Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Genting-genting kepedihan


__ADS_3

Gerimis luruh, awam kelabu menaungi perjalananku menuju kantor pribadi Narendra Wicaksono. Benar, dia sudah tidak menjadi pejabat negara. Pengabdiannya kepada masyarakat sudah selesai satu tahun lalu.


Mengingatnya, aku jadi ingat bagaimana dulu ketika ia mengajukan diri sebagai penjabat negara, menemaninya kampanye, mengumpulkan masa dan mengharuskan diriku sempurna tanpa cela adalah salah satu itikad baik yang hanya bisa seorang mantan model dan dokter kecantikan lakukan. Semua kelakuanku harus sempurna, cantik, dan lembut demi eksistensi dan martabatnya. Meski aku tidak keberatan keadaan itu kadang membosankan.


Tiba di gedung bertingkat lima. Kantor Narendra Wicaksono mengusung tema arsitektur Mediterania. Bangunan ini sengaja di buat tak tinggi seperti pencapaiannya di dunia bisnis.


Joe menarik rem tangan seraya memiringkan tubuh.


"Nyonya siap?" Itu seperti bukan pertanyaan, melainkan tantangan yang harus aku hadapi.


Aku mengangguk lemah. "Temani!"


Aku menjinjing koper uang setelah menarik tunai di bank yang menjadi langganan Narendra dalam mencairkan dana untukku. Ada sejumlah uang sebesar nyaris tiga ratus juta. Uang bulanan darinya yang aku pakai kadang-kadang dan aku ganti setelahnya.


Aku menghela napas, sudah lama kakiku tidak menjejak lantai gedung ini. Dan dari apa yang kerap terjadi selama ini, semua staf dan karyawan kantor slalu memujaku dengan senyuman, hanya saja kali ini mereka melihat ku dengan muka terperangah.


Aku menaikkan koper uang ke meja penyambut tamu. Seorang laki-laki dengan baju safari hitam, tinggi, cepak, menyambutku dengan hormat yang tercekat.


Aku bertumpu dengan kedua tangan dengan sedikit mencondongkan tubuh.


"Hubungi sekertaris Narendra Wicaksono jika Bella Eliss datang. Aku tunggu di sini."


"Saya usahakan nyonya Bella." Dia langsung memencet telepon intercom dengan muka panik, aku mengacungkan kedua jempolku seraya menyaut koper uang.


"Duduk Joe, berlagak lah seperti pria yang gagah dan mengancam." Aku mengingatkan, "jangan pernah terancam dengan mereka!"


Aku mengedarkan pandang, beberapa orang yang Joe yakini adalah orang-orang yang menguntit keberadaku berdiri di setiap sisi penjuru gedung ini. Mereka terhubung dengan earpiece, alat penghubun rahasia yang kerap di gunakan para pengawal.


"Bapak Narendra bisa menemui nyonya Bella di atas tanpa pengawal nyonya!" ucap si penyambut tamu, menatap Joe sekilas sembari mengatupkan tangan.


"Aku tidak akan pergi ke ruangannya, itu sudah jelas. Suruh dia yang turun ke sini! Lagian apa kalian juga gak ingat dulu kalian mempersulitku masuk ke ruangan itu." Aku bersedekap, "Satu lagi, mereka semua menguntit ku selama ini. Jadi untuk apa dia gengsi menemuiku!" kataku sembari melotot.


Penguntit ku menunduk dan memalingkan wajah.

__ADS_1


"Saya usahakan lagi nyonya." Si penyambut tamu berbalik, langkahnya terlihat tegap dan merosot ketika kembali memegang gagang telepon.


"Kalian semua pengecut!" teriakku.


"Nyonya, diamlah." Joe menarik tanganku, menggeleng. "Orang kita belum datang, bahaya!"


Aku mengeraskan rahang dan duduk.


Lama setelah keadaan hening yang mencekam seperti kelamnya malam di tengah hutan. Lift dengan warna emas terbuka. Narendra menyentakkan dagu, menyuruh semua orang keluar kecuali Joe.


"Dia akan menjadi saksi, suruh orangmu juga untuk menjadi saksi mas Rendra." Aku mempersilahkan dengan nada datar.


Narendra menatap koper uang yang aku bawa sekilas sambil berdiri.


"Untuk apa itu?" tanyanya datar.


"Duduk dan tarik napas mas, obralan ini serius." Aku mempersilahkannya duduk di depanku.


Narendra tersenyum kecut hingga satu orangnya bergerak mendekati kami bertiga.


"Aku minta maaf telah mengembalikan uang bulanan dari kamu. Bukan karena aku nggak butuh, aku slalu butuh banyak uang untuk mengelola bisnis orang tuaku, cuma aku ingin menghargai pasangan ku sekarang dengan tidak lagi menerima uang bulanan dari kamu mas. Maaf, terimalah dan jangan tersinggung."


"Sepenting itu dia bagi kamu, Bella?"


Aku terpanah, Narendra mengetahui hubungan ku dengan Abimanyu? Luar biasa kerja orang-orangnya.


Aku mengangguk, memasang senyum senang mengingat kekasihku sedang ngambek dan tidak menghubungiku.


"Lebih dari apapun." kataku serius, "Aku mencintainya setelah berusaha melupakanmu dengan susah payah."


Narendra menyuruh orangnya untuk membuka koper uang yang aku bawa.


Dia terlihat tersenyum miring. "Aku pastikan dia tak bisa memberi apapun yang pernah aku berikan kepadamu, terlebih ketika dia tahu, usahanya sekarang cuma aji mumpung!"

__ADS_1


Aku mengangguk, tak keberatan dengan ucapannya.


"Kamu benar mas, dia tidak memiliki banyak uang, tapi dia lebih banyak mempunyai hati yang menjadikan aku perempuan paling sempurna di hidupnya."


"Kamu yakin dengan ucapanmu, Bella? Apa kamu tidak berpikir jika ia hanya akan menumpang hidup denganmu? Kekayaanmu?" Narendra menatapku serius, sedikit ada rasa geram dari matanya.


"Aku justru berharap dia melakukan itu karena sesungguhnya hanya setia yang aku harapkan darinya, dari laki-laki yang dulu pernah mendampingiku juga."


Aku tersenyum miring seraya berdiri. Joe mengikuti, badannya membentuk perisai waspada. Satu yang paling seram darinya, dia membawa senjata api legal yang ia dapat dari usahanya di club Perbakin. Sebuah organisasi yang bergerak dalam cabang olahraga menembak dan berburu.


Narendra menyentakkan jas kerjanya setelah berdiri. Ekspresi wajahnya kini terlihat kecewa namun keangkuhan masih bisa aku lihat dari caranya menatapku dan uang yang aku kembalikan.


"Keluarlah tanpa pernah berbalik lagi, Bella." ucap Narendra dengan nada sarat emosional. "Tapi perlu kamu ketahui bawah aku mencarimu hanya untuk melihatmu baik-baik saja."


"Aku baik-baik saja." kataku, "Bagaimana denganmu?"


Aku mengangkat tangan cepat-cepat. "Tidak perlu dijawab! Jangan dijawab jika itu membuka lukamu."


Narendra berbalik, bahunya merosot. Aku sakit melihat kekayaannya harus kalah dengan satu kata paling jahat yang menggerus kebahagiaan.


"Berjanjilah untuk bahagia tanpa anak mas Rendra, berjanjilah lepaskan yang menyakitimu dan berbahagialah tanpa mengusikku." teriakku sebelum dia tenggelam di dalam lift. Kotak besi vertikal itu mengangkatnya ke tempat yang pernah menjadi pelepasan hasratnya bersama Debora.


Aku menghela napas seraya berbalik.


"Joe, kita masih banyak urusan. Kamu udah lapar belum?"


"Situasi yang menegangkan membuat saya sedikit cemas. Saya sedikit lapar nyonya." jawab Joe.


"Bagus, ayo kita cari makan dulu sebelum mendatangi apartemen cowok ngambek."


Aku mengacak rambutku dengan frustasi. Bisa-bisanya ngambek gitu aja, padahal kemarin-kemarin mana pernah sekalipun setiap kita ketemu Joe ada di antara kami.


Joe mendorong pintu kaca dan hujan semakin deras mengguyur genting-genting kepedihan hati Narendra Wicaksono dalam ruangannya.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2