
Bab 2 - Memilihmu
.
.
.
Senyum tipis mengembang di bibirku ketika mobil kesayangan Neo menjauh dari garasi rumah. Dua kekasih kecilku sudah pergi ke sekolah yang berarti aku yang merasa gejolak masa mudaku menggebu-gebu mempunyai waktu luang dengan istriku yang mencurigakan.
Aku menarik daun pintu dan menguncinya, setelah kujamin rapat dan privasi rumah ini terjaga aku bersiul-siul melewati ruang tamu.
Bella pasti minta jatah! Hiks.
Tetapi, siulanku yang seperti musim burung kawin berhenti di depan anak bi Marni yang tersenyum-senyum sendiri melihatku.
"Kenapa, Mbak?"
"Mas Abi mau disiapkan sesuatu sebelum ke atas?" tanya anak bi Marni yang menungguku di depan tangga.
Aku menggeleng sambil tersenyum lebar. Seperti biasa, pulang kerja dan memendam semua hasrat yang terpendam dengan istriku yang masih terlalu sempurna dan seksi untuk dibiarkan saja, lantai atas harus steril dari orang lain kecuali dia yang sampai aku selesai sarapan tidak segera datang.
"Tidak ada!" Aku menggeleng, "tapi nanti habis jemput anak-anak ajak mereka ke mal dulu ya Mbak, sejam dua jam, aku butuh waktu lama dengan wanitaku!" Aku menaik-turunkan alisku seraya berlalu.
Anak bibi Marni pasti paham dengan maksudku, lagipula aku sangat membutuhkan Bella. Dia adalah perempuan yang mengajariku banyak kegiatan-kegiatan yang menyulut rasa ingin tahu lebih banyak atraksi-atraksi di tempat tidur yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya tetapi sesekali mampir dalam imajinasiku.
__ADS_1
Bella, si perempuan malu-malu yang sangat bergairah.
Pertemuanku dengannya di atas aspal jalanan di pagi hari ketika aku lulus SMA mengubah pandanganku tentang calon wanita idaman. Tubuhnya indah, caranya perhatian dan sikapnya yang dewasa tapi konyol membuatku memikirkannya.
Pernah aku membayangkan berteman baik dengannya. Menjadikannya satu teman dewasa yang bisa memberiku gagasan lain dari sudut pandang perempuan yang telah menyesap pahitnya kopi dan manisnya madu serta mantan suaminya dulu. Tapi justru aku yang menjadi bagian dari teman-teman sosialitanya. Geng kemayu yang berisi sekelompok tante-tante gembira banyak uang, banyak rezeki dan banyak pengalaman liar yang baru aku ketahui setelah mengenal mereka.
Jiwaku jadi terguncang setelah mengetahui siapa Bella Ellis sesungguhnya meski aku menyukai caranya menjadi wanita perfeksionis. Namun, usaha itu hancur di mataku. Aku bisa melihat serpihan-serpihan kerapuhan dalam balutan gaun mahal dan make up sempurna di tubuhnya. Dia seperti banyak perempuan lainnya, perempuan yang ingin di sayangi, di dengar dan di miliki secara utuh meski topeng yang dia kenakan adalah topeng khas perempuan tangguh.
"Baby..." Aku mendorong daun pintu kamar bercat hijau tua agar lebih terbuka. Bella yang masih menggunakan piyama menyandarkan bahunya di pintu lemari sambil berbicara dengan seseorang entah siapa.
"Aku bisa, tapi aku nggak mau. Apa yang aku handle udah banyak banget, aku udah sibuk banget parah..." Bella menghela napas panjang, seperti membuang kelelahan di kepalanya. "Anak-anak butuh aku di rumah. You see? Mereka hidupku sekarang, mana mungkin aku ninggalin mereka demi ngurusin rakyat!"
(....)
Mendadak Bella menggertakkan kedua kakinya dengan sebal lalu menggeram. Alisku terangkat, dia kenapa?
Aku menunggunya mendengar penjelasan siapa pun orang yang berbicara dengannya sambil melepas celana panjang jins dan kaos panjang. Baru setelah aku hanya memakai boxer aku mendekat lalu mengusap rambutnya.
Bella terkejut, kepalanya menoleh lalu meringis dengan aneh.
"Ntar sambung lagi, aku punya kerjaan lagi nih———yang ini bagus, elahhh... Gak usah tau, ah berisik. Dasar tukang maksa!" omelnya bak artis-artis yang tidak mau diwawancarai.
Aku tersenyum melihatnya menaruh ponselnya di meja rias. Lalu berdiri, dia menatapku sambil mengikat rambutnya dengan kedua tangan, senyumnya yang kadung menakjubkan membuatku ingin sekali mengurai tali pinggang piyama dan menyibakkannya dengan sempurna.
"Udah lama? Anak-anak udah berangkat?"
__ADS_1
Tanganku terulur ke lehernya, lalu menariknya dengan lembut mendekat ke wajahku. Bella tersenyum lebar lalu memalingkan wajah dengan pipi yang tersipu.
"Bisa nggak bahas itu nanti?" tanyaku.
Bella tertawa dengan intonasi ganjil, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Kepalaku mendekat. Napas kami saling membaui. Hangat terasa di wajah kami sementara tangannya melingkari pinggangku lalu memelukku.
"Kangen ya?" Matanya menelan seluruh wajahku dengan pengharapan.
Aku melesakkan balas dendam atas nama rindu ke bibirnya. Jelas saja aku kangen dengan perempuan yang membalas ciumanku sama terlenanya seperti diriku sambil memejamkan mata.
Semangatku melesak saat ia merapatkan diri ke tubuhku dengan pelukannya yang mendominasi. Tubuhnya memancarkan kehangatan, mengurangi kekosongan yang terjadi selama sebulan tanpanya.
Aku mengusap rambutnya lalu membimbingnya ke tempat tidur.
Bella tertawa teesipu setelah terhempas ke sana dengan posisiku di atasnya. Aku tersenyum lalu menarik ikat rambutnya yang tidak penting. Aku menyukai rambutnya yang tergerai bebas, yang bisa menempel di mana saja ketika berkeringat dan aku jadi punya kesibukan merapikannya.
"Kamu mau mengintipku, Abi?"
Lampu kamar menjadi temaram, remote control aku kembalikan ke tempat semula. Aku menunduk, menempelkan keningku di keningnya.
"Full naked, baby!" bisikku di telinganya.
Bella menjerit dan tertawa lepas. Dia memukul dadaku dengan lembut. Aku seketika bangkit, dengan cepat melepas semua yang menutupi tubuhnya yang seksi dan terawat.
"Hal terindah yang aku miliki..." Tubuhku melesak ke dalam tubuhnya.
__ADS_1
Bella mengigit bagian bibir bawahnya sambil mencengkram lenganku, membiarkanku bermain dalam irama yang kami sukai sampai pagi menghilangkan digantikan panas yang menyebar ke seluruh tubuh. Dari luar, hingga dari dalam.
......................