburan, itu penting karena hidup tanpa papi Narendra berarti segala hak istimewa yang ada ikut tiada.
"Pokoknya atur saja, Alexa. Lagian aku ini habis cerai, bukan habis nikah. Jadi liburan itu gak worth it, Bebi. Yang ada aku melayang-layang sepanjang malam lalu lupa daratan, mau kamu?" jawabku sambil menari-nari seperti orang mabuk kepayang.
Alexa Liu tertawa menanggapi ajakku menari-nari bebas seperti di lantai pesta.
"Udah, Bella. Udah, banyak kerjaan di luar." sahutnya sambil mempertahankan diri seperti patung. "Mandi terus keluar, biar karyawan tau kamu udah balik dan sehat!"
"Kenapa emangnya?" protesku heran.
Alexa menyahut diikuti senyum tipis sebelum benar-benar tersenyum pasrah.
Aku mengangguk paham, sesaat aku mengatur napas dan mengembuskannya.
"Aku akan keluar satu jam lagi Alex, nanti aku bantu di luar." Aku tersenyum, "Terima kasih sudah handle semuanya kemarin, kamu boleh libur besok."
Pemilik mata sipit dan kulit putih benar putih dari lahir itu mengangguk.
"Terima kasih, Bella. Besok jangan lupa temui ibu Jesica untuk pembahasan produk baru dan pemenuhan syarat halal dan aman dari BPOM seperti biasa." ucapnya sebelum berbalik, Alexa Liu menutup pintu, baru setelah itu aku langsung mandi, dan benci harus kembali berdandan cepat-cepat karena Alexa kembali masuk ke ruangan ku tanpa ketuk pintu dengan kabar yang tak sedap.
__ADS_1
"Nyonya Elma datang, Bella. Cari kamu." jelasnya dengan panik.
"Untuk apa?" tanyaku dengan nada sedikit tak senang. Elma adalah mertuaku, si gila belanja dan perawatan kecantikan. Itulah kenapa di langsung merestuiku dulu berdampingan dengan anaknya yang duda keren itu.
"Mau perawatan katanya!" Alexa Liu mengendikkan bahu, "tapi rasanya bukan itu deh alasannya yang sesungguhnya Bella, dia pasti ingin–"
"Basi, aku udah tau." sahutku cepat dengan sinis, "dia pasti pengen tau gimana kondisiku sekarang setelah cerai dengan anaknya."
Alexa lalu mengangguk. Dalam hati aku juga mengutuk keras kelakuan the real sosialita konglomerat itu datang kesini, mau apa, klinik ini tidak cocok untuk kulitnya. Klinik kecantikanku hanya kelas standar yang bisa dinikmati banyak kalangan. Sementara dia, masker wajahnya saja setara dua kali kunjungan untuk treatment jerawat.
"Gimana, Bella? Aku bisa membuat alasan jika kamu menolaknya." tawar Alexa.
"Aku tetap akan menemuinya, sebentar." Aku merapikan riasan di wajahku dan terus mengingat sentuhan lembut Abimanyu di punggungku tadi.
Bikin aku semangat Abimanyu, bikin aku semangat. Duarrrrr, sensasi geli langsung menyentuh hatiku. Aku jadi cengengesan sampai Alexa yang membuka pintu kantorku meringis aneh.
"Kenapa, Bella?"
"Adalah, kapan-kapan kamu akan tahu." jawabku sambil melangkah dengan anggun, namun sekarang aku cuma memakai flatshoes mana bisa kelihatan jenjang.
Aku merentangkan kedua tangan untuk menangkup tubuh Nyonya Elma seraya mencium pipinya kanan dan kiri. Masa bodoh dia mau geli, jijik atau tidak terima. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku baik-baik saja. Setidaknya di luar, di dalam aku runtuh tepat waktu.
"Tumben mama kesini, mama beneran mau perawatan?" tanyaku sambil menatapnya tepat di sorot matanya yang dingin.
__ADS_1
"Boleh." Mantan mertuaku ini menyunggingkan senyum dengan aneh.
Kenapa dia? Kok jadi mirip kapas basah, lembek gini. Tapi kok perasaan ku jadi was-was dan curiga. Ih, kenapa juga kesini. Urusan kita sudah selesai, mama mantan mertua. Untuk apa masih mengganggu!