
Bab 17 - Dekat Seperti Nyawa
.
.
.
Gairahku meletup. Senyumannya seperti ajakan untuk bercinta. Seperti yang sudah aku bayangkan Bella slalu memberikan yang terbaik. Tapi lagi-lagi aku kalah, kalah dalam membuktikan bahwa aku bisa Bella.
Aku bergerak, kursi kerjaku mundur dan membentur dinding. Aku memeluk pundaknya lalu mencium pipinya lumayan lama di ruang meeting yang hanya tinggal kami berdua.
"Kamu beneran harus turun tangan seperti ini?"
"Aku hanya makhluk yang tidak sempurna sebelum bertemu denganmu Abi, dan kamu yang menyempurnakanku. Dengan seperti ini, sepertinya kerja sama kita tidak akan pernah usai dan semoga bisa lebih mudah bagi kita untuk kembali."
Aku mengenggam kedua lengannya.
"Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan denganmu dan memenuhi kesukaanmu, tapi aku sangat beruntung memilikimu."
Bella memasukkan komputer pangkunya ke tas besarnya yang sudah mirip tas belanjaan.
"Aku harus pergi ke klinik bentar untuk ketemu tamu vip, terus ke kantor sambil cari vendor buat ulangtahun Ollie. Kamu jangan lupa hadiah buat our princess." Bella mendongkak, mencium rahangku. "Duluan ya, urusan Putri kita tunggu kabar dari Regina."
Aku mengantarnya sampai di pinggir halaman parkir Angkasa Management lalu bergeming melihat mobil istriku menjauh. Aku tersenyum sambil memasukkan kedua tanganku ke saku celana. Andai dulu aku menyerah pada kekuranganku dan tidak berusaha mencari lebih detail siapa dirinya, pasti aku menyesal dan satu hal yang aku mengerti. Bukan Bella yang bertekuk lutut padaku, tapi aku yang menjeratkan diriku padanya. Mengekangkan diri pada cinta dan kenikmatan.
***
__ADS_1
"Aku di Starbucks, ke sini bentar!" jawabku dari telepon Nadine. Dia tertawa renyah tanpa mematikan sambungan teleponnya sementara ponselku di meja. Aku menyempatkan diri untuk ngopi sebelum melakukan letupan kimia sepasang manusia dengan Nadine.
"Kak Ian belum masuk ke grup chat dsn?"
Dsn \= Dekat Seperti Nyawa. Judul karya seni kreatif digital yang akan kami bintangi nanti. Dan sebagai karakter guru olahraga, aku harus mempelajari basic keolahragaan. Itu yang aku lakukan sekarang—membaca buku yang kubeli di toko buku terkemuka—sambil meneguk kopiku lalu mematikan sambungan telepon. Aku akan menjawabnya nanti setelah tampang bocah belasan tahun itu ada di depan mataku.
"Kak..." jerit Nadine dari kejauhan sambil mengangkat tangan kanan. Wajahnya tak jauh berbeda dari sinar matahari di luar mal. Cerah.
Aku memandanginya berjalan ke arahku sambil tersenyum. Aku juga sedang tidak bisa menyembunyikan wajahku setelah Bella mengirimku foto dirinya yang menggunakan jas putih dokter. Pintar tapi sedikit, sudahlah... Aku bisa kualat pada beliau jika meledeknya sinting.
"Kak Ian nih ya benar-benar, belum juga selesai ngomong udah dimatiin aja." omel Nadine, menarik kursi di sebrang meja. "Aku pesan kopi dulu sebelum jalan boleh kak?"
"Sure." Aku menutup buku lalu memasukkannya ke tas. "Anak-anak yang lain nggak ikut gabung?"
"Oh nggak kak, kemarin waktu di mal sepakat intens chating aja, terus lebih ke saling percaya kalo besok bisa saling support dan kerja sama. Makanya kak Ian kok belum join? Anak-anak yang lain pada nanyain lho."
Seorang pelayan mencatat pesanan yang Nadine tunjuk dari kertas menu lalu pergi.
"Aku lebih suka sharing hal apapun secara langsung. Jadi Nadine kalau kemarin aku menolak adegan ciuman, kamu mau request apa buat kenyamanan syuting besok?"
Nadine tampak pikir-pikir sampai hidungnya mancungnya kembang-kempis. Nadine menggeleng.
"Nggak ada sih kak, sesuai skrip yang udah ada aja. Aku juga lagi belajar akting, banyak yang harus aku pelajari. Cuma apa kakak udah punya cewek? Aku mau minta izin dulu deh kalau ada, takutnya nanti ada yang ngambek. Terus nanti kalau aku gerogi kakak jangan ketawa ya. Kakak bantu aku."
Sesuai dugaanku. Dari kemarin-kemarin juga dapatnya yang seperti ini, manis, nurut, malu-malu, dan minta dimengerti kecuali lawan main di film horor. Semua badas. Tidak ada satupun adegan romantis yang bikin jantungku atau jantung Bella seperti di diskotik.
"Punya cewek atau nggak itu sudah jadi risikoku Jadi santai aja." Aku mengangguk, lalu meneguk kopiku sampai habis bersama dengan datangan capuccino dingin milik Nadine.
__ADS_1
"Mau jalan aja biar santai ngobrol?" tawarku, aku tidak ingin keberadaanku yang santai-santai di kedai kopi dengan seorang gadis yang belum terkenal di dunia hiburan menjadi bahan gosip. Makanya aku menenteng sktrip dari mejaku untuk di lihat orang-orang yang melihatku baik pura-pura atau sengaja.
"Boleh kak, boleh. Sambil cuci mata."
Nadine berjalan di sampingku dengan sedotan yang masuk ke mulutnya.
Sebenarnya, jalan-jalan di mal juga menjadi bagian dari usahaku untuk mencari kado ulang tahun untuk Ollie. Mataku mencari-cari dengan ke sembarang arah. Aku bingung harus memberinya apa karena semua sudah ada di rumah.
"Kak Ian lagi nyari sesuatu?" Nadine mencegat langkahku sambil merentangkan tangan. Dia memicingkan mata.
Aku tertawa, sulit rasanya untuk terus-menerus bersikap aku tidak kebingungan dan aku bersumpah pada diriku sendiri untuk tidak bertindak ceroboh. Tapi aku benar-benar pusing dengan kado yang harus aku siapkan.
"Oke." Aku mengangkat bahu. "Aku lagi cari kado ulang tahun untuk anak kecil. Perempuan, lima tahun, manis, matanya indah, dan dia punya cita-cita seperti ibunya. Dokter kecantikan! Kamu punya ide?"
Nah, salah satu efek dari berbagi kebingungan adalah Nadine ikut bingung. Ia mengetuk-ngetuk dagunya lalu melihat ke segala penjuru mal sambil mikir.
"Ah!" Nadine menjentikkan jarinya. "Anak kecil lima tahun biasanya nggak peduli kak mau di kasih kado apa. Yang penting bawa kado dan hadir. Gimana masuk akal bukan pendapatku?"
Ya Tuhan, segampang itu membuat solusi seolah Nadine belum mempunyai beban hidup. Aku menepuk-nepuk kepalaku, isinya pasti Bella–kebingungan–Bella–jadwal kerja dan kembali ke Bella lagi.
Aku menatap Nadine penuh canda sambil memberikan secercah senyum lega. "Makasih. Itu sangat membantu."
Nadine mengangguk simpatik. "Kak Ian mau dibantu nyari juga? Aku tau tempat penjual aksesoris cantik dan lucu-lucu. Sekalian aja nanti ke toko baju, kita cari warna yang serasi. Biar kita juga semakin akrab kak!" ucapnya antusias.
Aku mengangguk setuju, ini jauh lebih baik daripada aku harus mencari sendiri hadiah untuk Ollie. Bisa-bisa tidak sesuai prediksi seperti kebanyakan bapak-bapak yang tidak tahu selera, trend, apalagi ukuran bisa mengacaukan semuanya yang kupikir dengan susah payah sendiri sampai dua jam kemudian setelah mengelilingi mal, tanganku di penuhi tali tas belanjaan.
Nadine tersenyum gembira. "Seneng banget, semoga Ollie suka dengan kado pilihan kita kak!"
__ADS_1
Aku mengangguk kuat-kuat. Semoga ya, Bella nggak curiga aku mendapatkan semua ini dari bantuan siapa.
......................