Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Eli


__ADS_3

"Sepertinya anda salah orang!" Joe melepas dengan ragu genggaman tangan kami berdua sewaktu aku terpaksa menjadi patung dengan mata yang mendelik.


Abimanyu menggeleng dengan sikap keberatan sementara aku segera berdiri di belakang Joe yang kampret. Bisa-bisanya dia telat, ngapain di toilet lama-lama. Kenapa pula dia tidak bilang kalau ini tempat Abimanyu nge-gym. Joe, kamu benar-benar membuat hidupku nyaris berada di ruang temu peperangan batin dan rindu yang tak asal-asalan.


"Aku tidak mungkin salah dengan suara hatiku!" kata Abimanyu tegas, sorot matanya tetap mengarah padaku dengan tajam.


"Sepertinya anda tetap salah dan suara hati anda sedang bercanda." sahut Joe. "Ini adik saya dan baru keluar dari pelosok desa!"


Mulutku ternganga, rahangku mendadak kaku. Joe merangkul bahuku dengan sungkan.


"Ini Eli, baru datang ke kota hari ini dan berniat untuk mengecilkan badannya yang membesar."


Aku melirik Joe dengan muka tak terima. Lalu menatap Abimanyu yang berusaha untuk memastikan aku adalah Bella Ellis.


"Benar, Eli?" tanya Joe. Wajahnya mengisyaratkan iyain ajalah biar tidak ketahuan.


Aku mengangguk ragu-ragu, kita jelas beda goblok, mata Joe sipit, hidungnya mancung, kulitnya benar-benar seperti Alexa Liu, sedangkan aku kamu tahu ubi cilembu yang di bakar setengah matang? Alih-alih percaya, Abimanyu jelas-jelas tidak percaya, dia masih menggeleng dan melangkahkan kakinya mendekat.


"Suara hatiku tidak bercanda, kita pasti pernah ketemu. Mata ini, suara ini, aku mengenali." Abimanyu mencondongkan tubuhnya sambil menghirup parfum yang aku kenakan.


"Bella Ellis." bisiknya menggoda.


"Tidak, tentu saja tidak." kataku berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Abimanyu. Melihat dia yang begitu membuatku cemas.


"Kalo begitu sebentar saja, maaf." Abimanyu menurunkan tangannya tanpa melepas telapak tangannya dari kulitku.


Abimanyu menggenggam tanganku, dia terdiam dan sekian lama tak berkata apa pun, hanya memejamkan mata. Membukanya, memejamkan lagi sambil sedikit-sedikit senyumnya terlihat.


Benakku komat-kamit. Napasku terdengar kacau. Sederhana, bahagia, tapi seperti biasa pertemuan yang terjadi slalu membuatku terlihat berasal dari dunia lain.


"Aku tidak bisa memahamimu. Maaf mungkin aku memang salah orang." Abimanyu melepas tanganku dengan hati-hati sambil tersenyum. "Maaf sekali lagi atas tindakan ini. Silahkan lanjutkan kegiatanmu, E-li."


Lututku kaku, aku tidak bisa berpindah sedikitpun dari lantai sampai Joe menarikku pergi dari hadapan Abimanyu yang berlalu pergi sambil bersiul-siul.


Aku menoleh setelah bisa menyesuaikan diri dengan jantungku yang tidak aman. Di depan cermin besar yang sanggup memantulkan semua aktivitas orang nge-gym Abimanyu berlari kecil di atas alat treadmill dengan senyum yang gak bisa berhenti.


"Joe, Joe. Apa dia tau ini aku, Bella?"

__ADS_1


Joe menoleh. "Jangan berlagak seperti Bella, Eli. Berlagak lah seperti gadis kampung!"


"Sialan!" Aku menyabetkan handuk ke punggungnya. "Kamu emang kampret, Joe. Kampret, enak banget bikin alasan."


Joe terbahak sambil tetap menarik tali skipping untuk membentuk otot-ototnya. Aku melengos, meneruskan kegiatan membakar lemak dan melangsingkan tubuh ini sebelum semuanya tambah kacau.


Lepas satu jam yang penuh keringat dan rasa was-was. Aku menghampiri Joe di dekat ruang ganti dengan napas ngos-ngosan.


"Capek banget aku, Joe. Capek banget, tubuhku panas semua." aduku dengan suara lirih. Aku takut Abimanyu yang lagi angkat beban dengar. "Harus berapa lama aku dietnya ini? Aku gak kuat."


"Nyonya adalah wanita kuat!" Joe membuang napas, "Eli adalah wanita yang kuat."


"Gak-gak, aku lemah sekarang Joe. Aku lemah." Aku meraih air mineralku dan meneguknya cepat-cepat seraya menyandarkan tubuhku di tembok.


"Joe, tahi lalat ku masih aman?" tanyaku sambil melihat Abimanyu berolahraga. Dia masih mengingatku.


"Sebentar!"


Aku tersentak kaget ketika mataku yang melihat sesuatu yang kurindukan tergantikan dengan muka si kampret yang mendadak berada di depan mukaku.


Joe tersenyum hangat. "Masih berada di tempat, nyonya. Dan itu mencolok." ucapnya mengejek.


Joe menunjuk ke arah depan dengan dagunya, senyumnya mendadak dibuat-buat agar terlihat semringah.


Aku menoleh, Abimanyu terengah-engah sembari mengusap keringatnya dengan handuk.


"Boleh gabung?" tanyanya, "Aku senang ada member baru!"


"Silahkan." Joe mengangguk dengan ramah, "Anda owner-nya?"


Abimanyu menatapku sekilas sebelum meneguk air putih dengan tegukan besar.


"Aku tidak mungkin memberi nama bisnis ini Adorable Gym jika tidak ada maksud lain!" Jakunnya bergerak, napasnya terbuang kasar sesaat kemudian.


"Sesuatu yang menggemaskan ada disini, seperti nama gym ini. Menggemaskan untuk kuat." Abimanyu menyunggingkan senyum.


"Luar biasa!" Joe bertepuk tangan, "Setelah saya ingat-ingat, sepertinya anda sering berada di dalam video streaming web series anak muda, betul?"

__ADS_1


Abimanyu mengangguk pelan. "Aku berkerja keras untuk berada di tahap itu, tapi lupakan. Usahaku sudah sia-sia."


"Sia-sia?" sahut Joe, "saya tidak mengerti, tapi sepertinya ini terlalu dekat. Kami tidak ingin membuat anda sedih. Kami harus pulang." Joe menyentuh kepalaku. "Ayo Eli."


Aku mengangguk. Namun, tak aku pungkiri sekarang aku kepikiran dengan ucapan Abimanyu. Apa dia sengaja?


"Kami boleh permisi?" tanya Joe sekali lagi sewaktu Abimanyu cuma terdiam.


"Silahkan." Ia mengangguk, wajahnya menyiratkan keberatan yang sungguh-sungguh. "Tapi apa kalian ada jadwal gym lagi di sini?"


"Tentu saja."


Abimanyu langsung mengulurkan tangannya. "Aku senang mendengarnya."


Kedua laki-laki berbeda usia itu bersalaman, berkenalan dan tersenyum.


Andai aku bisa menatap matanya sebelum berdiri. Aku akan melakukan itu, tapi berdiri saja lututku gemetar. Wajahku hampir sepucat mayat. Sementara, Abimanyu menghujam padangannya padaku terus-menerus sambil tersenyum.


Payah sekali hari ini, semua rencana ku kacau. Pelarianku langsung terasa hambar dan sia-sia. Kebimbangan ini kembali nyata. Tidak ada kejelasan apakah dia jomblo apa masih punya pacar.


Aku menghela napas, menghampiri Joe yang menunggu ku di depan ruang ganti seraya berjalan ke pintu keluar.


"Mari aku antar." Abimanyu melompat dari tempat duduknya seraya mendorong pintu kaca, ia mencegat kepulangan kami dengan caranya menjamu klien dengan mahir.


"Senang bertemu kalian!"


Aku melihat kesungguhan dari matanya, dan dari jarak yang begitu dekat ketika kami bersalaman, mencium keringatnya yang manis membuatku melayang. Di batas ini, Joe berdehem-dehem. "Sudah, Eli. Dia laki-laki muda!"


Abimanyu tertawa, aku pikir dia akan melepas tanganku. Tapi tidak. Aku menarik tangan, lalu memalingkan wajah. Abimanyu jelas-jelas semakin akan mengerti jika aku tak segera kabur dari sini.


"Ayo, Joe!" Aku menarik lengannya.


"Permisi." pamit Joe buru-buru.


Lima puluh meter dari titik temu,


Abimanyu bersedekap waktu aku menoleh. Dia melambaikan tangannya.

__ADS_1


"NICE TO MEET YOU, ELI." Abimanyu berteriak membuatku berhenti melejitkan langkah.


...*****...


__ADS_2