
Tanpa basa-basi aku langsung menundukkan kepala seraya menyeruduk perut Abimanyu dengan tanduk tak bertulang ini di koridor klinik berulang kali sampai aku sadar aku mendadak gila sendiri. Abimanyu terkekeh-kekeh, dia memegang kedua bahuku dan mendorongnya perlahan.
"Udah, mainnya!" Abimanyu tersenyum lebar, "Tante bikin malu!" Abimanyu memberi isyarat dengan menggerakkan dagunya ke ruang tunggu.
Aku langsung menatap sekeliling, beberapa orang yang menunggu giliran untuk treatment mengulum senyum juga ada yang terang-terangan meringis lebar. Tidak apa-apa, batinku. Sedikit malu dan terhibur untuk menyingkirkan selarik nelangsa yang aku pendam sendiri tidak akan merugikan aku.
Aku membetulkan tudung kepala unicorn ini sambil menatap Abimanyu. Senyumnya masih menawan dan menarik pengelihatanku untuk sekedar menatapnya lama-lama. Tapi semakin lama, bibir itu mengkerut. Abimanyu memalingkan wajah, sadar mata kami sedaritadi saling memindahi paras masing-masing dengan teliti.
"Udah kali Tante, gitu amat liatnya kayak gak pernah liat yang muda-muda aja." Abimanyu bergeser, napasnya masih berat ketika ia membuat jarak aman dari jangkauan tanganku.
Aku menghela napas, Abimanyu ini sebenarnya maunya gimana. Datang sendiri tapi takut sendiri, memangnya aku ini kucing betina yang lihat bening dikit sudah kejang-kejang ingin di dekati. Emang sih awalnya iya tapi lama-lama aku juga sadar diri kalau Abimanyu harus menentukan pilihan hidupnya sendiri.
"Ya emang, sekalian aja kelihatan gila, jadi besok tinggal memperbaiki diri." balasku tak acuh, dengan percaya diri yang kembali penuh. Aku berjalan terlebih dahulu, melewati beberapa orang sambil dadahhh-dadahhh. Anggap saja lelucon hari ini masih belum selesai.
Aku menarik pintu kaca dan menahannya. "Buruan lewat."
"Tante memang sudah cocok jadi mama, udah bawel, baperan, tapi perhatian." Abimanyu meringis lebar sambil melewati pintu kaca seraya menuruni tiga anak tangga. Dia berhenti di dekat parkiran motor sambil bertolak pinggang. "Kita mau kemana, Tant?"
Sementara aku menutup pintu, benakku ingin sekali melakban mulutnya yang mulai berani menilaiku. Aku berjalan dengan lemas menuruni anak tangga, penyebutan kata ‘kita’ itu seakan-akan menunjukkan bahwa kami sudah akrab.
Aku mengedarkan mata dengan liar.
"Bli Dean, hayukkk come on." teriakku sambil melambaikan tangan di dekat mobil operasional bungalow yang aku sewa. Bli Dean membuang rokok seraya menginjaknya, ia bergegas meninggalkan kafe sebelah.
Bli Dean memberi hormat. "Siap, mbok. Bagaimana, apakah mbok jadi pergi ke tempat pembelian oleh-oleh?" tanyanya, dan tatapannya beralih pada Abimanyu saat remaja itu mendekatiku.
"Nanti aja Bli," jawabku lemah, "Sekarang turuti saja kemauan bocah ini." Aku menunjukkan ke belakang, "Dia mau piknik."
__ADS_1
"Kalo kita mau pergi piknik kenapa Tante tidak bawa keranjang rotan berisi makanan dan tikar?" sahut Abimanyu.
Kepalaku otomatis menoleh ke arahnya. Kupandangi Abimanyu dengan mana sinis, "Jangan merepotkan tampan!"
Abimanyu menyunggingkan senyum dengan sengaja. "Di Jerman dulu kalo mama dan papa piknik pasti membawa itu Tante."
"Mama kandung mu?" tanyaku tak acuh. Abimanyu mengangguk, dengan sabar aku menunggunya mengeluarkan dompet dari dalam tas dan ia menunjukkan foto masa kecilnya dengan seorang wanita yang berbeda dengan ibunya sekarang.
Rasa gusar langsung menyergapku. Abimanyu merindukan ibunya? Bukan–bukan, remaja ini jelas hanya mengingat samar-samar kenangan bersama ibu kandungnya dari sebuah foto. Artinya Abimanyu hanya merindukan kenangan bersama orang tua kandungnya. Tapi kenapa harus denganku untuk memuaskan rasa di rindunya itu. Hampir mustahil jika Abimanyu membutuhkan figur seorang ibu dariku. Tidak mungkin, aku bukan perempuan sempurna yang tak pernah berhenti mencoba untuk menyempurnakan diriku.
Aku mengangguk, uji coba dulu dengan mengasuh anak berusia sembilan belas tahun, nampaknya aku memang akan senewen jika anaknya seperti Abimanyu. "Bli sudah dengar kita harus mencari apa sekarang?"
Bli Dean menempelkan sebelah tangan di dadanya dan membungkuk pelan seraya membuka pintu belakang, aku dan Abimanyu masuk ke dalam mobil bergantian. Abimanyu menaruh tas ranselnya dan gitarnya di tengah-tengah.
"Kita ke bungalow saja mbok, saya akan menyiapkannya." kata Bli Dean.
"Bagus, aku juga perlu ganti baju!"
Aku memandangi Abimanyu dengan serius dan muram. "Jalan, Bli." kataku tanpa menoleh ke arah Bli Dean. Bli Dean mengiyakan dan mobil berjalan.
Tiba di pelataran parkir bungalow, aku yang sejak tadi mengurus pekerjaan secara daring menoleh ke arah Abimanyu. "Abi, bawa baju ganti?"
"Bawa, Tant."
"Bagus!" Kami berdua turun dari mobil, berjalan beriringan di atas tanah yang memiliki pagar tanaman dan lampu taman yang berjarak satu meter dengan lampu taman lainnya sambil terdiam, hanya debur ombak yang mengiringi langkah kami sampai ke teras bungalow.
"Kamu mandi dulu, aku tunggu di luar." Aku mendorong pintu bunglow, lalu terdengar bunyi gemerincing dari tirai keong-keong yang kami lewati saat masuk ke dalam ruang tamu minimalis yang hanya memiliki dua kursi stool dan meja kayu unik.
__ADS_1
Abimanyu menaruh barang bawaannya, dia melepas sepatu sneaker nya setelah duduk di kursi stool. "Tante gak keberatan kalo aku nginep disini?" tanyanya sambil melepas jaket.
Aku tak bisa mendebat permintaan ini, bermalam di bungalow berdua rasanya tak apa asal kami mampu saling menjaga diri masing-masing.
"Kita pindah ke bungalow yang mempunyai dua kamar." Aku tersenyum, "Kamu mandi, aku keluar."
Abimanyu meraih tas ransel dan membukanya, dia mengangguk sambil tersenyum. "Makasih, Tante. Maaf ngerepotin."
Aku mengibaskan tangan, perkara sepele seperti ini sangat gampang aku hadapi, bedanya urusan hati membuatku menjadi bingung dan tertawa suasana.
Aku pergi ke tempat resepsionis untuk melakukan reservasi ulang. Setengah jam kemudian, setelah Abimanyu mandi dan memakai segala perlengkapan pribadiku untuk mandi, kami pindah ke bungalow yang lebih besar ketimbang single room yang aku tempati kemarin.
Abimanyu memasukkan barang bawaannya ke kamar yang setiap pagi menjelang atau malam datang, dia akan melihat bagaimana indahnya cahaya kehidupan datang dan pergi. Dia tersenyum saat bergabung dengan aku dan Bli Dean di teras.
"Mau piknik kemana, Abi?" tanyaku yang bahkan sampai detik ini masih nyaman menggunakan kostum unicorn merah muda.
"Terserah Tante, yang penting sepi?"
"Sepi? Kuburan?" sahutku kesal sambil menabok lututnya yang terbuka. "Jawab aja mau kemana, jangan bikin mbok Bella meradang Abi... Jawab!" desak ku sambil melotot.
"Pokoknya yang tidak ramai banget, Tante. Terserah mau dimana nya, aku pasti suka." Abimanyu melempar tatapan tidak berdosanya sambil tersenyum.
Demi Tuhan, aku beralih pada Bli Dean yang sudah tahu siapa tamu tak diundang ini. Aku memohon sambil mengatupkan tangan ku di depan dada.
Bli Dean menggosok-gosok dagunya. Dia meringis lalu menyerahkan kunci mobil operasional bungalow kepadaku. Aku mendadak cemas, Bli Dean nyuruh aku nyopir sendiri? OMG... Lelucon hari ini benar-benar tidak selesai.
"Mbok bisa mendatangi private beach yang kita datangi kemarin."
__ADS_1
"Terus ini apa maksudnya?" Aku mengayunkan kunci mobilnya.
"Maksudnya kita cuma pergi berdua Tante gembira, gitu aku bingung!"