Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Tentu saja


__ADS_3

Alarm berbunyi sesuai jadwal yang aku atur tadi malam. Tubuhku pegal-pegal semua selepas gym dan insomnia, namun aku tak berhak menyerah. Aku akan berusaha kembali seksi demi masa depan.


"Bibi, sarapan mana?" tanyaku sehabis mandi, mencari-cari sepiring nasi goreng dan telur ceplok atau apalah yang mengenyangkan. Bukan hanya sepiring potongan pisang, kiwi, stoberi dan pir.


"Bibi, sarapanku mana?" tanyaku lagi.


Joe yang tinggal di rumah ini melongok tiba-tiba di depan jendela taman yang terbuka. "Diet nyonya, diet!"


Aku mendesah tak terima. Aku tak sanggup jika secepat ini dietnya. Perutku masih megar, lemak-lemak yang terbakar kemarin minta ganti.


"Kalo enggak nasi. Bubur aja, Joe. Bubur ayam di depan kompleks. Plis. Aku kangen makan itu. Beliin ya, kakak." Aku mengatupkan kedua tangan dengan muka memohon.


Joe memutar matanya, malas sepertinya dia mengangguk. "Hanya untuk hari ini. Besok mulai atur diri, nyonya."


"Iya, nanti aku mulai cari langganan diet sehat. Udah sana berangkat, hari ini aku banyak kegiatan."


Joe menghentikan kegiatannya menyirami tanaman. Dia suka melakukan kegiatan itu dimana saja terutama ketika aku memilih penginapan di daerah atau villa yang memiliki taman.


Sebagian seorang satpam, Joe bukan sembarang satpam. Background keluarganya terbilang unik-unik ngeri. Ayahnya kriminal sementara ibunya pengabdi negara. Sisca memungutnya dari sebuah kelab ketika Joe remaja seperti kebanyakan remaja lainnya, kesepian dan kehilangan arah. Meski tidak sedetail yang aku harapkan saat mendengar penjelasan Sisca mengenai awal mula Joe menjadi satpam, aku sih yakin dia pernah ada main dengan Sisca, tapi Joe slalu membantah. Urusan privasi katanya dan terserah. Lagian siapa yang tidak tahu tabiat Sisca dan trik-trik muslihatnya?


Aku menghabiskan buah-buahan yang disajikan bibi Marni supaya dia tidak kecil hati. Setelah itu dan suara motor terdengar mulai menjauh dari garasi rumah. Kesibukanku di mulai, aku tidak mungkin tidur di kamarku lagi. Itu pasti, dua laki-laki berbeda usia sudah meniduri kasurnya dan mengamati semua yang ada di kamarku, mungkin juga lemariku dan isinya. Makanya sejak tadi malam ketika aku insomnia karena memikirkan Abimanyu melulu, aku sudah memilah baju-bajuku. Yang tak lagi aku pakai, akan bibi Marni kirim ke kampungnya sementara perabot kamar. Akan aku sumbangan ke orang yang sering mengantarkan galon dan gas merah muda ke rumah ini.


"Nyonya benar-benar yakin akan mengiklaskan semua ini?" tanya bibi Marni sambil mengepak pakaianku ke dalam kardus besar yang ia minta di toko kelontong milik pak RT.


"Sebenarnya itu mahal-mahal, cuma ya udah, dua tahun ini aku melihat beragam keadaan, jadi kadang-kadang barang mahal untuk kondisi ekonomi tertentu itu akan menyenangkan walaupun bekas."


Bibi Marni tersenyum sambil mengangguk. "Makasih, Nyah. Sekalian aja, dengar-dengar nyonyah mau langganan diet sehat, itu artinya bibi gak masak, jad bibi minta izin pulang kampung seminggu Nyah, ada urusan pribadi."


Urusan pribadi? Sejak kapan? Sehidup semati bibi Marni berjanji urusan pribadinya hanyalah di rumah ini.


"Kemarin waktu aku pergi udah wira-wiri ke kampung halaman, masa sekarang giliran aku pulang ke rumah, bibi pergi. Tega ah, tega. Sebel." Aku cemberut.


"Seminggu aja, Nyah. Anakku yang gede mau nikah, jadi harus rembukan keluarga." jelas bibi Marni antusias.


"Yakin? Gak cuma alasan aja?"


"Yakin, Nyah. Bibi undang, pastiin nyonyah harus datang awas kalo enggak. Bibi ngambek."


"Iya, iya. Tapi habis mantu ke sini lagi kan?"


"Pasti dong, nyonyah tenang aja. Rileks."


Aku mengangguk, "uang yang kemarin cukup?" tanyaku hati-hati.


"Alhamdulillah, tapi kalo nyonyah mau kasih nambah bibi mah terima kasih." Bibi Marni meringis.

__ADS_1


Aku tersenyum geli, bisa-bisanya aku dipalak di rumah sendiri. Mana aku gak keberatan lagi, dasar Bella. Rupanya sudah saatnya cari suami, biar uangku tetap utuh.


"Bentar." Aku melesat ke ruang tamu sewaktu ketukan pintu terdengar. Bibi Marni protes waktu kamar mandinya aku ketuk berkali-kali. "Ada tamu, bi."


"Nyonyah aja, Joe itu. Bibi nanggung banget." sahut bibi Marni dengan napas tercekat.


Dengan kesal, aku memutar kunci dan menarik daun pintu.


"Joe—", Aku terperanjat, sosok didepan mataku bukan Joe seperti perkiraanku dan bibi Marni, tapi Abimanyu. Mukanya terlihat tercekat, kemudian senyumnya terlihat semringah seperti tetangga sebelah ketika mendapatkan door prize mesin cuci dua tabung.


Aku menaikkan sudut bibirku dengan ragu-ragu. Mampus, aku lagi gak pakai tahi lalat lagi. Gimana ini, mana gak bisa gerak. Ya Tuhan, kenapa kecerobohanku tidak berkurang, harusnya tadi aku ngintip dulu seperti mata-mata. Baru aku buka pintunya, kenapa baru kepikiran sekarang.


Aku menatap Abimanyu dengan ngeri.


"Hai," Abimanyu tersenyum lebar, pipinya terlihat merah seperti tergoda sesuatu. "Eli tanpa tahi lalat tinggal di sini?"


"Nyah, Nyah." teriak bibi Marni dari dalam rumah. Derap langkahnya terdengar mendekat ke teras rumah.


Bahuku tersenggol. "Loh, Loh." Bibi Marni tersenyum cengengesan sambil menatap kami bergantian. "Mas Abimanyu datang. Tumben, udah lama lho, ayo masuk. Bibi kangen."


"Jangan!" sergahku sambil geleng-geleng kepala, "jangan bibi." Mataku melotot.


"Kenapa, Nyah? Kan bagus nyonya ketemu Abimanyu lagi."


Aku menutup mukaku dengan kedua tangan, hancur sudah reputasiku di depan Abimanyu. Sekarang aku yakin dalam imajinasi Abimanyu, tak ada lagi Bella Ellis yang seksi dan centil, yang ada cuma Bella si montok kelebihan lemak dan berkulit gosong.


"Kenapa Tante pergi ninggalin aku?"


Dalam keheningan yang panjang dan canggung, aku menghela napas.


"Memang kenapa aku harus pamitan?"


"Karena tante tidak menghargai keberadaanku?" sahut Abimanyu penuh emosional. "Lupakan, aku lihat Tante berubah drastis. Tante bahagia?"


Aku yang tengah kesal menuangkan kuah opor bubur ayam untuk diriku sendiri. Lalu aku makan sambil menatap tiga pasang mata di depanku.


Abimanyu, Joe dan bibi Marni tersenyum-senyum.


"Kalian berdua mengkhianatiku." kataku sinis pada Joe dan Bibi Marni sembari menaruh bubur ayamku yang tandas. Kedua orang itu kemudian saling bertatapan, tak merasa bersalah atau berdosa sama sekali telah membuatku kembali payah.


"Dua tahun sudah cukup, Eli. Mulailah."


"Stop panggil aku Eli, Joe. Aku gak pakai tahi lalat dan pemilihan nama itu salah kaprah!" sahutku cepat-cepat. "Kenapa tidak Neneng apa Sri sekalian biar terkesan dari kampung halaman! Kenapa Eli, itu mencolok tauuuuu..." ucapku sampai manyun.


Bibi Marni cekikikan di belakang punggung Joe. Joe bahkan sampai menundukkan kepala dengan muka geli.

__ADS_1


"Apa, lucu?"


Joe menggeleng. "Dalam keadaan kepepet, hanya itu yang bisa saya lakukan nyonya." sanggah Joe.


Rambutku yang semrawut semakin tak karuan, mukaku apalagi. Aku beranjak.


"Urus anak ini, terserah mau di gantung di jemuran, apa kalian ajak jalan-jalan. Terserah, aku lagi gak—"


"Percaya diri?" sahut Abimanyu.


Aku menghujaninya dengan tatapan jengkel.


"Itu sama seperti ku kemarin, Tante. Aku gak percaya diri untuk berada di kehidupan Tante yang hedonis."


"Terus sekarang kamu sudah percaya diri dengan pekerjaanmu itu? Bagus, aku tidak perlu cerita karena itu bukan bagianku." Aku melipat ke dua tanganku. Menahan goyah dengan reaksi angkuh yang aku lakukan.


"Jika kamu mencariku untuk mengutarakan semua keluh kesahmu lakukan, tapi jika kamu ke sini hanya untuk bermain-main dengan perhatianmu. Hentikan. Aku pulang untuk menata masa depanku setelah melepasmu jadi jangan pernah main-main!"


"Untuk pertemuan pertama anda terlalu serius, nyonya. Anda menakutinya." sahut Joe mengingatkan.


"Kalian berdua keluar."


"Yakin nyonya berani?" tanya bibi Marni setelah berdiri. Ia menatap Abimanyu yang masih duduk dengan punggung tegap.


Gak lah, jelas-jelas aku butuh bantuan mereka. Tapi untuk hal ini mereka tidak membantu, terlebih gengsi dong cuma Abimanyu doang masa aku tidak bisa menghadapinya sendiri.


Aku mengangguk. "Pergi keluar cari bahan masakan, dan sewa mobil pickup!"


"Siap, Nyah. Mas Abi bibi tinggal keluar dulu yak. Kita lagi beres-beres rumah, makanya nyonya senewen terus, jangan diganggu dulu yak. Kasian, kalo stres makan terus kerjaannya."


"Bibiiiiiiiiiiiii...." Suaraku melengking. "Stop it, stop. Aku udah kehilangan muka, jangan nambah lagi. Huss, huss..." usir ku sambil mengibaskan tangan.


Berdua pasti lebih baik. Abimanyu menunduk, bibirnya menyunggingkan senyum.


Aku mengempaskan diri di sofa lagi, dan memeluk bantalnya. "Jangan ke sini untuk sia-sia. Kamu bukan Abimanyu yang dulu, paham?"


Abimanyu berdehem. Tangannya meletakkan paper bag di meja, lalu menggeser lebih dekat ke arahku.


"Jangan lagi jadi Eli, itu terlalu lucu dan pipiku bisa kram karena itu, Tante."


"Terima kasih pujiannya." Aku membuang napas, "Pulanglah, dan berhati-hatilah dalam bersikap."


"I see." Abimanyu menyentuhkan bibirnya di bibir cangkir, tegukan teh hangat mengaliri tenggorokannya. "Aku sengaja ambil cuti untuk menemui Tante hari ini, jadi izinkan aku di sini sebentar."


"Tentu saja."

__ADS_1


...***...


__ADS_2