Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Kurir sialan


__ADS_3

Singkat namun berarti, kedatangan dokter Billy serupa senja. Membuat bahagia dan upaya untuk sembuh sepertinya sudah di depan mata. Tubuhku berkeringat, dan nyut-nyutan di kepalaku hampir menghilang. Aku terduduk lemas di tepi ranjang sore harinya sehabis tidur yang teramat lelap dan nyenyak.


"Bi, bibi..." panggilku, suara tv kemudian menghilang tergantikan dengan suara sahutan iya Nyah, iya. Dengan derap kaki yang perlahan mulai mendekat.


"Ada apa, Nyah?" tanya bibi Marni di ambang pintu.


"Jam berapa Billy pulang?"


"Tiga puluh menit yang lalu, Nyah."


"Apa!" pekikku dengan cepat. "Lama banget dia disini, bibi mengawasinya tidak?" seruku, aku takut Billy yang kadang setengah tulen tapi seringnya normal jika ada wanita yang dia inginkan mengapa-apakan aku.


"Jawab, bi!" sentakku sambil berdiri. Jangan sampai Billy iya-iya sama aku, Billy itu kakak, kita kuliah di universitas yang sama selama bertahun-tahun, kita sering jalan bareng, nonton bareng, apa-apa cerita, kita saling terbuka, makanya dia menyebutku angel, cuma waktu aku dekat dengan papi kita sama-sama menjauh.


"Aku jagain kok, Nyah. Orang mas dokter ikut nonton tv sama bibi."


Tapi muka bibi Marni cengengesan mana langsung berlagak mengelus-elus dasternya biar halus. Mana bisa aku percaya.


Aku menyipitkan mata sambil mendekat. "Yakin?" desakku, merapikan rambut bibi Marni yang mencuat kemana-mana. Bibi pasti habis rebahan. Aku mengerucutkan bibir, memang enak kerjaannya, sisa hari bisa ia gunakan untuk santai-santai atau ngerumpi dengan teman sejenisnya di emperan rumah.


Bibi Marni mengulum senyum lalu mundur selangkah. Kaki kirinya hendak bergerak mundur seperti ingin mengambil ancang-ancang untuk kabur.


Aku menahan lengannya. "Ayo bibi jawab kalo enggak Bella sedih, nangis lagi, nelangsa lagi." dustaku biar bibi buka mulut.


Sadar, ancamanku mungkin terdengar memilukan, bibi Marni kembali cengengesan dan mengangguk dengan muka takut-takut.


"Dokter Billy memang di kamar nyonyah satu jam, bibi yang bosen jadi dan banyak kerjaan keluar bersih-bersih rumah. Habis itu nonton tv, tapi nyonyah tenang aja setiap bibi lewat dokter Billy cuma mainan hp kok."


Kok, kok, kok. Bibi mah gak tau aja akal bulus manusia itu banyak. Ah, aku membalikkan tubuh dengan kesal seraya melemparkan diri ke kasur.


"BILLYYYY..." jeritku, aku terbatuk-batuk sambil memukul-mukul kasur. "Awas kalo cinta, awas!"


"Emang kenapa, Nyah? Itu kan wajar." timpal bibi Marni. Aku membalikkan badan, lalu menatap bibi Marni dengan pandangan sinis.


"Aku sebel sama bibi, harusnya tadi bibi jagain aku selama Billy di kamar ini. Udah ah, aku mau mandi, bibi siapin makan."

__ADS_1


"Siap, Nyah." Bibi Marni menoleh ketika mendengar suara bell di pencet.


"Jangan-jangan itu Billy lagi." gumamku dengan panik seraya menyembunyikan tubuhku lagi ke dalam selimut.


"Kalo dia Billy, bibi bilang aku masih tidur habis minum obat!" kataku mengingatkan bibi Marni.


"Siap, Nyah. Siap."


Sementara bibi Marni mempercepat langkahnya karena sepertinya tamu itu suka main bel dengan tak sabaran aku menutup kepalaku sambil sesekali memejamkan mata dan membukanya.


"Jangan Billy, jangan Billy. Aku mohon Tuhan. Dia bukan jodohku!" kataku berkali-kali dalam selimut. Dalam dada, terasa harap-harap cemas kalau dia datang lagi. Mau apa lagi, belum puas dia lihat aku sepanjang siang tadi. Aku meringkuk takut dengan badan yang terasa pegal-pegal.


"Nyah, nyonyah." Bibi Marni menepuk-nepuk punggungku. "Bukan dokter Billy." kata bibi Marni dengan suara lirih dan dekat sekali dengan telingaku.


"Siapa?" tanyaku lirih, tak mau membuka selimut. Aku tidak mau menduga siapa yang datang.


"Kurir, mau nganterin bakso buat Tante Bella."


Aku langsung menyingkirkan selimut tebal yang menutupi tubuhku dan berusaha duduk di tepi ranjang.


"Gak mungkin kurir aku gak pesan apa-apa, bi." kataku seraya mendekati jendela. Ku singkirkan gorden putih berenda sedikit demi sedikit. Ku arahkan tatapanku pada teras rumah yang terlihat begitu jelas dari kamarku.


"Beneran kurir." gumamku kecewa. Aku berbalik tak bertenaga menghampiri bibi Marni. "Dari siapa katanya?"


"Rahasia, nyonyah harus ambil sendiri ke depan kalo mau tau jawabannya Belum di bayar juga katanya."


"Apahhhhh!"


Aku kembali menjatuhkan diri di kasur dengan tak berdaya. "Gak mau males, gak usah di bayar! Itu pasti dari orang kurang kerjaan. Dia pasti naruh racun di bakso itu, aku gak mau! Usir aja."


Bagai alunan badai di pinggir pantai, bibi Marni mengocehkan hal-hal yang membuat kupingku panas. Sumpah, aku tidak masalah jika pengirim bakso itu ada namanya. Kalau rahasia seperti ini aku tidak terima.


"Ya udah bibi bayar aja, tapi gak usah di ambil baksonya. Kita beli sendiri, tuh ambil uang di tas. Pokoknya jangan ambil dari orang asing, bahaya sayang!" cerocosku dengan lancar.


Bibi Marni menghela napas, dia mengambil uangku di tas jinjing yang ikut kehujanan kemarin lalu keluar. Aku mencengkram tepian ranjang, belum juga ada ketenangan melandaku, bibi Marni kembali dengan langkah tergesa-gesa sambil meraih tanganku dan mengembalikan uang tadi.

__ADS_1


"Pokoknya nyonyah Bella yang harus bayar sendiri, kalo enggak kurirnya ngancem bakal masuk sendiri dan nganter bakso itu ke Tante Bella." kata bibi Marni tak kalah mencerocos.


"Ribet banget sih, bercanda gak tau tempat!" omelku sambil berdiri, rasanya aku semakin sebal karena badanku rasanya remuk dan berkeringat. Rambutku berantakan dan langkah-langkah ini terasa berat untuk sampai ke depan rumah.


Aku mengembuskan napas ketika memandang kurir itu yang tetap nangkring di atas motor di ambang pintu. Kerjaan siapa sih.


"Mas!" teriakku, "Pulang aja sana, aku udah punya bakso di freezer." kataku seraya mendekat. "Ini buat mas, cuma buruan pergi gih, aku lagi lemes jadi lagi males bercanda." imbuh ku sambil menaruh uang di saku jaketnya dengan maksa.


"Baksonya mas bawa pulang saja, aku lagi gak jajan sembarangan. Tenggorokanku sakit."


"Tapi ini homemade, kak. Bukan beli!"


"Masa!"


"Sumpah kak, tuh tanya masnya." Kurir itu langsung menunjuk seseorang yang berjalan dari samping rumah ku.


"Abimanyu?" gumamku.


"Ternyata gak semua orang asing Tante percaya." Abimanyu meraih tas kanvas dari gantungan motor lalu menyerahkannya kepadaku.


"Sudah aku tebak kalo Tante yang sakit." ucapnya, lalu membuat ku ternganga lebar. Abimanyu menodongku dengan alat termometer tembak.


"Masih sedikit demam." Abimanyu tersenyum samar. "Cepet sembuh Tante, biar bisa dandan lagi."


Aku langsung tersadar ketika ia naik ke atas motor dan menyuruh kurir itu jalan.


"Stop-stop-stop!" jeritku sekuat tenaga, Abimanyu menoleh. "Kenapa, Tante?"


"Gak sopan banget kamu, datang-datang cuma nganter bakso mana ngerjain orang dewasa lagi! Turun, jenguk yang baik-baik, ini apa langsung ngacir. Gak sayang kamu sama Tante?" omelku dengan nada nyolot.


Abimanyu menatapku lekat-lekat sambil tersenyum manis hingga aku ikut tersenyum salah tingkah dan menundukkan kepala.


"Jawab, Abi." kataku.


Abimanyu geleng-geleng kepala sambil menepuk-nepuk pundak kurirnya. "Ngebut, pak!"

__ADS_1


Ngenggggg.... motor itu ngeloyor langsung tanpa bisa aku cegah, aku kejar. "Sialan, iseng banget itu anak. Gak tau apa aku lagi kangen. Lagi butuh teman, dia nongol cuma nganter bakso untuk apa? Uww..."


__ADS_2