
Ketukan di pintu terdengar merembet di gendang telingaku ketika langit malam telah mengubah siangku yang panas menjadi malamku yang kelam.
Bagaimana mungkin ketika Abimanyu memintaku untuk bersikap posesif kepadanya, bocah sialan itu justru dengan asyiknya mengikuti geng kemayu kemana saja dan menerima saweran cuma-cuma dari mereka.
Pantai, kafe, mal, tas, celana, baju, kemeja, sepatu, tuksedo dan yang paling mewah adalah jam tangan asal Swiss. Tag Heuer Formula 1 Black Dial dari Regina.
Aku sempat menatapnya sinis waktu
Abimanyu menerima semuanya dengan tanpa penolakan. Sebenarnya dia gimana sih, ogah jadi simpananku malah jadi simpanan semua anggota geng kemayu.
Jadi bagaimana aku bisa bernapas karena itu?
"Bell, udah siap belum?" teriak Sisca dari luar.
Aku menarik stoking hitam ke atas paha seraya mengembuskan napas. Jantungku dag-dig-dug. Dapatkah aku melewati malam ini dengan baik dan berusaha tak peduli dengan Abimanyu?
Oww, oooo... Aku kehilangan arah. Aku dirundung keraguan ketika melangkah mendekati meja kecil di bawah lampu tidur yang terpancang tegak di dekat kasur.
Derit suara pintu terdengar perlahan, kepala wanita itu lalu melongok dengan senyum spektakulernya. Senyum sejuta dollar.
"Bell, are you oke?"
"Aku baik-baik aja." jawabku malas.
"Bohong, air muka elo menunjukkan siksa batin yang mendalam!" tukas Sisca lalu meneliti penampilanku dari atas ke bawah. "Mau ngedate atau mau jadi sales girls naked, darling?" ucapnya dengan nada mencibir.
Aku memutar bola mata. Sisca menendang daun pintu sampai pintu biru dengan ukiran khas motif daun dan bunga itu tertutup lagi. Ada apa gerangan? Belum sempat aku memikirkan salahnya dimana penampilan ku yang bitchy-bitchy ini. Sisca meraih tas ku dan membuang ke kasur.
"Kita emang mau ke kelab Bella, tapi gak harus nakal begini. Seksi nan elegan adalah identitas geng kemayu. Ingat!" Dia membuka lemari kayu dan memeriksa satu persatu pakaian ku dan menemukan kostum unicorn ku dengan cepat.
Sisca menjereng kostum itu di depanku dengan tatapan terkejut. "Inner child mu masih ada, Bella?"
Aku mengangguk. Dia melemparnya kembali ke lemari sembari mendesah.
"Narendra tau?"
"Gak!"
__ADS_1
"Abimanyu?"
"Hmm..."
Sukses menemukan gaun pengganti untuk aku pakai, dia melempar gaun malam elegan yang kemarin aku gunakan untuk bertemu penggede perusahaan kosmetik dan politik ke kasur seraya menunjuknya sambil menatapku tanpa berkomentar lagi mengenai kostum unicorn ku.
"Ganti, jangan pake lama!" katanya tegas sambil berbalik. "Gue tunggu."
Aku mengumpat lirih. Padahal aku sengaja memakai pakaian dari kulit imitasi berwarna merah menyala dengan potongan pendek ketat ini untuk membuat Abimanyu ilfill atau tergoda padaku daripada geng kemayu yang lain.
Aku mengerang frustasi lalu menghirup udara di kamarku yang beraroma pengharum ruangan dalam-dalam sembari menarik turun resleting.
"Dari tadi siang sentimental terus, Bell." sindir Sisca, "Kenapa? Marah Abimanyu juga kita sayang?"
Aku membuang si merah dan meraih si hitam elegan.
"Aku tau kalian, dan Abimanyu bukan sasaran!" Aku memakai gaun malam ku. Berbahan satin dengan tali kecil yang
menggantung di leherku. Aku memantau tubuhku di cermin, setelah bagus dilihat aku berbalik.
Sisca mengangguk pelan. Langkahnya mendahuluiku untuk membuka pintu lalu dia melipat tangannya di dada.
"Gini dong cakep, yang tadi tuh bukan Bella yang aku kenal. Terlalu bitchy dan itu mu-ra-han." Sisca cekikikan tanpa suara di balik clucth blink-blink yang ia angkat di depan mulutnya. "Tapi boleh juga sih, berani untuk mendominasi permainan. But not now darling. Kamu akan membuat Abimanyu jaaaauhhh!"
Aku mengeram jengkel dan tetap melangkahkan kakiku keluar bungalow tanpa memperdulikan maksud Sisca. Bli Dean mengangguk sopan di depan pintu masuk.
"Dimana Abimanyu?" tanyaku sambil menatap sekeliling. Sepi, cuma tinggal Regina yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon di dekat lampu taman.
"Abimanyu udah berangkat duluan, Bell." jawab Sisca.
"Wowwww, amazing." Aku mengangkat kedua tangan tak percaya, bisa-bisanya dia dibawa kabur terlebih dulu sebelum aku melihatnya setelah seharian kita bersama namun dia bukan milikku. Dia milik rame-rame dan aku kesal. Hah, sepintas aku memang tidak berhak mengatur dengan siapa Abimanyu atau geng kemayu bermain, tapi aku terlalu posesif untuk bagi-bagi.
...***...
Mobil berhenti di pelataran parkir sebuah kelab di daerah Seminyak, Kuta Utara. Kawasan elite yang unik, ceria, modern, dan pastinya ramai di kunjungi banyak orang berduit.
Aku menghela napas. Berusaha memasang wajah biasa-biasa aja namun cenderung angkuh ketika memasuki kelab, kombinasi lampu warna merah memenuhi ruangan seperti lagu yang dimainkan dj profesional. Semakin masuk ke dalam kelab, di tengah-tengah ruangan lantai dansa menjadi tempat aksi paling mencuri perhatian.
__ADS_1
"Abimanyu ada di tempat yang gue sewa, Bell. Jadi elo jangan kayak cewek jelalatan cari mangsa."
"Sialan, aku gak gitu Sisca!" balasku kesal di tengah-tengah pengunjung lainnya yang berpesta pora di akhir pekan. "Dimana dia, kalian gak merencanakan sesuatu yang nakal?" tukasku berang.
Regina dan Sisca tersenyum meledek sambil berangkulan.
"Di lantai dua, cari aja Bella. Semoga sukses." Mereka terkikik centil seraya meninggalkan aku yang terus dilanda sebal.
"Gini jadinya kalo udah pada turun tangan. Argh..." Aku mencengkram palang seraya menaiki anak tangga dengan hati-hati. Tiba di lantai dua yang lebih nyaman untuk berinteraksi, aku mengedarkan pandang.
Di sudut paling belakang, remaja itu menatap kehadiran ku dengan senyum sempurnanya.
"Wow, hebat. Hebat, babe. Hebat." Aku menaruh tasku dengan sedikit gebrakan di atas meja. Gimana bisa dia memakai semua yang anggota geng kemayu belikan sekarang. Aku jadi panas.
Abimanyu menarik mundur kursi untuk aku duduki sambil tersenyum. "Duduk, kak."
"Kak?" Tambah panas, aku menjepit rambutku seraya menghempaskan diri di kursi besi dan menyilangkan kakiku dengan kenes.
"Siapa yang ngajarin kamu manggil aku kakak?" tanyaku sambil mencondongkan tubuh dan menatap Abimanyu lekat-lekat.
"Siapa, Abi?"
"Tidak ada!"
Tanganku mencengkram tepian meja sembari mengembuskan napas lelah.
"Terserah kalau gitu!"
"Kakak marah?"
"Aku lebih suka di panggil Tante Bella!"
"Apapun yang bikin Tante senang aku lakukan." Abimanyu tersenyum menenangkan. "Mau jalan berdua? Tante bilang ini hari terakhir kita di sini, aku pikir akan jauh lebih baik kita menepi berdua saja."
"Untuk apa menepi? Bukannya hari ini sudah cukup?" sahutku tak peduli.
"Gak buat aku karena aku maunya sama Tante Bella, bukan dengan geng kemayu!" sahutnya sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1