Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
I love you


__ADS_3

Setengah jam kemudian, Abimanyu pura-pura tidak mengamatiku meski dia tetap di dekatku, menungguku makan soto komplit sambil mengurus pekerjaannya lewat telepon.


"Well done and back to work." kataku pada diri sendiri seraya beranjak, membereskan bungkus makanan dan membuangnya di tong sampah. Kembali kerja akan membuatku kembali fokus dan anggun. Itu pasti karena tidak ada Abimanyu.


"Mau pulang?" Abimanyu menaruh ponselnya, senyumnya masih terlihat takjub ketika menatapku.


Aku mencebikkan bibir. Abimanyu sudah menciumku dan itu menyebalkan karena aku kehilangan ahli dalam bermesraan.


"Gak usah liat aku kayak gitu juga kali kek gak pernah lihat bidadari kelebihan lemak!" Aku menyambar handuk diiringi kekehan Abimanyu.


"Seksi kok, seksi sekali." guraunya seraya menangkup jariku. Abimanyu mendongkak, sinar lampu membuat matanya semakin berbinar. "Tante harus tau, aku suka Tante seperti ini. Self love dan tidak terlalu perfeksionis untuk aku yang gak bisa menandingi apapun yang Tante miliki." Ada sisi malu-malu dari suaranya ketika mengungkapkan itu.


"Udahlah, jangan bahas itu terus. Kalo cinta mah cinta aja." sahutku gemas sembari menyentakkan dagu. "Keluar yuk, aku udah gak ada kekuatan untuk nge-gym."


"Gym or dating?" timpal Abimanyu, matanya yang berbinar kini tertawa. "Malu ya punya pacar baru?"


"What?" Aku membuang muka sembari menarik tanganku sebisa mungkin, tapi Abimanyu itu tetap menggenggam tanganku. "Lepas dong, mau bikin aku jantungan?"


Telapak tanganku tertempel di dadanya. "See?"

__ADS_1


"Aritmia." Aku tersenyum maklum, "udah makanya, kerjaan udah nunggu tuh jadi harus profesional." kataku mengingatkan.


"Itu bukan alasan, Tante." Abimanyu berdiri, "Aku udah punya jadwal sebulan ke depan, Tante mau lihat?"


"Gak!" Aku menggeleng, "Kita ketemu sebisanya aja dan itu harus private. Aku gak mau mukaku tersebar di berita gosip dan karirmu merosot. Ngerti kan maksudnya?"


"Baby or babe!" imbuh Abimanyu menegaskan, "panggil aku itu seperti dulu, Tante."


Mulutku berkedut, perutku melilit. Rasanya aku ingin menenggelamkan wajahku di wastafel. Aku jelas kaku mengucapkan kata itu sekarang, menganggap kami pacaran saja bikin aku salah tingkah.


"Iya, babe." kataku malu, itupun sambil menunduk.


"No, no, no." Aku menggeleng, membelai dadanya, menenangkan. "Aku gak mungkin istirahat setelah kejadian ini. Aku masih terlalu resah untuk sendirian. Aku harus kerja!"


"Iya," Abimanyu mengangguk, ekspresinya mengisyaratkan terserah Tante, air muka itu dibarengi dengan alasan kenapa dia menawarkan untuk mengantarku kerja. Mobil dan tasku dibawa kabur geng kemayu.


"Jadi gimana?" Mukanya kali ini menunjukkan ajakan yang menggoda, Abimanyu mencondongkan tubuhnya, menaruh satu tangannya di tembok ketika aku bersandar sambil melingkarkan handukku di leher.


Cicak. Cicak, aku harap kamu datang. Biar aku bisa histeris tanpa menimbulkan kecurigaan Abimanyu jika ia benar-benar membuatku bertekuk lutut.

__ADS_1


"Gimana, mau tetap disini atau ikut bersamaku Tante?" Abimanyu menarik handuk di leherku dengan hati-hati. "Mau terus seperti ini?" Handuk itu melayang ke meja pendaftaran. Hembusan napas Abimanyu menerpa leherku. Aku merinding.


"Ke klinik kalo kamu mau membuang waktu lebih lama ke sana." kataku gugup.


Abimanyu mengulurkan tangan dan memegang tanganku. "Aku seneng lihat Tante jadi perawan bau kencur lagi. Malu-malu mau."


"ABI!" jeritku, "udah dong." protesku sembari berjalan mengikuti langkahnya.


"Habis, Tante yang dulu bukan Tante yang sekarang. Apa itu artinya aku harus bersyukur atas pengalaman Tante selama dua tahun sembunyi dari hidupku?" Abimanyu membuka pintu keluar masuk Adorable Gym kemudian bersandar di tembok lorong sepanjang enam meter yang hanya memiliki satu lampu jingga. Temaram yang aku rasakan, tetaplah temaram yang indah.


Aku mengangguk, maka senyumnya menjadi lega. "I love you." ucapnya lirih


Aku menekuk satu lututku seraya membungkuk seperti seorang pelayan. Pelayan yang akan melayaninya nanti jika kita menikah.


"Makasih, babe." Aku menyentuh pipinya seraya menangkup kepalanya dan melepasnya buru-buru. "Ini sudah diluar privasi kita jadi jangan sentuh-sentuh aku, jangan panggil aku sayang atau apapun itu. Ambil mobilmu. Aku tunggu di lobi."


Abimanyu tertawa tanpa suara. Hanya jakunnya yang bergerak-gerak dan seketika mendahuluiku sembari bersiul-siul. Tapi hanya sedetik, karena kemudian dia berbalik seraya memelukku.


"I love you."

__ADS_1


...***...


__ADS_2