Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Suaranya sama


__ADS_3

Aku menatap selembar kertas dan pulpen yang tergeletak di atas meja di ruang keluarga. Aku meringis di depan dua orang yang terus menyuruhku menulis balasan untuk Abimanyu.


"Apa aku harus membalas suratnya, Joe?" tanyaku ragu, "Aku rasa tidak perlu, dia sudah mengembalikan semua uangnya dan yang kita sepakati sudah batal. Semua sudah clear. Seharusnya dia senang dong bebas."


"Clear menurut nyonya belum tentu clear menurut Abimanyu. Pahamilah, setidaknya surat itu sudah cukup baginya untuk tenang!"


"Betul, Nyah. Kasian lho Abi tiap kesini pasti putus asa." sahut Bibi Marni. "Gak tega bibi lihatnya, mana tiap kesini pasti habis kerja dari luar kota."


Aku pertimbangkan baik-baik, cukup lama sebenarnya saat memikirkannya. Aku takut ketika surat itu telah di baca Abimanyu, keberadaan ku terendus. Tapi kalau dibiarkan berlarut-larut, harusnya aku sadar diri ini tidak baik. Potensi-potensi patah hati itu akan mengental seperti rindu ini.


Aku meraih pulpen dan mulai bersikap seolah-olah aku anak sekolah dasar yang harus mengerjakan pekerjaan rumah tanpa bantuan siapapun.


"Aku bingung, kira-kira aku harus nulis apa Joe, Bi." ucapku nyerah. "Aku gak pernah bikin surat cinta." kataku jujur, aku benar-benar bingung.


"Really?" sahut bibi Marni sambil cekikikan, Joe yang melihat mukaku sebingung waktu aku pertama kali meninggalkan rumah ini mengulum senyum.


"Balas saja apa yang ada di hati nyonya."


"Tapi di hatiku itu banyak cobaan, Joe. Apalagi untuk perasaan sekarang!" sahutku kesal. "Gak usah di bales deh. Kalo jodoh pasti ketemu lagi kok."


"Lalu bagaimana dengan klinik nyonya? Bisnis keluarga? Dan rencana nyonya untuk menjadi anggota partai politik?" urai Joe dengan serius. "Sudah lama nyonya bersenang-senang, kembalilah dan tata hidup nyonya mulai hari ini."


Aku mendadak lemas dan malas-malasan. Selama aku tinggal, aku hanya menyuruh anak buah untuk mengurus semua dan aku hanya mengawasinya dari jauh. Lewat email, cctv dan laporan dari orang kepercayaan. Sekarang semua harus dimulai dengan badanku yang sangat aduhai ini dan kulitku yang gosong. Apa kata dunia? Beberapa fashion style juga sudah berubah, jadi aku harus merawat diri, gym dan belanja.


"Oke, tapi aku ada misi selama satu bulan ini. Rahasiakan keberadaan ku dari geng kemayu, Narendra, terlebih Abimanyu. Hidupku tak seseksi dulu. Aku malu!"


Lagi-lagi Joe dan Bibi Marni cekikikan dan menahan senyum.


"Gak lucu tau!" Aku menggebrak meja dan berdiri, "Aku harus istirahat, sementara itu kalian mikir aku harus nyamar jadi apa besok."


Bibi Marni dan Joe tercengang sebelum aku berbalik. Aku gak akan ke kamarku, itu bekas Abimanyu dan Narendra. Alahasil aku memilih tidur di kamar mama dan papa sampai keesokan harinya.

__ADS_1


"Nyonyah jadi ke mal hari ini?" tanya Bibi Marni sambil menaruh sarapan di meja makan.


"Iya,"


"Bibi ikut deh."


"Gak usah, orang nanti pada tahu kalo bibi Marni ke mal itu tandanya ada aku!" sahutku cepat-cepat, "besok bibi ke mal sama Joe aja. Aku janji." imbuhku gelisah.


"Bener ya, Nyah? Bibi bosen dua tahun di rumah aja."


Aku mengangguk dan meneruskan kegiatan ku, sarapan pagi. Makanan kesukaan mama dan papa, hatiku jadi menghangat akan rasa bahagia.


"Aku udah bilang mobil dari Narendra di jual aja, Joe. Sama mobilku ini, aku bosen." kataku di dalam garasi, sumpah, dua tahun aku pergi tak ada yang berubah di rumah ini. Semua masih sama dan di rawat dengan baik.


"Aku perlu pembaruan termasuk renovasi rumah, Joe. Akan aku hubungi orang properti secepat yang aku bisa."


"Ya." Joe mengangguk, "Saya carikan taksi online terlebih dahulu nyonya, silahkan duduk."


***


Aku menghirup udara sejuk dari air conditioner di dalam mal sembari mengucapkan selamat untuk diriku yang masih aman berkeliaran disini. Aku membeli banyak pakaian baru dengan uang cash, itu salah satu trik untuk menghindari pelacakan yang bisa di lakukan Narendra dan geng kemayu. Walaupun kecil kemungkinan.


"Saatnya nge-gym." Aku keluar dari toilet mal dengan memakai baju olahraga dan tetap memakai tahi lalat palsu di tengah-tengah kening dan hidungku. Apalagi rambutku pendek dan aku keritingkan. Satu hal baru yang lucu.


Tiba di Adorable Fitness, semua mata langsung pindah ke padaku dengan senyum geli. Aku pun juga tersenyum geli yang aku tahan sekuat tenaga.


"Ada yang bisa gue bantu?"


Hatiku mendadak mencelat, dibelakang ku ada cowok, badannya kekar. Aku berbalik lalu menggeleng kepala.


"Bisa kok, kak. Ini lagi ehm, mau pemanasan." aku ku sambil meremas handuk.

__ADS_1


Matanya menyipit. "Anak baru?"


"He'eh." Aku menganggukkan kepala dengan cepat.


Laki-laki itu terus tersenyum lebar, jari telunjuknya mengarah ke pintu di sebelah barat.


"Ikut di kelas pemula dan sesuaikan kebutuhan elo di Adorable Fitness dulu. Nanti ada personal trainer yang ngajarin!" ucapnya hati-hati.


"Oh oke, terima kasih sarannya." Aku tersenyum seraya meninggalkannya dengan langkah kecil yang malu-malu.


"Dia kira gue cupu beneran." Aku berbelok, keningku menubruk tulang dada seseorang yang datang dengan terburu-buru.


"Sorry banget." ucapnya tak kalah kaget dengan ku. Mataku melebar, seluruh ototku menegang.


Dalam balutan kaos oblong abu-abu dan celana panjang semi olahraga. Berdiri di depanku seorang Abimanyu yang semakin kekar dan berwajah bersih. Jerawat-jerawat yang aku rindukan sudah lenyap dan kini yang tersisa hanya manisnya sebuah senyuman.


Aku mengeleng dengan kepala menunduk. Menghindar matanya yang seakan-akan menangkap keterkejutanku dengan lihai.


"Gak masalah, aku bukan ditabrak tiang listrik, aku cuma kena tulang. Permisi." kataku buru-buru dan sebelum langkahku benar-benar menghindarinya, bahuku tertahan oleh tangan manusia itu.


"Sebentar."


"Ya."


"Sepertinya kita pernah ketemu."


"Sepertinya doang kan. Jadi permisi!"


Aku menyingkirkan tangan Abimanyu dari bahuku, tetapi hal yang tak aku duga-duga terjadi. Abimanyu menggenggam jemariku.


"Sedikit beda. Tapi suaranya sama."

__ADS_1


...***...


__ADS_2