Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Secepatnya 2


__ADS_3

Secepatnya...


Kala kalimat itu terdengar sangat meyakinkan, sejujurnya aku merasa sedikit ada yang mengganjal di hati.


Kutemui ketua geng kemayu seminggu setelah dilamar Abimanyu pukul sembilan malam. Sisca menuangkan segelas minuman jahat untukku, dalam gelas itu ada dua es batu dan irisan lemon.


"Kenapa jadi ragu?" tanya Sisca, dia sendiri langsung menghabiskan minumannya.


Aku menggeleng, lima hari kemarin aku menghabiskan waktu dengan berolahraga rutin dan memantau kegiatan Abimanyu dari jauh pengawal ku. Tidak ada kegiatan yang menyakitiku, dia hanya berbaur dengan teman-temannya, nongkrong dan mengikuti kegiatan industri hiburan. Sementara berat badanku tidak turun-turun.


Alih-alih aku bahagia dengan hidupmu sekarang, aku stress pasca lamaran.


"Aku nggak ragu Sisca, aku cuma. Abimanyu tau aku anak tunggal dengan banyak harta. Di usianya sekarang yang masih labil, aku takut dia hanya memandangku sebagai ladang uang dan pencapaian laki-laki," Aku menatap Sisca penuh arti, dia mengangguk. "Walaupun Abimanyu setuju dengan perjanjian pranikah, dia udah tanda tangan malah."


"Takut cerai lagi?" tukas Sisca.


"No, aku takut dia tidak merasakan bahagia ketika kami udah nikah. Dia masih seumuran anak kamu, Sis. Hellow, seusianya baru senang main. Jam segini aja anakmu baru aja cabut dari rumah Aku takut kebahagiaanku merenggut kebahagiaannya."


"Bilang dong sama Abi, jangan cuma jadi penakut dan tercupu." Sisca mengendik-endikkan bahunya. "Bahaya juga Abi." Tubuhnya berputar, berjalan ke arah jendela dan membukanya.


Aku mendesis, bahayanya Abimanyu hanya untukku. Serangan dari sekujur tubuhnya hanya untukku.


Aku kembali meneguk minuman yang entah kenapa semakin lama aku nikmati.


"Besok aku ke rumah orang tuanya. Deg-degan aku, Sis. Takut nggak di restui."


Sisca terbahak, dia meludah ke luar jendela. Sialan. Ngeledeknya minta ampun.


"Elo takut sama keluarga Abimanyu daripada keluarga Narendra? Bella, Bella. Lucu juga kamu. Padahal mereka tidak bisa berbuat banyak ketimbang mantan suami kamu! Dia mengajukan cerai di pengadilan agama, Debora stress. Dan elo harus hati-hati."


Kami berdua menoleh tepat di anak tangga. Anak kedua Sisca yang masih harus mematuhi aturan malam pulang kurang dari jam sepuluh terbelalak melihatku. Setiap langkah terpatri di lantai dengan cepat dan takjub.


"Tante Bella pacaran sama Julian Rudolf?"


Aku menyemburkan minumanku ke udara. Sisca yang sejak tadi merokok langsung membuangnya ke luar jendela yang menghadap ke taman belakang. Dia mendekat, menyambar ponsel anaknya yang di sodorkan padaku.

__ADS_1


"Anjing." umpat Sisca, dari nadanya aku tahu itu bukan kabar baik. "Foto lo sama Abi ciuman di depan rumah, Bella!"


Rahangku terasa kaku, mataku nyaris melotot keluar. Kuraih ponsel Abigail dan melihatnya, ampun.


"Sis, mukaku kemana-mana."


"Dari dulu muka elo pasaran, di baliho, di spanduk, selebaran brosur!" desisnya tajam, "telepon Abi sekarang, suruh ke sini!"


"Jadi Tante Bella beneran pacaran sama Julian Rudolf, mam?" sahut Abigail. Mata penasaran itu langsung menubruk terpampang jelas di mataku.


Aku menghela napas, menunggu Abimanyu mengangkat panggilanku.


"Come on, baby." gumamku.


"Oh shiit." desis Abigail seraya menutup mulutnya. "Tante beneran ada main sama Julian, oh-oh, dadaku syok mama. Julian..." teriak Abigail dengan dramatis.


"Diam dan duduk!" sergah Sisca, menyeret anaknya ke kursi. "Mama minta kamu diam dulu sebentar."


"Hai, babe. Babe, aku rasa kamu udah tau kenapa aku telepon malam-malam gini." Aku mengangguk, Abimanyu bilang dia juga di landa gelisah mengenai foto skandal itu.


Panggilan terputus, kakiku langsung goyah. Tanganku bertumpu pada tepi meja marmer.


"Karirnya pasti terancam, Sis. Ini salahku. Abimanyu pasti tertekan sekarang. Harusnya kemarin kita ciumannya di dalam rumah!"


Sisca menyingkirkan poni yang menutupi mataku. Bibirnya tersenyum hangat. "Kita tunggu Abimanyu, Bella!"


Aku menarik napas dalam-dalam. Kepalaku sudah di penuhi oleh rangkaian kata. Namun rangkaian itu semakin lama semakin berputar dan bundet.


"Abi, sorry."


***


Semilir angin malam terus membelai tubuhku di pinggir jendela. Aku menunggu Abimanyu lebih dari satu jam. Sisca dan Abigail menatapku dengan wajah penuh ekspresi.


"Jadi sebelum Julian Rudolf jadi artis, dia udah kenal sama Tante Bella dan mama! Keren banget lah, mama kenapa gak bilang-bilang sih kalo Julian temen mama. Aku ngefans sama dia." seru Abigail dengan ceria.

__ADS_1


"Terus kamu mau apa kalo ketemu Julian? Dia pacar Tante Bella!"


Mantan inceran mama kamu juga, Gail. Mama kamu kan kesepian. Heu, kasian nggak tau.


"Mau foto dong, terus pamer ke temen-temen. Tau nggak, ma. Julian lagi keren-kerennya. Bentar lagi dia bakal rilis film baru, film horor!"


"See?" Aku menunjuk sikap anak Sisca yang mewakili fans-fans Abimanyu. Remaja, fanatik, dan heboh. Pasti, penggemar Abimanyu dan managementnya mulai mempertanyakan kelainan cinta yang dimiliki Abimanyu untukku. Dan, riwayatku pasti dikulik habis-habisan oleh media.


"Aku harap aku bisa tambah bijak dan Abimanyu bisa sabar melewati ujian ini, Sisca. Aku takut dia kecewa dan pergi."


Dari arah anak tangga, muncullah pembantu rumah tangga Sisca, lalu Abimanyu dan Kevin. Anjay, kenapa Kevin ikutan ke sini. Dia kan, manager Abimanyu.


Aku batal minta peluk dan terpaku di tempat. Abimanyu menyapa Sisca dan anaknya yang berlonjak-lonjak kegirangan tanpa suara dengan senyuman.


"Bella." Abimanyu menarik tubuhku ke pelukannya. Selama beberapa detik jemarinya membelai rambutku. "Bukan salah kita."


Aku mengerjap menatapnya. "Tapi ini yang aku takutkan, Abi. Karir kamu." kataku sedih.


Abimanyu mengelus pipiku dengan ujung jarinya, seakan dia mengerti kemuraman yang ada di mataku.


"Oke ladies and gentleman, pelukannya udah." Sisca merenggangkan tubuh kami berdua. "Ada anak gue yang liat, mulutnya ember kemana-mana. Jadi ntar lagi boleh, cuma sekarang kita urus masalah kalian dengan Kevin."


Aku melihat muka Abigail yang kesengsem melihatnya Abimanyu.


"My Baby." Aku melotot ke arahnya.


"Huahahaha, ngefans doang kok Tante. Lagian aku mana bisa saingan sama tante-tante!" aku Abigail. "Tapi kak Ian, kenalan dulu." Ia bersikeras.


Abimanyu mengulurkan tangannya. Senyumnya terkesan tajam dan serius. Abigail yang senang dan malu langsung duduk di sebelah ibunya. Ia diam.


Sementara aku berjalan ke mesin pembuat kopi, Abimanyu menyugar rambutnya dengan keras.


"Aku rasa ada yang iseng, Tante. Om Rendra. Dia balas dendam!"


...*********...

__ADS_1


__ADS_2