
Bab 19 - Aduhhh
.
.
.
Paginya, suasana di rumah terkendali. Semua rencana semalam berjalan dengan baik. Subuh sebelum anak-anak terbangun, sepakat kami berempat yang memilih menggunakan kamar tamu dan ruang home theater sebagai tempat meluangkan perasaan yang tak bisa di dengarkan anak-anak kembali ke kamar utama untuk menemani mereka sampai bangun.
"Happy breakfast all." Bella tersenyum penuh cinta lalu menyantap buah-buahan segar. Pupil matanya terlihat dilapisi lensa kontak berwarna coklat khaki yang membuatnya terlihat lebih tegas.
Aku mengangguk sambil memasang serbet di atas pangkuanku. Dia sungguh wanita yang memesona, setiap pagi satu dari makanan kesukaanku slalu tersaji di meja. Tapi nanti adalah hari yang sibuk. Bella akan pergi ke Bali. Akunya dia akan party bersama geng kemayu di sebuah beach club dan pulang dua hari kemudian. Sementara aku mulai syuting Dekat Seperti Nyawa. Kami akan terpisah lagi, membuat jarak dan menumpuk rindu. Namun sumpah aku sulit berkonsentrasi karena rahasia tentang Putri yang bersemayam di pikiranku masih ambigu.
"Titip anak-anak ya papa Joe, mama Cilla. Aku usahakan pulang cepat." ucap Bella di garasi rumah sewaktu anak-anak mulai bergantian masuk ke mobil kesayangan Neo. Tapi seperti biasa anakku yang masih sengak menjulurkan lidah setelah pintu mobil tertutup.
Neo menurunkan kaca mobil setelah Bella menyuruhnya. Bella menyeringai ketika Neo menyuruhku mundur dengan nada culas.
"Jangan berantem sama Daddy Ian dan nanti malam kamu harus tidur sama Daddy Ian selama mommy urus kerjaan."
Neo mendelik padaku. "Enggak mau."
Aku menyenggol pinggang Bella untuk menyingkir sedikit dari hadapan Neo.
"Hati-hati boy, Daddy cinta kamu."
Bibir Neo menipis sebelum menghenyakkan diri di jok mobil. Aku merunduk, kepalaku sedikit masuk ke dalam mobil. Aroma yang khas dengan mobil ini membuatku tersenyum.
"Sekolah yang rajin, Ollie, James, Jansen, dan kakak Neo tersayang." Tanganku menjawil dagunya. Neo menjerit dan juga melototiku tapi setidaknya dia tidak meremas wajahku. Aku meringis, semakin kugoda dia akan semakin mirip ibunya. Gengsi parah dan sepertinya trik untuk meluluhkan ibunya wajib aku terapkan padanya.
"Oh iya Neo, jangan marah-marah terus sama Daddy nanti mobilmu papa sita, soalnya mobil kesayangan kamu ini yang beli Daddy waktu kamu berusia lima tahun."
__ADS_1
"Bohong!" sahut Neo, "Daddy Ian bohong. Mobil ini yang beliin papa." semburnya diwajahku.
Perutku mengeras, dia lucu banget. Jadi ingin sekali aku uyel-uyel pipinya lalu menceritakan semua kejujuran yang kami pendam.
"Daddy Ian nggak bohong, Neo." timpal Om Joe, "Papa hanya menggunakannya untuk mengantar dan menjemputmu sekolah."
Neo melipat kedua tangannya. Tadinya aku pikir dia akan menurut, eh tapi dia malah berkata. "Terima kasih Daddy Ian mobilnya, jadi ini mobilku sekarang! Nggak bisa di sita!" serunya penuh semangat.
Aku terbahak-bahak seraya merangkul pinggang Bella. Gila ini benar-benar gila. Susah banget merangkul Neo ke dalam pelukanku. Satu-satunya hal extreme sekarang di kepalaku adalah menendang Om Joe dari kehidupan Neo supaya hanya ada aku daddy-nya. Tapi itu tidak mungkin, jangan, aku berani mempertaruhkan karirku demi Neo tapi itu tidak mungkin juga.
"Neo membuatku ingin memiliki satu anak lagi, Bell." Aku mencium pipinya setelah mobil keluar dari garasi mobil.
"Jangan mimpi, Abi. Ayo ke ruang kerja!" Tatapan kami saling beradu, aku terpaku pada tatapannya seolah Bella sedang mengisyaratkan yang tak terucapkan.
Aku mengendikkan bahu. Bella pasti sedang banyak pikiran dan aku tidak perlu menambah bebannya lagi sementara waktu. "Oke, sini aku gandeng tanganmu."
Aku tersenyum ketika semua jemarinya sudah berada digenggamanku. Dan aku tidak tahan, bibirku mengecupnya dari punggung tangan sampai ke leher.
"Udah Abi... Udah!" jeritnya mundur, Bella merinding dan aku mendapati pipinya merona.
"Ya kali, aku udah siap kerja. Masa harus mandi lagi. Capek aku mandi terus, keramas terus, dandan terus! Inget waktu dong, tadi malam aja udah." protes Bella sambil menapaki anak tangga satu persatu.
Aku bersiul-siul sambil mengikutinya. Rambutnya yang di kuncir kuda bergoyang-goyang. Tubuhnya yang aduhay tersembunyi dalam kemasan tiga potong pakaian formal. Bella memilih setelan jas hitam dengan model celana cutbray serta dasi kupu-kupunya berwarna hijau muda. Oh, dia sedang menyambut baik hari-hari menjelang ulang tahun Ollie.
"Abi, stop!" Kepalanya menoleh cepat sewaktu aku bersiul panjang mengikuti gerakan rambutnya. "Kamu suka banget godain aku?" Bella berkacak pinggang di anak tangga paling atas.
Aku ikut berkacak pinggang sambil mengangkat daguku. Dalam akting, hal ini bernama impersonate-menirukan seseorang untuk mengasah skill dan kemampuan dalam memberi bahasa tubuh yang natural.
"Aku memang suka godain kamu, huhu... Eli..." Aku mengibaskan rambutku yang cepak ini seperti saat Bella habis mandi.
"Jangan kurang ajar!" Bella menudingku lalu menuruni anak tangga.
__ADS_1
Aku puas ketika dia mendengus di depan wajahku. Bella tak mengatakan apapun tapi tangannya menurunkan kedua tanganku dari pinggang lalu mengisinya dengan jari-jarinya.
"Neo akan menjadi milikmu seutuhnya. Tapi jangan paksa dia menerimamu dengan cepat. Oke." Bella mencondongkan wajahnya. "Kamu nggak sendirian, Abi. Semua nanti ada digenggamanmu saat kamu yakin kamu sudah siap dan kita tahu waktunya bukan sekarang."
Bella tersenyum. Aku kembali merasakan sensasi yang familier di dadaku. Bella meyakinkan aku bukan laki-laki pecundang yang kalah baku hantam. Aku mengangguk. Bella memberiku ciuman singkat seolah dia tidak bosan denganku.
"Aku ada waktu satu jam untuk bikin daftar keinginanmu sebelum aku mulai ngelobby kamu ke rumah produksi atau televisi swasta, Abi. So... Tell me want you want?" Bella menatapku dari balik komputernya.
Aku ingin mengikuti kata hatiku karena masih panjang perjalanan rumah tangga kami sampai bisa meraih mimpi. Mimpi sederhana yang tidak sesederhana keinginan kami dan anggaplah warna-warni kehidupan ibukota selayaknya teman yang ingin menjatuhkan dan menguatkan.
"Apapun job yang kamu pilih aku terima, tapi aku ada satu permintaan. Aku udah nggak mau syuting sinetron walau itu bayaran besar. Kamu nggak masalah kan sama baik buruknya nanti?"
Bella mengamatiku baik-baik lalu mengangguk serius. "Bahagiaku, bahagiamu. Lanjut, nggak mungkin cuma minta satu permintaan. Ntar Regina curiga, cuma ini doang keinginanmu!"
Mataku bercahaya. Jauh di lubuk hatiku, ini bukan soal karir atau tanggung jawab seorang laki-laki kepada seorang wanita beranak dua itu. Tapi ini soal identitas kami sebagai sepasang suami istri yang hidup dalam keterbatasan waktu dan ruang. Kami ingin lega dan nyaman.
Aku mengulurkan tanganku di mejanya yang di penuhi tumpukan arsip, majalah dan kertas-kertas.
"Aku... Dan kamu selamanya." ucapku.
Bella tersenyum sambil meremas tanganku. "Jangan menjilatku, Abi!"
"Dih. Nggak sadar diri kamu!" seruku.
Bella terbahak lalu menggulung kertas untuk memukul tanganku dengan gemas.
"Serius dong, aku lagi kerja nih. Jangan bikin aku panas!" Bella mengipasi wajahnya dengan gaya berlebihan dan jual mahal.
"Halah... kadar libido mu aja yang nggak habis-habis pakai gengsi!"
"Sial." Bella menutup wajahnya dengan kertas sambil terkikik. "Ini aja belum puber kedua. Aduhhh... Berat di aku enak di kamu."
__ADS_1
Aku terbahak. Bisa-bisanya dia suka benar.
......................