
Aku menatap Abimanyu dengan konsentrasi yang pecah. Kali ini aku tak punya kuasa menentang sorot matanya. Aku memilih menatap alat gym, karpet, jariku atau apapun asal bukan wajah Abimanyu.
"Kangen?" Aku tersenyum sendiri walaupun situasinya sedang sulit. Tak peduli jika Abimanyu melihatku tidak waras. Dia kangen, jujur. Semanis itu bilangannya. Sekedar berandai-andai atas nama kangen. Hatiku menghangat.
"Terus?" tanyaku.
"Di bales dong." Abimanyu menyikut lenganku, sebelah matanya mengedip dengan jail. "Bercanda, sensi banget Tante sekarang. Dikit-dikit cemberut, kenapa? Baru banyak tekanan darah?"
"Gak, sembarangan." Kutabok bahunya, Abimanyu mengaduh kecil. "Suka main kasar nih. Bahaya!" gumamnya seraya menjauhiku satu langkah.
"Terus apalagi?"
Abimanyu berputar menghadapku, matanya yang dulu kekanak-kanakkan menatangku dari atas ke bawah.
"Aku kangen kehadiran Tante di hidupku."
"Wait, wait, wait. Kenapa buru-buru bilang kangennya, kenapa gak yang sepele dulu." Aku mengipasi wajahku seraya menyingkir dari Abimanyu seperti seekor cicak yang buru-buru menghindari dari sabetan sapu lidi bibi Marni.
"Jangan menghindariku Tant, aku mau dicintai olehmu!"
Kepalaku berputar dengan terkejut, Abimanyu mengangguk yakin.
"Aku mau dicintai perempuan dewasa seperti Tante, yang posesif, yang mendominasi, cemburuan, ngambekan, penyayang dan semua cinta yang Tante beri setulus hati seperti Tante waktu suka sama aku dulu. Mungkin sekarang masih? Cuma Tante yang tau."
Aku mengedip-ngedipkan mata, menelan ludah dua kali sebelum aku membasahi bibir dan menjawab.
"Kamu serius?"
"Diluar urusan pekerjaan syuting, aku serius."
"Kalo gitu lepasin aku, aku mau pulang."
__ADS_1
"Kemana?"
Aku berdiri dengan kaki goyah.
"Ya ke—"
"Basi!" sergah Abimanyu, ia tersenyum miring. "Gak mungkin pulang ke rumah, jadi sekarang Tante tinggal dimana?"
"Ada, rahasia." Kakiku menendang tembok.
Abimanyu terkekeh geli. Tangannya menyelipkan rambutku ke belakang telingaku. "Lagian aku juga belum tuntas, urusan kita belum selesai, Tante."
"Tapi lapar dan kamu bikin aku kayak tahanan!" kataku cepat, "Aku habis tredmill satu jam dan itu melelahkan Abi."
Abimanyu merenggangkan tubuh. Muka geli itu tidak hilang dari wajahnya.
"Sorry, habis Tante satu ini mirip kucing kelaparan kalau nggak aku kunci." Abimanyu memegang kedua bahuku.
"Salad buah, soto ayam, sate usus sama sate telur puyuh. Sambel jangan lupa."
"Tunggu sebentar." Abimanyu menghilang dari hadapanku, di saat itu pula aku menarik napas sebisa mungkin sambil berharap pertolongan Joe atau hamba Tuhan segera datang.
Ini kacau, Abimanyu menyatakan perasaannya. Mana aku tidak bisa berbuat banyak. Ah mama, apa iya jodohku laki-laki perjaka seperti yang mama harapkan dulu. Kalau iya, Abimanyu jawabannya?
"Dua puluh menit lagi baru dianter, jadi apa kita bisa memakai waktu itu sebaik mungkin Tante?"
Aku mengangkat tatapan dari keresahan yang aku alami. Abimanyu sudah berganti pakaian, bukan lagi baju olahraga tapi kemeja linen hitam dan celana jins.
"Oke. Dengar baik-baik Abi karena ini tidak ada pengulangan." Aku berdiri seraya mengusap wajah. Memastikan benar-benar bahwa hari ini seperti janjiku tadi semua akan aku hadapi.
Di tengah Adorable Gym aku mengutarakan semuanya tanpa sedikitpun kebohongan. Semuanya jujur apa adanya, tidak munafik. Aku membayangkan masa depan bersamanya, sederhana, penuh suka cita dan saling menghargai kekurangan masing-masing. Itu indah pikirku, aku hanya perlu memiliki kesetiaan Abimanyu dan itu cukup. Lebih dari cukup untuk memenuhi keegoisanku, makanya aku pergi, membiarkan semua kembali pada posisi masing-masing hingga waktu menjawab sendiri arti pertemuan kami.
__ADS_1
Abimanyu menangkup wajahku. Bibirnya menghangat di bibirku yang lelah bersuara. Lidahnya terasa di bibirku yang terkatup ralat. Dengan sapuan lembut yang masih sangat awam dan sangat sebentar dia tersenyum malu ketika ibu jarinya mengusap bibirku.
"Be my lady, Bella." Abimanyu menggenggam tanganku. Serbuan kehangatan menjalari mataku. "Jadilah tempatku pulang dan mimpimu bisa kita wujudkan."
"Dengan reputasimu sekarang?" Aku berkata lirih, "keputusanmu mendadak, aku tidak bisa menerimanya Abi. Maaf."
"Mendadak?" Abimanyu mencium pipiku. "Aku tidak mungkin melakukan hal ini jika aku tidak mencintai Tante!"
"Sejak kapan?" tanyaku terengah.
Abimanyu tersenyum lebar. "Sejak Tante mabuk di kamarku dan memintaku untuk menunggu sesuatu yang sama seperti yang aku dengar tadi. Aku sudah tau kalo Tante menyukaiku sejak lama."
Lima menit kemudian penjelasan Abimanyu selesai. Kakiku sudah tidak mampu berpijak dengan baik. Aku bisa pingsan, tertawan dan secara fisik tubuhku masih merespon dengan baik sentuhan Abimanyu. Selalu lembut.
"Be my lady or not, Bella?" Abimanyu mengamati wajahku, sadar aku terlalu takjub dan susah berkata-kata. Dia meringis. "Apa kita masih tidak seimbang?"
"Bukan itu, bukan ekonomi yang memisahkan kita. Bukan!" Aku menggeleng, detak jantungku semakin meningkat cepat. Aku gugup.
"Katakan aja maksud Tante." Abimanyu berharap dengan sabar. "Aku nggak merasa lengkap sebelum Tante datang!"
Aku mengembuskannya napas. "Karir dan pekerjaanmu harus tetap berjalan, itu pasti dan harus, nggak mungkin pacarku pengangguran, sementara bagaimana kita menjalani relationship ini? Back street?" mataku menyipit.
"Tante keberatan?" Abimanyu menunjukkan kekhawatiran dalam suaranya. Tangannya terasa dingin di telapak tanganku.
Aku coba melihat ke dalam matanya, binar matanya terpancar lekat. Gemuruh dadanya bisa aku dengar dengan kacau. Bocah ingusan ini tidak akan sekhawatir ini jika hanya main-main.
Aku membasahi bibir. "Sampai aku langsing dan cantik lagi!"
Ia tersenyum.
...***...
__ADS_1