
Bab 9 - Pagi Yang Menakjubkan
.
.
.
Aku mengedarkan pandangan, mencari-cari alternatif bagi situasi kami di ruangan penuh pernak-pernik khas dunia industri hiburan. Situasi memang penuh keheningan setelah Bella yang tetap mendominasiku di depan orang-orang dewasa mengutarakan niat hati kami berdua.
Tante Regina selaku tim geng kemayu dan pemilik Angkasa Management mengernyit sambil bersedekap. Dia menatapku dan Bella bergantian. Meski dia sudah kepala lima semua anggota geng kemayu slalu dalam kondisi sempurna dari atas ke bawah. Tidak ada yang rapuh dari penampilan mereka kecuali di dalam hati.
Aku mengenal Tante Regina sebagai seorang ibu dua anak, semua anaknya sudah menikah. Suaminya seperti kebanyakan wanita-wanita dewasa yang aku kenal, meski berada di rumah isi kepalanya berada di kantor. Nggak heran dia lebih suka kerja dan party.
"Aku nggak akan protes dengan apapun yang kalian inginkan sekarang dan aku akan maklum. Tapi dengar." Tante Regina memincingkan mata lalu menatap kuku-kukunya alih-alih menatapku dan Bella.
"Abimanyu masih punya kontrak dengan Angkasa Management dua tahun lagi dan selama kontrak kerja belum selesai, Abimanyu masih harus mematuhi peraturan dari kami. Tidak ada skandal yang merusak citranya sebagai aktor terbaik kami seperti yang sudah dia tanda tangani."
Kevin memutar tablet yang berada digenggamannya lalu menunjukkan layarnya padaku dan Bella tepat di bagian wajah.
"See?" Kevin menyuruh kami melihatnya. Aku melihat surat kontrak yang aku setujui sembilan tahun silam dalam bentuk digital. Aturan pertama yang aku ingat memanglah yang diucapkan Tante Regina.
Bella meremas pahaku sambil tersenyum hangat. Parasnya terlihat tenang dan masih bisa aku katakan dia masih dalam keadaan tidak mau ngomel-ngomel.
"No problem." ucap Bella, "tapi sebagai aktor terbaik kalian dengan bayaran tertinggi apa tidak ada hak istimewa bagi Abimanyu selain uang?"
Tante Regina mengangkat tatapannya lalu tersenyum lebar saat keduanya bertatapan dengan serius. Bella menarik sudut bibir kirinya lebih tajam
lalu mengembuskan napas. Keduanya saling menyandarkan tubuh di kursi kerja dengan kaki yang disilangkan. Tatapan mereka beradu meski mulut masih terdiam. Aku yakin, lamanya persahabatan yang terjalin, mereka sanggup menemukan jalan pintas yang sama-sama menguntungkan. Sementara aku yang tetap duduk tegak si kursi hanya bisa menjadi penonton.
__ADS_1
Tante Regina mengetuk-ngetuk meja dengan alis terangkat sebelum tatapannya pindah ke mataku. Aku meringis. Walaupun geng kemayu dia punya aturan main dalam bisnis yang tidak bisa diusik siapapun.
"Kamu nggak akan pernah jadi seperti ini kalau bukan karena kontribusi Bella dan kami dalam membesarkan namamu di dunia hiburan." ucap Tante Regina serius dengan nada memperingati. "Selesaikan kontrakmu dengan baik-baik, maka keinginanmu akan menjadi milikmu tanpa merusak citramu dan nama baik Angkasa Management!"
Aku menatap Bella, meminta persetujuannya. Bagaimana pun Bella seperti kakak bagiku yang banyak pertimbangan bagus dan cerdik. Dia tersenyum lalu menyela usulan Tante Regina.
"Ini bisnis bukan balas budi, Darling. Ngomongin bisnis, kalian juga sama-sama diuntungkan dengan bakat Abimanyu. Bakat murni bukan bakat asahan." ucap Bella.
"Kita sama-sama tau bagaimana dia tumbuh dan berusaha untuk memberi yang terbaik bagi kalian, termasuk bagi kehidupan rumah tangga kami sendiri. Dan kita membicarakan ini bukan soal pekerjaannya, aku menyukainya sebagai pekerja seni. Aku slalu jatuh cinta padanya dalam setiap karakter yang berbeda-beda, tapi ini soal keterbukaan hubungan kita di depan umum." Bella melemaskan otot-otot di bahunya seraya mendesah lelah.
Mata Tante Regina berpindah-pindah dari Bella ke aku. Dari tatapannya aku bisa melihat banyak pertimbangan, dan aku menatapnya penuh harap. Bella adalah hidupku, mereka tahu delapan tahun perjalanan rumah tangga kami bagaimana. Seperti mendaki gunung dan mendapati kabut sepanjang perjalanan.
Kami mengalami kesusahan dan kelelahan di bagian-bagian yang licin dan terjal, lalu suara alam dan ancaman dari hewan buas seperti gosip yang beredar. Menjatuhkan kami, membuat kami bertengkar, takut, dan kembali saling bahu membahu sebelum mencapai puncak.
"Gini aja deh, Bi. Nanti siang kamu udah meeting sama rumah produksi untuk projek baru selama dua bulan ke depan. Ada image yang sudah melekat sama kamu. Nggak bisa kalau tiba-tiba ada selentingan kabar elo balikan sama Bella karena masalahnya sejak awal gue udah ngasih saran jangan pakai nama anak-anak kalian dengan nama keluarga besar. Ini yang paling berat buat diluruskan." Tante Regina membuang napas panjang.
"No!" sahut Bella dengan
menggeleng cepat. "Nggak ada yang sia-sia dari usaha kita untuk sampai di detik ini, Gin. Kami menjadi keluarga, setidaknya itu yang bikin kami bertahan. Kamu ngerti kan?" dia bertanya, meski wajahnya terlihat menuntut.
"Absolutely, Bella." Tante Regina melirik jam tangan. "Gini ajalah, ntar malam gue datang ke rumah kalian. Buat bahas ini lagi karena gue juga sayang sama kalian. Tapi—"
Semua mata kini tertuju padanya dengan serius. "Jangan bikin keributan apalagi ciuman di tempat umum! Gue nggak mau karir Abimanyu hancur sekarang, please. Dia milik elo Bella, selamanya milik elo tapi kontribusinya bagi dunia hiburan udah nggak di ragukan lagi, sayang kalau langsung berhenti dan jadi bisnisman. Lagian kalian masih tidur serumah."
Regina berdiri, dia memutari mejanya lalu memeluk istriku yang ikut berdiri sambil merentangkan tangan.
"Berlagak seperti orang yang baru pertama kali ketemuan setelah bertahun-tahun pisah. Elo bisa kan?"
Bella mengangguk samar sambil mengurai pelukan meski kedua tangan mereka masih saling memegangi lengan.
__ADS_1
"Easy for me, but not for my husband. Dia lagi berusaha menjadi seorang ayah yang mencintai keluarganya. Just it, no more lies, Regina." kata Bella menegaskan.
Tante Regina membalas tatapan tahu-sama-tahu, kepalanya mengangguk.
"Pelan-pelan sambil kita cari celah yang bagus buat bikin yang udah-udah nggak berdampak buruk, Bella. Bisnis dan profesimu juga kamu pertaruhkan, darling. Makanya aku juga minta kerjasama dari kalian berdua biar semua enak kerjanya."
"Iya." Bella mengangguk. "Nanti kita bicarakan lagi, yang penting poin hari ini udah dapat."
Tante Regina mengangkat kedua tangannya seolah tanda cukup. Ia tersenyum penuh pengertian tak seperti waktu pertama kali kita memulai pembicaraan.
"Lagian Abimanyu slalu nolak adegan ciuman bibir dari semua scene yang harusnya dia lakukan. Dia cuma mau elo, mommy paprika." Tante Regina nyengir, lalu menatapku yang termangu.
"Elo juga, Bi. Cewek mana yang lagi deket sama elo sekarang?"
Aku hanya cengar-cengir. Tidak akan menjawabnya. Tapi Bella yang melihatnya memutar mata. Sementara Kevin dan Tante Regina mengumbar senyum lebar.
"Ingat ya kamu harus membangun chemistry dengan lawan main secara alami. Lupain Bella sementara waktu di lokasi syuting, Bella juga lupa kok sama elo kalo udah kerja dan party."
Bella mengangkat kedua tangan lalu meraih tas jinjingnya dari atas meja. "I wanna go home, i wanna sleeping beauty and just waiting for you." ucapnya dengan suara tercekat sebelum berjalan ke arah pintu.
Aku meraih pergelangan tangannya dan menyentakkan tubuhnya ke dalam pelukanku. Memeluknya erat sambil mengusap-usap punggungnya.
"Aku percaya." kataku baik-baik. "Tapi kalau party sampai mabuk kayak dulu aku nggak terima."
"Aku party cuma buat senang-senang kok." akunya dengan wajah sendu. "Aku nggak lupa sama kamu apalagi mabuk."
Aku bersyukur kalau benar seperti itu, tapi mengingat lagi perasaan yang terkungkung di dalam dadanya. Tidak mungkin Bella tidak kehilangan kesadaran.
......................
__ADS_1