Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Awal bukan akhir.


__ADS_3

Aku tidak pernah membayangkan sekali pun dalam hidupku harus menghadapi Abimanyu secepat ini. Pengalaman berkencan dan berumah tangga tak ada gunakan. Di hadapan laki-laki ini aku terasa mengecil dan tidak mempunyai cukup pilihan untuk membual banyak hal.


Aku menarik paper bag yang di berikan Abimanyu. Cengirannya melebar sembari menatap layar ponselnya.


"Jangan ketawa, apalagi meledek badanku sekarang!" kataku serius, "aku akan tersinggung akan hal itu."


"Tante bahagia kemarin?" Abimanyu menaruh ponselnya di meja. Lalu bagian paling aku benci, dia terlihat nyaman melepas jaketnya lalu merebahkan diri di sofa panjang seraya menatap langit-langit rumah.


"Aku gak tau pasti alasan apa yang membuat Tante pergi waktu itu. Tapi setelah aku tau hari ini Tante bahagia dengan kondisi sekarang yang menakjubkan, itu jauh lebih baik daripada pikiranku selama ini."


Aku tersenyum dengan hati yang menghangat setelah mengeluarkan selusin coklat dari dalam paper bag. Putaran detik membawaku kembali kala Abimanyu memberiku coklat yang sama, dua tahun lalu.


"Alasanku adalah kamu!" Aku melemparkan satu coklat ke dadanya. "Semoga bukan cuma aku yang harus menjaga penampilan!"


Abimanyu melirikku sembari tersenyum lebar, ia membuka pembungkusnya seraya menggigitnya. Patahan coklat ia kunyah perlahan-lahan sembari tetap melihatku.


"Dunia hiburan menuntutku untuk menjaga penampilan, termasuk berat badan. Itulah kenapa, satu hal yang aku ingat-ingat baik-baik dari Tante Bella yang perfeksionis adalah tidak makan malam."


"Wow." Aku berdecak kagum, "sepertinya keadaan berbalik sekarang? Aku yakin kamu lebih mengerti aku, begitu sebaliknya." ungkapku terang-terangan.


"Benar." Abimanyu mengangguk, dia bangkit. Kembali duduk dengan sikap tegap. Wajahnya menjadi serius meski sebungkus coklat sudah ia habiskan.


"Mau minum dulu?" Aku menyeringai.


Abimanyu mengendikkan bahu. "Aku bisa ambil sendiri."


"Oke." Aku menyamankan posisi duduk sedetik yang meresahkan. Dia terus-menerus menatapku seakan mencerna situasi.


"Kenapa?" tanyaku, "ada lagi yang ingin kamu sampaikan, Abi? Aku harus beres-beres semua barang-barang kenangan sebelum menyambut masa depanku." jelasku sembari menunjuk kamarku. "Kamu tidur di sana tanpa seizinku!"

__ADS_1


Tangan Abimanyu mencengkeram erat tepi sofa. "Aku nunggu Tante dan berharap semerbak aroma parfum Tante membuatmu terasa dekat!"


Serius, terlihat tak main-main. Abimanyu pindah ke sampingku.


Situasi menjadi panas, sepanas sinar matahari di luar rumah.


Aku menelan ludah susah banget. Coklat tadi terasa lengket di tenggorokan. "Aku bisa terima alasannya, lanjut. Aku akan jawab semuanya kalo itu baik untukmu melanjutkan hidup!" kataku serius, aku mau dia tenang dan tidak mengusikku lagi dengan perangainya yang seperti titisan jailangkung. Satu yang ini sepertinya tidak berubah.


"Siapa Joe?"


"Joe?" gumamku. Aneh, kenapa dia tanya siapa Joe. Memang Joe kenapa?


Aku membasahi bibirku, "Sebentar. Aku butuh air. Tenggorakan ku terlalu manis, takutnya nanti yang keluar juga manis dan gak realistis."


"Seperti dulu?"


"Yes!"


Abimanyu menerima segelas air putih dariku. "Terima kasih."


"Sama-sama." Aku menghidupkan televisi, keheningan yang pekat perlahan terganti dengan suara-suara dari dalam layar televisi.


Di rumahku, ada aktor baru. Abimanyu bukan lagi bocah yang bisa aku jangkau dengan mudah keinginan, tanggung jawab dan perasaannya. Ia sudah pandai berakting, memiliki karir dan uang.


Sesaat aku ragu untuk kembali duduk di dekat Abimanyu. Mungkin dia sedang akting, atau sedang mendalami karakter untuk tabungan peran. Akhirnya aku cuma bersandar di dinding, di bawah lukisan abstrak yang papa beli di pasar loak Jatinegara.


"Joe adalah satpam yang dua tahun lalu aku tugaskan untuk menjagamu di kelab atau kafe. Semua tentang kegiatanmu ada dapat dari anak buah Sisca. Semuanya, kecuali urusan pribadi kamu."


Abimanyu tersedak, ekspresinya berubah waspada.

__ADS_1


"Well, tapi itu cuma sebentar. Setelah aku memutuskan untuk pergi dari hidupmu. Aku membawanya, sementara kamu tetap ada yang menjaga sepertinya janjiku kemarin sampai usiamu dua puluh satu tahun."


Aku tersenyum, usianya sudah legal untuk menikah sesuai syarat negara. Tapi semua sudah berubah. Tak ada lagi pohon harap, yang ada hanya melanjutkan apa yang harus di jalani setelah hari ini.


"Janjiku juga sudah selesai, Abimanyu. Yang kita sepakati sudah selesai."


Setelah mengatakan itu, aku berusaha melihat ekspresi Abimanyu yang ditunjukkannya. Tapi dia biasa saja, seakan-akan ucapan ku tidak berarti.


Abimanyu berdiri. "Ini gak adil."


"Gak adil?" tanyaku.


"Sementara Tante bisa mengetahui kabarku dari jauh. Aku tidak sama sekali. Apa itu adil?" Telunjuk Abimanyu menyentuh dadaku. Napasnya menerpa wajahku. Alisnya bertaut indah dan manik matanya memancarkan pesona dewasa yang membuatku tidak bisa mengalihkan tatapan. "Tante tau apa yang aku alami, apa itu cukup memuaskan? Apa tidak ada yang sakit di dalam sini? Sakit sepertiku?"


Aku menggenggam jemarinya. "Aku sakit, aku kehilanganmu, tapi perempuan akan jauh lebih sakit tanpa kepastian. Kamu ngerti? Memilih pergi, mencari jawaban dan menghindar dari semua yang tidak aku inginkan adalah keputusan dari keputusasaaan. Kamu bebas, aku pun sama, tidak ada ikatan apapun dengan hubungan ini jadi jangan di persulit."


"Oke." Abimanyu melepas tangannya dari genggamanku. "Masih sama, keras kepala dan gengsi."


"Tidak!" sanggah ku, "Aku hanya menyelamatkan mu dari stempel laki-laki tidak setia! Harusnya kamu berterima kasih padaku, sialan."


Abimanyu menolehkan kepala sambil meringis geli. Dia menganggukkan kepala setelah aku menggerutu.


"Oke Tante, aku berterima kasih atas usaha Tante yang bikin aku dan Brigitta putus. Baik banget emang Tante satu ini, terima kasih." Abimanyu mencubit kedua pipiku. "Gemes, gendut, dan apa adanya. Aku jadi percaya diri sekarang dekat-dekat Tante."


"Sialan." Aku menginjak kakinya, untunglah detik-detik yang terasa bagaikan mengejar mimpi yang lama segera berlalu. Tanpa menghiraukan ucapan ku, Abimanyu menyambar jaketnya di punggung sofa.


"Rumahku udah pindah Tant, di apartemen sekarang. Datang gih kalo kangen." Abimanyu tersenyum sembari memakai jaketnya. "Kalo nggak gengsi juga, cuma emang aku sekarang sibuk! Jadi kalo gak ketemu, jangan ngambek ya." ucapnya dengan nada meledek.


Aku melawan tatapannya dengan gaya masygul seraya menarik napas. Apa-apaan dia, lagaknya udah kayak pemain sinetron stripping yang sibuk banget. Penting emang?

__ADS_1


Aku mendesis berang. Abimanyu berbalik di ambang pintu. Lama setelah kami terdiam dan menatap resah keadaan. Alih-alih aku mengabaikannya, Abimanyu seperti punya magnet tersendiri. Aku menempel dan membeku di ujung tarikannya.


"Ini awal. Bukan akhir!"


__ADS_2