
Bab 16 - Jerat Cinta Bella Eliss
.
.
.
Aku terperangah seperti baru saja mendengar kabar istriku akan melakukan persalinan. Perasaan ini sulit dilukiskan dengan kata-kata. Aku disergap perasaan senang yang aneh. Napasku bahkan tertahan sampai ingin meledak rasanya.
Aku bangga melihat Bella menaruh tas besar yang menyimpan segala jenis penunjang pekerjaan dan penampilan di meja yang sama. Meja meeting yang di penuhi lima komputer pangku dan semuanya menyala. Namun otak sejuta prestasi, tubuh seksi, dan sepatu tumit tingginya membuatku kesulitan menahan rasa ingin tahuku kenapa dia datang.
Aku menyongsong kedatangannya dengan napas bak habis melakukan lompat tali.
"Sayang, kenapa di sini? Kamu mau main sama Tante Regina?" tanyaku setelah menangkup wajahnya, sekilas aku melirik Tante Regina, dia memutar mata.
"Lebih dari main Abi. Aku—"
"Kamu masih mikirin Putri, terus ke sini buat tanya-tanya?" sahutku memutus kalimat Bella.
"OMG..." Ironi kembali terjadi dalam hidupku, Bella ikut menangkup wajahku lalu mencondongkan tubuhnya sampai hidung kami bersentuhan. "Kita akan menjadi partner kerja, baby. Aku executive managermu yang baru! Gimana? Happy or sad?"
__ADS_1
Aku menyalami tangan Bella dengan takzim sebelum pindah ke kursiku, duduk dan melipat kedua tanganku. Aku belum mengerti rencana apa yang mereka inginkan. Bella, executive managerku yang baru? Apa dia masih kekurangan pekerjaan sampai-sampai berminat menjadi pengatur jobku. Edan, ini bener-bener edan. Dia ini sinting atau bucin banget sih.
"Senang menjadi bagian dari kalian. Sebagai salam pertama... Maafkan aku terlambat datang. Ada urusan pribadi yang fyuhhh... Anakku marah dan harus merayunya baik-baik, satunya lagi aku bangun kesiangan. Suamiku yang lucu itu pasti sudah menjelaskan alasannya." Bella menunjukkanku lalu tersenyum.
"Hai baby, susah berkata-kata ya?" godanya dengan tampang bercanda. "Maafkan aku sudah bikin kamu diam seribu bahaya, tapi aku akan menjelaskan. Tawaran ini datang sebagai jalan keluar dari keinginan yang kamu inginkan dan aku bersedia menerimanya karena kamu. Tapi tentu, aku akan profesional dan kamu bisa berdiskusi padaku bagaimana caranya kerja, keluarga dan our desire tetap seimbang. Setuju?"
"Memang aku punya jawaban lain?" sahutku lemas. Belum sempat ngopi dengan santai aku ini, tapi pagi-pagi sudah kena labrak anak dan ulah istri yang bikin aku kalang kabut.
"Jangan gitu dong sayang, aku sudah profesional. Kalo kamu ngambek aku lagi yang repot." Bella mengelus rahangnya dengan gerakan sensual. "Jangan kura-kura dalam perahu baby, aku kan yang kamu inginkan?"
"Stop!" sergah mas Jeremi cepat. "Jangan bikin ruangan ini jadi tempat tidur kalian! Ngerti?"
"Ini baru pemanasan mas, jangan kaget gitu dong pemanasan itu perlu tau biar nggak kaku!" sambung Bella sambil mengusap bahu mas Jeremi "Santai ya."
"Bell..." Tante Regina menimpali. "Serius, waktu nggak mungkin diam lihat keromantisan kalian sekarang! Back to the poin." ucapnya serius.
Karena tak ingin melihat semua orang mengepulkan dengusan kasar sampai hati dan jantung terbakar emosi Bella mengangguk. Ia mengambil komputer pangku di tas besarnya lalu menghidupkannya.
"Oke, aku akan mendengar dan mencatat semuanya. Detail-detailnya yang lengkap, oke mas Jeremi?" Bella mengusap lagi bahunya senyum terbaiknya.
Mas Jeremi mengangkat pantatnya, lalu laptopnya dan pindah tempat saking tidak ingin ketularan tidak waras seperti Bella.
__ADS_1
Aku mengulum senyum. Indah sekali perempuan yang sedang memandang layar laptop serius. Jemarinya yang lentik dengan gesit mencatat apa saja yang diucapkan mas Jeremi. Namun, ini yang paling aku suka. Sebagai wanita multitalenta, ujung depan sepatu tumit tingginya mengusap-usap tulang keringku. Ia meningkatkan senyuman di bibirku sampai memancing mata semua orang menatap kami bergantian dan mulai curiga.
Mas Jeremi melongok ke bawah meja. "Ya Tuhan, jadi nggak yakin Abimanyu bisa elo urus, Bell!"
"Aku benci orang yang meragukanku, Jeremi." Bella menutup laptopnya sambil menyudahi gesekan sepatunya di tulang keringku. "Aku bisa mendapatkan informasi dari input data come and join milik Abimanyu dengan semua perusahaan entertainment darimu sementara untuk ngelobby Abimanyu dan semua pekerjaannya bisalah. Nanti kita ketemu dan ngobrol lagi karena seperti yang kita ketahui, tidak boleh ada dua nahkoda."
Maka berdasarkan perjanjian yang aku dengar dari semua executive manager dan Tante Regina baru saja dengan keadaan serius dan tegang, Bella akan mulai bekerja mulai hari walaupun aku tidak tahu dia benar-benar bekerja atau hanya sebatas formalisme pekerjaan.
Tante Regina bertepuk tangan sehabis istriku yang luar biasa menandatangani kontrak kerja. "Luar biasa, senang bisa bekerja sama denganmu darling."
Kedua wanita superior itu berdiri, saling menyalami kuat-kuat sebelum berpelukan. Mereka bergoyang-goyang mengikuti irama lagu yang baru saja di putar dari komputer pangku Mas Jeremi.
Aku terpana, sekali lagi persembahan Bella Eliss sangat pas dan mencekek kebebasanku. Tapi aku tak ambil pusing soal keputusannya sekarang. Beliau paling senior di rumah menjadi nahkodaku. Mau tak mau, semua yang dia lakukan akan semulus kulitnya dan rasa cemasnya akan berkurang.
Aku tersenyum, menyambut tangan istriku yang terulur di depan wajahku. Aku mengecupnya. "Mercy, nyonya Bella." ujarku sungguh-sungguh.
Bella menarik ujung gaun merah mudanya lalu melebarkannya dengan satu kaki yang tertekuk ke belakang seperti seorang pendansa.
"Senang melayanimu, Ian."
......................
__ADS_1