
Aku tersenyum geli dengan tingkah Abimanyu yang ikut menjauhkan laptopnya dariku.
"Cukup, Tante disitu saja jangan dekat-dekat!" kata Abimanyu sambil melotot kepadaku apalagi dia juga menurunkan sepiring apel untuk dijadikan penghalang tubuh kami. "Pokoknya Tante stay di situ, duduk manis, istirahat!"
Mata Abimanyu sempat terpancang di seluruh tubuhku sebelum pindah ke layar laptopnya.
"Kenapa?" tanyaku pura-pura tersenyum. Aku meraih bantal sofa untuk menutupi pahaku yang terbuka. Sebab, diantara nyamannya daster aku lebih suka memakai celana pendek satin atau yang ada rendanya. Itu menambah kesan seksi.
"Kamu gak nyaman?" Aku langsung mendelik, lucu sekali pertanyaan itu. Bodoh juga kamu Bella, memangnya semua ini siapa yang salah? Remaja itu yang menghampirimu, bukan kamu Bella. Terus kenapa kamu berpikir ingin membuatnya nyaman. Ckckck, aku memang ingin dia nyaman denganku tanpa membuatnya takut pada kebiasaan ku ini. Orang dibilang janda lebih menggoda. Sayangnya Abimanyu menganggukkan kepala, lalu melirikku dan mengembuskan napas.
"Bukan gak nyaman, hanya saja Tante terlalu berani." ujarnya dengan hati-hati.
Aku tersenyum menanggapi ucapan Abimanyu hingga tanpa sadar tanganku refleks mengacak-acak rambutnya lagi. Abimanyu mendengus, bibirnya yang tipis sedikit manyun.
"Sorry deh, tolong di maklumi ya, ini suatu kebiasaan lama yang tidak bisa aku hindari kalau lagi gemes." jelasku sambil menusuk apel merah dengan garpu lalu mengunyahnya lambat-lambat, membiarkan Abimanyu menyelesaikan ketikannya di laptop sebelum tatapannya kembali beralih padaku.
"Kamu sendiri juga gak keberatan main sama janda kan? Eh tapi sebenarnya keberatan gak sih, Abi? Aku mau tau dong pendapat pribadimu tentang pertemanan ini karena rasanya kemarin-kemarin kita hanya bicara soal sesuatu yang terlihat di permukaan."
Abimanyu ikut meraih bantal sofa dan mendekapnya. Suasana jadi hening sementara bibi Marni kembali menaruh teh hangat untuk kami berdua di meja. Dan menarik piring bekas apel dan gelas kopi ke nampan.
"Abimanyu mau makan lagi?" tanyaku. "Atau mau bikin mi instan buat nemenin kamu ngerjain tugas?"
"Gak Tante, makasih." Abimanyu tersenyum malu, "aku masih kenyang."
"Bikinin roti bakar aja, Bi." pungkasku.
Bibi Marni langsung pergi ke dapur. Sementara aku menunggu jawaban Abimanyu tentang pertemanan ini dengan sabar ponselnya berdering.
"Sebentar, Tant." ujarnya dengan cepat menaruh ponselnya di dekat telinga.
"Ada apa, Ta?" tanya Abimanyu, sejenak dia melirikku lalu dengan iseng dia menutup wajahku dengan bantal sofa. Aku mengerucut bibir seraya menyingkirkan bantal itu dari wajahku. Padahal aku cuma mau nguping walaupun gayaku sewaktu nguping seperti ingin mengecupnya. Sebagai gantinya Abimanyu menahan lengan atas ku dengan tangan kanannya, seakan mencoba membuat jarak aman biar aku tidak mendengar obrolan mereka berdua.
"Aku gak bisa jemput, Ta. Sorry, aku lagi ada tugas kampus. Di rumah temen..."
Aku menutup mulut sewaktu tawaku hendak keluar. Temen katanya, aku benar-benar akan meralat semua doa-doa ku nanti. Saat aku berdoa sekaligus mengutuk semoga papi Narendra menyesal bercerai denganku dan ingin balikan sama aku lagi. Aku benar-benar tidak akan berdoa semacam itu lagi. Aku rasa, ada baiknya sekarang aku mulai berdoa agar Abimanyu jatuh cinta kepadaku dan menganggap status jandaku tidak masalah. Itu lebih bagus daripada menghaturkan doa yang mengancam diriku sendiri dari kehadiran Narendra lagi. Aku rasa, aku tidak mungkin bisa. Dia semakin terlalu jauh aku capai, bukan hanya status sosialnya tapi juga sifatnya.
Aku berusaha berdiri hingga menyadarkan Abimanyu dari obrolan renyah bersama pacarnya seputar masa-masa awal kuliah. Kudengar sekilas mereka beda kampus dan beda jurusan.
Abimanyu menutup speaker teleponnya.
"Tante mau kemana?" tanya Abimanyu dengan kepala yang mendongkak. "Sori aku abaikan."
"Santai aja, Abi. Aku mau ke kamar mandi kok, mau ikut?" Abimanyu memutar matanya, malas. "Mulai lagi!"
__ADS_1
"Sebentar doang kok, sebelum Abi kangen Tante udah ke sini lagi. Kamu nikmati aja waktumu dengan Ta-ta itu, siapa sih namanya?" tanyaku akhirnya.
"Brigitta." Abimanyu tersenyum setelah mengucapkan itu.
"Oke, salam buat Brigitta." Aku mengedipkan sebelah mata usil, lalu menjauhi Abimanyu dengan masuk ke kamar ku.
Aku menjatuhkan diri di tepi ranjang, memejamkan mata sejenak, rasanya aku terjebak di suatu kebimbangan. Antara rela dan tidak tega menjerat Abimanyu, apalagi menyakiti Brigitta. Remaja perempuan yang mungkin cinta pertama Abimanyu. Aku sebenarnya tidak tega merenggut kebahagiaan gadis itu. Tapi, sekali lagi, aku belum terima dengan ejekan Narendra dan keluarganya—Aku akan terima memang bila aku sepenuhnya cacat dan penuh cela. Aku bisa terima, namun mereka justru menunjukkan kesalahan fatal dengan menikahi Debora secepat ini. Itu membuatku yakin bahwa hubungan yang aku kira indah ternyata menjadi kenangan buruk.
Aku menghela napas untuk menahan air mata yang sudah berdesakan ingin keluar. Undangan pernikahan mereka aku pungut lagi dari tempat sampah tanpa sepengetahuan Alexa Liu. Karena apa, aku juga manusia biasa. Rasa dendam itu tetap menyala. Aku ingin mendatangi pernikahan mereka dan menunjukkan pada semua bajingan itu jika aku bahagia. Aku bahagia berpisah dengan Narendra dan berani mendatangi pernikahan mereka dengan membawa pasangan.
Tentu ada air mata, tentu saja ada sembilu duka. Tapi aku percaya semua ini akan terlewati dan aku kembali baik-baik saja. Utuh dan bahagia.
Aku mengusap wajahku di wastafel untuk menghapus jejak-jejak air mata sebelum mengganti pakaianku. Mungkin menggunakan legging lebih nyaman untuk berinteraksi dengan Abimanyu.
Aku menghampirinya seraya mengulurkan undangan pernikahan itu ke tangan Abimanyu yang siap menerimanya.
"Iya. Ntar aku bawain boba pulang dari sini." kata Abimanyu dengan senyum yang terlihat baik-baik saja. "Bye, Ta. Tugasku banyak."
Abimanyu menaruh ponselnya di meja lalu mengalihkan pandangan ke undangan itu. Tatapannya lalu tertuju kepadaku setelah sekian menit ia menilai sendiri maksud hatiku memberitahunya tentang undangan itu.
"Demi raga yang lain dia rela menyakitiku, Abi. Narendra memilih pisah dengan alasan yang mungkin kamu gak pernah percaya." Aku berjeda dengan menarik napas dalam-dalam, "Coba pikir, aku dikaruniai kecantikan dan tubuh yang diidamkan banyak perempuan lain, tapi ada sesuatu yang salah dalam diriku, Abi. Sesuatu yang menurut semua laki-laki aku tidak sempurna."
"Apa?" Abimanyu menerima sepiring roti bakar yang di ulurkan bibi Marni seraya memandangiku. Kami bertatapan lama dalam diam, namun lama kelamaan pipinya terlihat tembam saat tersenyum. Aku menyeringai.
"Aku nggak suka tebak-tebakan, Tante."
Aku memutar bola mata sambil mengikat rambutku. Sejenak aku memikirkan apa iya aku harus menceritakan perihal sebab perceraianku kepada Abimanyu? Gimana kalau dia nanti jadi ilfill dan menganggapku benar-benar tidak subur. Oh My God. Aku meneguk tehku dan mengambil satu lembar roti bakar yang diolesi Nutella.
"Tante gak jadi cerita?" tanya Abimanyu.
"Dalam dunia medis istilahnya infertilitas atau tidak subur. Kalo orang awam menyebutnya mandul, tapi sebenarnya, Abi..." Aku menyuapkan gigitan terakhir ke mulutku sambil menghela napas.
"Bukan aku kayaknya yang gak subur, makanya demi mengenyahkan tuduhan itu Tante pengen bikin penawaran sama Abimanyu." Aku menghela napas, kurasa waktunya sudah tepat sekarang. "Tapi coba pertanyaan Tante tadi Abi jawab dulu."
"Soal pertemanan beda usia?" sahut Abimanyu. Aku mengangguk.
Abimanyu menutup laptopnya lantas menaruh sepiring roti bakar coklat itu ke meja kaca berbentuk bundar.
"Aku tidak masalah berteman dengan siapa saja, terlebih dengan orang-orang yang sudah membantu keluargaku. Apapun statusnya, asal bukan penjahat aku suka-suka aja. Apalagi Tante, terlepas dari persoalan nyaris tabrakan dan hutang piutang keluargaku. Tante orang baik." jawab Abimanyu tenang, "Terus tawaran apa yang mau Tante bilang?"
Aku memastikan tak ada bibi Marni di dekat sini sebelum aku mendekatkan sedikit demi sedikit tubuhku ke arah Abimanyu.
"Temani Tante datang ke pernikahan itu dan–dan semua hutang keluargamu akan lunas kalau–kalau Abi mau, ehm-ehm, kamu udah mimpi basah?"
__ADS_1
Mata Abimanyu melebar, aku menahan tangannya sewaktu ia hendak mundur membuat jarak aman dengan ku.
"Denger dulu, dengar Tante ngomong dan plis jangan takut. Please, ini gak seperti yang ada di kepalamu, Abi." kataku syarat sentimental.
"Terus apa Tante, kenapa bawa-bawa mimpi basah segala. Gak beres pasti! Yakin gue." katanya dengan gugup.
Aku meraih jemarinya dengan sedikit memaksa menggenggam tangannya. Abimanyu menunduk karena tidak berani menatapku.
"Bayi tabung, Abimanyu. Kamu hanya perlu menyumbangkan sesuatu yang kamu punya tanpa perlu melakukan penetrasi secara alami."
"Maksudnya?" tanya Abimanyu dengan suara bergelombang. Keningnya mengernyit keras.
Demi Tuhan aku ingin menampar pipiku sendiri atas kenekatan ini. Tangan Abimanyu menjadi dingin, mana dia langsung memasang wajah panik. Ya ampun. Aku menelan ludahku dengan susah payah dan mengeratkan genggamanku.
"Maksudnya, ehm... Aku harus membuktikan kalo aku bisa hamil Abimanyu, aku gak mandul dan semua hutangmu lunas kalo program bayi tabung kita berhasil!"
"Maksudnya aku jadi ayah gitu?" sahutnya dengan nada tak percaya.
"Iya,"
Buru-buru, Abimanyu langsung menarik tangannya dari genggamanku dengan maksa. Dia pun langsung memasukkan laptopnya dengan paksa ke dalam tas sambil ngomel-ngomel.
"Tante gila, Tante gak mikir apa kalo dengan begitu Tante ngehancurin masa depanku! Dah–udah, aku mau pulang. Aku bakal bilang mama untuk melunasi hutang Tante dengan cepat!"
Abimanyu berdiri, dengan rahang mengeras dia menatapku yang mendongkak menatapnya penuh harap.
"Dari awal Tante emang gila!" cerocosnya.
"Denger dulu, Abi. Aku belum selesai ngomong." cegah ku sambil berusaha meraih tangannya, tapi Abimanyu langsung mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Harusnya Tante sadar, sejak awal om-om itu minta cerai secara mendadak om-om itu pasti sudah punya rencana lain setelah cerai dari Tante! Untuk apa juga Tante datang ke pernikahan itu, Tante munafik? Tante ingin mengaku kepada semua orang dan diri sendiri kalo Tante sudah baik-baik saja, tapi kenyataannya yang aku lihat enggak Tante."
"Emang enggak bodoh!" sahutku kesal, "Aku gak akan pernah baik-baik saja selama aku gak bisa menunjukkan bahwa apa yang Narendra ucapkan salah. Dan kamu, satu-satunya laki-laki yang aku harapkan untuk bisa membuatku lebih baik Abimanyu, kamu yang aku pilih karena aku gak punya pilihan lain dan gak mau mencari!"
Aku berdiri setelah mengembuskan napas lelah. Suasana ini sedikit emosional bagiku atau terlebih bagi Abimanyu sendiri.
"Maaf, mungkin permintaanku kejam Abi, seharusnya aku sadar diri. Lagian remaja sembilan belas tahun mana yang mau ikut berkorban demi sedikit menaikkan harga diri seorang perempuan yang diinjak-injak karena tidak subur. Mungkin itu cuma remaja khilaf. Jadi pulang aja, anggap permintaan ku tadi cuma bercanda!"
Aku mempersilahkan Abimanyu keluar dengan menolehkan kepalaku ke pintu rumah.
"Jangan pernah kesini lagi untuk ngasih perhatian yang mungkin bagimu sepele, tapi bagi aku yang lagi di gembleng sama Tuhan, itu bikin aku senang. Trust me, Abi. Sekalipun kamu menjadi ayah biologis, aku tidak akan minta apapun dari kamu. Apalagi pernikahan. Aku hanya ingin hamil, meskipun dengan cara yang tidak lazim."
Aku berbalik, mempercepat langkahku menuju kamar dan menguncinya. Aku menjatuhkan diri di kasur, memukul-mukul bantal seakan luapan emosi yang aku rasakan bisa tersalurkan.
__ADS_1
"Tante, tante. Buka pintunya!"