Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Rasa


__ADS_3

Harusnya aku juga perlu mewanti-wanti diriku sendiri agar bergegas mengganti bajuku di rumah dan berendam air hangat yang menenangkan sambil menikmati aroma terapi lavender yang membuatku ingin berlama-lama membenamkan tubuhku di dalam air. Tapi kata hati yang keras kepala justru membawaku ke depan rumah besar nyonya Elma.


Megahnya bangunan bertingkat tiga yang di penuhi kaca-kaca bening dan gorden raksasa itu tetap tampak angkuh bagiku. Siapapun yang hendak masuk ke rumah ini pasti harus melewati pemeriksaan yang rumit. Tapi tidak masalah.


Kataku sambil menangis berderai di depan gerbang rumahnya yang tingginya menjulang ditemani rintik-rintik hujan. Apa kabarmu papi? Apakah cctv dirumahmu menangkap kehadiranku malam ini. Apa penjaga di rumahmu mengatakan aku datang sambil hujan-hujanan? Semoga iya biar kamu tidak tenang ketika menatio masa-masa persiapan pernikahan ketigamu terjadi.


Aku tersenyum sedih di dalam selimut tebal yang membungkus tubuhku. Aku pikir kehujanan juga membasuh lara hatiku. Tapi ternyata bohong. Akhirnya, mari aku sederhana. Aku masuk angin, pusing tujuh keliling, perut mual, gak doyan makan dan hidungku meler. Ada ingus yang keluar ketika aku bersin-bersin.


"Bi... Bibi." panggilku dengan suara serak, bahkan suaraku yang manis manja hilang tergantikan oleh suara bindeng yang mengenaskan sekali. Alexa Liu jika mendengarnya pasti ketawa mengejek apalagi kejadian semalam yang menjadi penyebab masuk anginnya diriku.


"Bibi Marni. Bibi, sayang aku. Aku haus, aku jomblo. Tolong kesini sebentar." teriakku setengah mati sampai tenggorokku terasa sakit.


"Bibi kemana sih? Ngerumpi sama tukang sayur apa ya?"


Dalam hati, kesedihan langsung merayap di benakku. Jika sendiri seperti ini dan sakit, aku kangen mama dan papa, aku kangen cara papa khawatir, aku kangen cara mama menyuapiku dengan telaten meski sambil ngomel-ngomel.

__ADS_1


Kumpulan rasa sesak langsung terjadi di dadaku, aku berguling dan menjatuhkan diri di karpet. Rasanya sakit, tapi tak sesakit kehilangan seseorang yang aku sayangi. Aku kehilangan semuanya, kasih sayang dan orang-orang yang perhatian sama aku.


Mati-matian ku tahan air mataku sambil tertatih-tatih keluar kamar.


Matahari terlihat menerobos masuk lewat jendela, menyinari ruangan yang kini sunyi. Hanya suara cicak dan tokek yang kadang-kadang menyapaku waktu malam. Tapi yang lebih parah suara token listrik yang sudah limit. Aktivitas biasa yang aku lakukan di rumah ini terasa berubah. Ruang-ruang menjadi senyap, tertutup, tapi semoga tidak angker.


Pokoknya menyedihkan sekali hidupku sekarang, itulah satu sebab aku lebih suka di klinik. Banyak teman di sana, banyak orang-orang yang aku temui meski hanya berdasarkan hubungan bisnis.


Aku membuat teh hangat lalu menarik dalam-dalam ingsuku yang hampir keluar. Ku buka pintu belakang dan berjemur. Hangatnya matahari pagi ini ternyata tak membuatku merasa lebih baik. Aku semakin bersin-bersin.


Bibi Marni menaruh barang belanjaannya dari pedagang keliling ke atas rumput. Ia berjongkok, membuka kantong belanjanya dengan muka teliti.


"Nyonya makan bubur dulu, ayo bibi temani. Habis itu baru bibi buatin sup ayam." janji Bibi Marni mengambil buburnya sendiri di kantong belanja lalu duduk di kursi satunya.


Aku yang tak nafsu makan hanya beberapa kali menyuapkan bubur ke mulutku sebanyak lima kali. Rasanya hambar, seperti ada yang kurang.

__ADS_1


"Aku kangen mama sama papa, bi." kataku sambil mendongkak, awan putih beriringan, bergumul dengan tenang menutup sinar matahari.


"Rasanya pengen nangis kalo lagi sakit gini. Sakit semuanya, bi. Luar dalam. Gak ada yang intens jagain aku. Mana papi bakal nikah sama Debora. Sedangkan aku sendiri. Gak adil banget rasanya Tuhan ngasih cobaan ini semua ke aku berturut-turut." keluhku dengan nada tercekat.


"Udah to, nyah. Sudah. Jangan terus-terusan meratap seperti ini. Bibi jadi ikut sedih, ini lho dada bibi nyah ikut ganjel kalo nyonya murung terus seperti ini." Bibi Marni menaruh buburnya ke atas rumput. Lalu menyingkir wadah bubur dari genggaman tanganku.


"Tolong nyonyah sehat-sehat, nyonyah hepi-hepi dan tetap gaya. Bibi lebih senang nyonyah seperti itu daripada jelek kusam seperti ini. Gak keren gitu, gak seperti nyonya Bella yang dulu."


Bibi Marni menggenggam tanganku lebih erat dengan mata yang berkaca-kaca. Wataknya yang penyayang dan slalu menjadi kritikus penampilan ku ini tersenyum sedih.


"Nanti bibi temani ke makan ibu dan bapak, tapi nyonya sekarang harus sehat makan yang banyak dan istirahat!"


Kata-kata sepele itu terdengar asing di telingaku tapi sekarang rasanya semua jadi hangat karena matahari juga kembali menyorot halaman belakang dengan sinarnya yang benderang.


"Bibi kalo pergi jangan lama-lama, jangan jauh-jauh. Jadi kalo aku panggil bibi denger." pintaku sambil mengecup punggung tangan bibi Marni. "Tenggorokanku sakit tadi malam habis makan ramen pedes, dan makasih bibi sudah betah disini. Jangan pergi."

__ADS_1


Dan kami pun menangis bersama sambil berpelukan. Senada seirama seperti ada sesuatu yang bergolak di dalam sana yang ingin kamu keluarkan. Rasa, saling memiliki yang kini aku pastikan bibi Marni menjadi tempat singgah dari setiap keluh kesah dalam hatiku. Tempatku pulang dan mengadu bagaimana hariku melaju. Sebab di antara pilihan yang jelas-jelas tidak ada—karena papa dan mama anak tunggal—wanita renta ini yang paling bisa memahami aku seperti mama. Love, bibi Marni dari Bella Ellis yang patah hati.


__ADS_2