Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Tergoda aku...


__ADS_3

Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan ketika tubuh kami bersentuhan di dalam air. Rasanya radar sekss yang aku matikan dengan susah payah nyaris tiga tahun lalu kembali berkembang ketika Abimanyu menarik pinggulku untuk mendekat lebih dalam di tubuhnya. Napasku melambat, terasa dalam kulitku miliknya yang kaku.


Abimanyu melingkarkan satu tangan di pinggulku dan membiarkan bibirnya yang bekerja setelah mengumpulkan rambutku dan memindahkannya ke satu sisi, bibirnya yang ranum menciumi pundakku dengan kecupan panjang dan lembut seraya menyandarkan pipinya yang lembut di punggung. Sesekali ia menyesap rokoknya dan membelai perutku tanpa bicara seakan-akan dia sedang berpikir habis ini harus apa, apa aku keberatan, apa aku blablabla... Tubuhku menegang.


Aku menunduk, menahan getaran kenikmatan kecil yang merayap di sepanjang perut dan tulang punggungku dan melihat kaki kami di dalam air yang saling bersentuhan. Abimanyu memiliki kaki yang kokoh dengan kulit yang putih. Bekas luka saat aku membuatnya mencium aspal ku sentuh.


"Apa yang kamu pikirin waktu ketemu aku dulu, baby?" tanyaku, membelai kakinya dan berhenti di pangkal pahanya yang menegang. Aku memijatnya perlahan, Abimanyu mengigit bibirnya, matanya menggelap dan mencampakkan rokoknya ke nakas marmer.


Aku tersenyum ketika wajahnya tenggelam di punggungku dengan tangan yang meremas kedua pinggulku. Tangannya bergerak dengan kaku.


"Eli." gumamnya serak. Terdengar ia mulai kesusahan mengendalikan emosinya.


"Kamu menginginkannya?" tanyaku, memindah tangannya ke dadaku. "bilang kamu menginginkannya, baby. Lakukan saja sebisamu."


Abimanyu menangkupku, ujung jarinya membelai kulitku yang halus. Sesekali dia meremasnya dengan rikuh dan penasaran. Aku bahkan bisa merasakan dadanya mengembang, mencari udara untuk mengisi paru-parunya yang mulai sesak.


Aku bersandar di bahunya, merasakan kenikmatan yang sedang menjalari tubuhku karena sentuhannya. Aku bersenyum, membiarkan Abimanyu mencari kesenangan yang aku sukai.

__ADS_1


Tangannya terlepas dari dadaku dan menyuruhku berputar. Menghadapnya.


"Kamu suka?" tanyaku setelah merangkul lehernya.


Abimanyu tersenyum malu. Pipinya yang putih terlihat merona.


"Kamu menggodaku, Eli." katanya serak, jeraminya mengusap bibirku. Abimanyu lalu menyamankan posisi duduknya setelah aku duduk di mengangkang di pangkuan.


"Kamu tergoda? Padahal aku masih malu." kataku di telinganya seraya menciumi telinga dan pipinya. Abimanyu merinding, dia memegang pinggulku setelah menyembunyikan wajahnya di belahan dadaku. Dia terasa bergairah sekarang, tubuhnya menegaskan ia benar-benar bergelora.


Aku tergelak, pinggulku bergerak. "Kamu yang malu sekarang sayang. Tidakkah kamu tambah lucu?"


Abimanyu menatapku dengan matanya yang menggelap.


"Apa kita akan melakukannya di air, Eli? Bagaimana nanti kalo benihku pada berenang?"


Mau tak mau aku tergelak sampai perutku tegang. Tanganku menangkup wajahnya. "Kamu emang lucu." ucapku sebelum bibirku menyentuh bibirnya, Abimanyu membuka mulutnya memberikan kesempatan kami saling menikmati satu kesempurnaan hari ini. Merasakan satu sama lain sesuatu yang menguasai tubuh kami berdua.

__ADS_1


Aku menyentuh ujung miliknya dengan jari. "Kamu terlalu tegang sayang, ini bagus sekali. Kamu siap?" Suaraku rendah dan serak. Aku mendambakannya lebih dari sekedar bibir dan tangan.


Abimanyu mengangguk, aku menarik diri keluar dari bathtub. Mengulurkan tangan untuk mengajaknya ke kamar. Kami bergandengan tangan seperti kekasih yang sedang di mabuk cinta.


Di pinggir ranjang, ia tersenyum lebar ketika aku menyentakkan diri ke kasur dengan posisi terlentang.


"Do it baby, i wanna play this game!" Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku yakin jika aku melihatnya dalam keadaan bergairah, dia akan malu dan ragu.


Abimanyu merangkak ke atas tubuhku. Dia menopang berat badannya dengan satu tangan dan merenggangkan kakiku dengan kakinya.


"Ini dia, Eli. Kerang lunak yang tak memakai cangkang." Suaranya terdengar sensual. Jemari Abimanyu membelai tubuhku seperti orang penasaran dan berhenti. "Milikku", Abimanyu mendesak tubuhku dengan hati-hati. Pinggulku bergerak, situasi menjadi tambah liar ketika semua berubah menjadi penyatuan yang terlalu kuat dan mendamba lebih dalam.


Kukuku mencengkeram sprei, melihatnya begitu sempurna di atasku dengan caranya yang naif dan penuh rasa penasaran membuatku tersenyum hangat.


Aku mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Dia terharu, dia bangga dan dia merasa suatu hal yang sama akan terus terjadi dalam hidupnya setelah hari ini.


Abimanyu menjatuhkan dirinya sebelahku setelah otot-otot di tubuhnya melemah.

__ADS_1


"Aku harap habis ini kita nggak masuk angin, Eli." katanya tersengal-sengal. Aku memeluknya di atas sprai yang basah dengan tubuh kami yang berkeringat.


...**********...


__ADS_2