Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Setelah Kita Menikah Bab 13


__ADS_3

Bab 13 - Kacau


.


.


.


Aku menikahi Bella Ellis dalam upacara singkat, sederhana, dan di tempat indah kesukaannya. Jauh dari hiruk pikuk kota dan risiko dunia hiburan yang slalu membayangi hari-hariku.


Selama delapan tahun yang terlewati dalam rollercoaster pernikahan kami baru kali ini dia tidur membelakangiku setelah menghabiskan setengah botol anggur merah tanpa berani aku mencegahnya. Dia benar menjadikan minuman itu sebagai pelampiasan rasa marah sejak pertama kali aku bertemu dengannya dan berhenti hanya saat mengandung dan menyusui.


Aku mencium kepala bagian belakangnya. Hatiku merasa bersalah setelah menuduhnya dengan nada tidak baik. "Sayang." bisikku.


Tidak ada reaksi apa pun sewaktu aku menyapukan tanganku di lekuan tubuhnya. Aku mendekap erat-erat sampai wajahku menempel rapat di tengkuk lehernya.


"Kamu pasti khawatir dan aku semakin menambah beban bagimu, Bella. Maaf, kamu satu-satunya tempatku pulang dan sebagai mentor aku terus berharap kamu terus diberikan kesabaran karena aku masih ke sana ke mari tapi dengan satu arah, kamu."


Bella mengeranng dengan suara rendah dan tersiksa. "Kamu berisik banget Abi, sumpah. Mundur deh kalo enggak kamu bikin tulangku yang sudah kuat banget ini lunak dan mudah patah! Mundur gih, aku takut jatuh."


Pantatnya mendorongku mundur sampai aku kembali ke tempat biasanya aku terlelap. Aku yang tidak punya kekuatan untuk melawannya mengalah, dia mabuk dan slalu saja kejujurannya ikut menyiksaku. Aku melepas pelukan dan memandangi langit-langit kamar dengan tangan yang mengusap kepalanya diiringi khayalan yang indah-indah bersama, tetapi badai yang sedang berputar di kepalaku membuat sorot mataku meredup.


Aku bingung dan takut. Peringatan dari Bella membuatku gugup, dua bulan aku harus menjalani syuting dengan Putri. Sesungguhnya siapa dia, kenapa ada indikasi mencurigakan dari tingkahnya. Aku mengingat, rumahnya tidak begitu sederhana bahkan ketika ia menghidupkan bel rumah seorang pembantu menyambutnya.


Putri, Putri, dan Putri. Secepatnya aku harus mencari tahu siapa kamu! Siapa yang berniat menjatuhkanku di saat aku benar-benar ingin membuka kehidupan pribadiku? Kenapa mereka mengusikku.

__ADS_1


***


"Daddy kenapa mommy belum bangun tidul?" tanya Ollie sembari menarik-narik ujung kemejaku sewaktu pagi dan sinar matahari telah mengundang geliat aktivitas di luar rumah.


Aku mengusap kepalanya sebagai tanda sayang sebelum berjongkok. "Mommy capek, Ollie. Baru enggak enak badan." kataku dengan lembut sambil menatapnya hangat.


Ollie yang masih natural dalam berpikir mengangguk paham.


"Telus Daddy, mommy kan jadi doktel. Telus apa mommy bisa peliksa sendili badannya sepelti Ollie waktu sakit?"


Senyumku melebar dan hatiku menghangat. Tuhan, terima kasih sudah memberiku putri secantik dan sepintar Ollie.


"Mommy cuma butuh istirahat lebih lama Ollie, nanti siang juga sudah sembuh."


"Yeyyy..." serunya gembira, Ollie mengulurkan tangannya untuk mengangkup kedua pipiku. Sorot matanya mengandung rasa was-was yang menggemaskan. "Tapi Daddy kalau mommy belum sembuh kita pelgi ke doktel Billy ya... Doktel tampan temannya mommy." ucapnya dengan riang.


"Daddy setuju, nanti kita antar sarapan ke kamar mommy sebelum berangkat ke sekolah." Aku menyusupkan kedua tanganku di bawah ketiaknya lalu mengangkat Ollie tinggi-tinggi. Ollie tertawa riang sembari merentangkan kedua tangannya seperti terbang sebelum aku dudukkan di kursi makan.


"Di makan dulu sarapannya." Aku merunduk, mencium pelipisnya. "Daddy panggil kakak dulu di kamar."


Aku meninggalkan Ollie dan pergi ke lantai dua setelah gadis kecilku mengangguk dan mengunyah sereal gandum yang di campur dengan susu. Aku ingin mengetahui kenapa Neo belum juga datang. Sudah setengah jam setelah aku membangun anak-anak dan menemani mereka mandi air hangat. Neo belum juga turun untuk sarapan.


"Boy, what are you doing?" tanyaku di ambang pintu. Neo duduk termangu di tepi tempat tidurnya dan sudah siap pergi ke sekolah. Tapi wajahnya muram dan bibirnya cemberut.


"Kenapa?" tanyaku sambil membetulkan ikatan tali sepatunya. "Nyari papa Joe?"

__ADS_1


"Nggak juga om." Neo mengendikkan bahu dengan malas. Sikapnya yang ceria saat bersamaku lenyap entah kenapa. Aku dilanda gelisah, anak ini kenapa tiba-tiba berubah. Apa salahku?


"Terus kenapa? Nyari mommy?"


"Nggak tuh." Neo melipat kedua tangannya dengan wajah sinis. Dia terlihat memendam sesuatu yang tidak dia sukai. Rasa penasaran menggebu tapi Neo cuek, dia bahkan tidak ingin terlalu memandang wajahku lama-lama.


Aku berdiri sambil menarik napas dalam-dalam. Cita-cita menjadi hot Daddy rupanya butuh ekstra kesabaran yang luas dan latihan khusus.


Aku memberikan senyum andalanku yang Bella puji sebagai senyuman pembawa cinta.


"Kalau gitu ayo turun, Ollie nungguin kakak sarapan. Kalau Mommy baru kecapekan jadi belum bangun tidur."


"Kok om tau mommy belum bangun, om lihat kamar mommy?"


Eh...


Senyumku yang lebar semakin lebar sampai terlihat aneh. Aku bingung menjawabnya karena selama ini Neo tahunya aku tidur di kamar tamu.


"Bibi yang bilang, Neo." kataku lembut.


Neo melompat turun dari tempat tidurnya lalu berkacak pinggang. Kepalanya mendongak dengan ekspresi sebel. Caranya marah seperti Bella, meledak dan tidak tanggung-tanggung. Aku kena lagi.


"Om bohong, waktu aku kebelet pipis tadi malam aku masuk ke kamar mommy dan lihat om bobok sama mommy. Peluk mommy juga, terus meluknya kayak meluk guling. Kasian mommy tau, mommy nggak bisa napas. Om jahat."


Aku mengangkat kedua tangan dengan muka yang pasti sudah pucat. Aku kehilangan kata-kata menghadapi Neo. Aku menyerah. Neo adalah Bella meski tubuhnya mewarisi kulit bule sepertiku. Caranya marah dan caranya ngomel-ngomel sungguh-sungguh membuktikan bahwa Bella sangat mendominasikan dirinya sendiri pada batin dan kata-kata sewaktu mengandung Neo dulu. Cuma masalahnya kenapa akhir-akhir ini duniaku kacau terus. Kenapa lupa kunci pintu dan kenapa Neo harus kebelet pipis. Ya ampun, Bella... Bangun...

__ADS_1


......................


__ADS_2