Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Setelah Kita Menikah Bab 15


__ADS_3

Bab 15 - Executive Manager


.


.


.


Aku menyunggingkan senyum ketika memasuki ruang pertemuan di kantor Angkasa Management setelah meninggalkan Bella yang kemballi memusatkan perhatiannya pada kelembaban bathtub sewaktu aku dan anak-anak pergi dari rumah.


Kursi-kursi hitam di penuhi oleh orang-orang yang tersenyum formal kepadaku. Aku tidak yakin hari ini aku aman karena mereka bukan cuma pengisi kursi panas. Tiga di antara mereka adalah executive manager dan sosok Kevin memasang wajah serius.


Sial, ada apalagi ini. Aku menarik kursi dan mendudukinya. Ruangan ini sering kali membuat pantatku panas dengan ketegangan situasi dan informasi yang meracuni syaraf-syarafku secara menyeluruh. Bahkan sampai detik ini, masih belum aku temukan letak nyaman yang membuatku tenang di ruangan ini meski bayaranku dari tahun ke tahun selalu bertambah.


Aku menatap mereka satu persatu dengan ekspresi penasaran. "Ada apa bos?"


Mas Jeremi membetulkan posisi duduknya setelah menyesap minuman kaleng di tangannya lalu melihatku dengan tampang serius.


"Denger-denger kamu udah nggak mau lanjutin kontrak kerja dengan Angkasa Management, Ian! Apa itu betul?"


Senyum dan ketenangan diri menguap dari diriku. Lagi-lagi kenapa masalah ini harus di bahas. Aku mengangguk dan siap meluncurkan cerita panjang dari setiap alasan-alasan yang aku miliki.


"Aku tidak akan sepenuhnya berhenti di dunia entertainment mas, aku cuma butuh waktu dengan keluargaku lebih banyak dari hari ini atau waktu sebelumnya! Time kill me. Killed my family's happiness."

__ADS_1


"Fine... Ian, alasanmu bisa kita terima. Oleh karena itu sekarang kenapa di sini ada semua executive manager. Kami sudah berunding dengan Regina untuk mengganti executive managermu di kantor sementara Kevin tetap jadi manager lapanganmu. Elo bisa berunding dengan dia nanti setelah semua jadwal tanggal yang udah gue check list kelar tapi!" Mas Jeremi mengangkat jari telunjuknya. "Ingat Abi jangan keluar dari Angkasa Management. Kita cari jalan terbaik."


"Beneran mas? Jangan-jangan cuma nenangin aku doang sekarang... Besoknya aturan berubah lagi seperti biasanya. Lagian tumben mendadak."


"Gak ada yang mendadak, Ian!" timpal Tante Regina. "Setelah elo dan Bella ngomong sama gue, gue langsung meeting dengan mereka. Gue jujur, gue masih mau elo ada di Angkasa Management selama mungkin tapi elo pasti nolak dan menyerah dan gue nggak mau itu terjadi." Tante Regina memohon.


Rayuan seperti ini seolah tipuan biasa yang sudah aku pahami. Mereka menggunakan trik yang bisa menjeratku dengan cara lebih kalem. Aku tidak ingin percaya tapi wajah-wajah mereka ayolah percaya.


"Aku harus kenal dulu sana executive manager yang baru. Kalo cocok dan bisa di ajak kerja sama oke-oke ajalah tapi apa bisa kerahasiaan data pribadiku tidak tersebar?" Aku menelengkan kepala, privilage dan privasi menjadi poin penting yang aku tekankan. Semua executive manager di sini tahu aku sudah menikah dan yang kuharapkan bukanlah kesulitan beradaptasi dengan executive manager yang baru. Dia yang akan mengatur dimana, kapan, aku bekerja.


Tante Regina mengangguk, ujung rambutnya menyentuh kulit dadanya.


"Pintar." pujinya sambil mengelus kepalaku. "Dan ini akan mudah kalau kamu masih mau bersabar di sini karena dia baru di perjalanan."


Aku mengangguk saja karena satu-satunya hal yang biasa aku lakukan adalah menunggu para pemain besar melakukan tugasnya. Aku pergi ke ruang kecil yang berada di samping ruang meeting, membuat kopi lalu bergabung lagi dengan petinggi Angkasa Management di ruang meeting sepuluh menit kemudian.


"Bukannya kemarin ada pemain baru yang kalian rekrut mas, Tant. Belum datang juga?" tanyaku setelah duduk. Aku penasaran kenapa aku perlu mendapatkan undangan ini. Apa mentang-mentang aku pemain lama.


"Terus itu Putri dari agensi mana ngomong-ngomong. Kemarin aku habis nganter dia pulang di kawasan pos besar, sepanjang perjalanan dia bilang bangga bisa satu projek sama aku dan ini yang paling bikin aku curiga. Putri nemuin kontrasepsi di mobilku dan aku bisa memastikan itu bukan milikku. Bella nggak pernah ngasih izin aku beli barang itu!"


"Putri?" gumam Tante Regina sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Putri yang kemarin bawa tas selempang merah muda?" ucapan Tante Regina yang terdengar tidak bersemangat.

__ADS_1


Aku berdehem sambil mendekatkan bibir cangkir ke mulutku.


"Kamu serius itu bukan punyamu?"


"Sumpah, Tant. Aku bahkan udah berantem sama Bella semalam gara-gara itu. Dia mabuk."


"Oh..." Tante Regina menarik kedua sudut bibirnya lalu menyunggingkan seulas senyum tapi tangannya memijat pelipisnya seolah memikirkan sesuatu.


Aku menatapnya dengan cuek-cuek aja. Selama aku bekerja dengan baik, urusan pribadinya bukan urusanku. Kami bersama karena saling membutuhkan secara formalitas. Dia sangat baik tapi juga sangat menyebalkan.


Aku meneguk kopiku lalu menatap pintu ruang meeting yang terbuka.


"Buk, bos baru sudah datang tuh tapi baru sisiran di koridor." kata office boy lalu menarik kancing pintu sebelah ke bawah, melebarkan daun pintu seolah ingin menyambut bos baru dengan baik dan leluasa.


"We are ready for new beginnings, love, desire, and enjoyment." Semua orang berdiri, aku yang masih santai di tendang Tante Regina. "Sambut kek, enak banget lo jadi anak muda!" sentaknya dengan suara rendah.


Aku meringis, mereka terlihat berlebihan sementara aku berdiri, aku memandangi pintu masuk tanpa selera. Pergantian executive manager yang menjadikan aku sampai sekarang tidak mudah. Mas Jeremi sudah berjuang bersamaku meski konteksnya pekerjaan. Aku mengalami pergolakan batin dalam diam tetapi suara sepatu tumit tinggi menggema di koridor. Aku mengerjap, executive managerku yang baru seorang perempuan. Wow, Bella pasti tidak setuju.


Aku merasa gelisah sementara langkahnya yang terdengar stabil perlahan-lahan mendekat.


Lututku lemas dan seketika wajahku memanas. Wanita yang berdiri di tengah bingkai pintu dengan satu tangan yang membelainya bingkainya dari atas ke bawah memicu keresahanku. Dia terlihat sensual dalam balutan gaun merah muda di atas lutut dan sepatu tumit tinggi merah. Matanya memakai bulu mata palsu mengerjap genit menatapku.


"Helloww, ladies and gentleman. This is me Bella Ellis Julian Rudolf."

__ADS_1


......................


__ADS_2