Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Main kuda-kudaan


__ADS_3

Keesokan harinya sambil menatap jendela kamar, aku berharap bisa melewati hari ini dengan semangat baru dan harapan baru. Narendra dan Debora sudah menikah yang berarti ada kemungkinan besar Debora mulai mengatur keuangan Narendra seperti yang aku lakukan dulu. Itu artinya hal buruk akan terjadi, uang bulanan dari Narendra pasca bercerai akan terganggu. Kemungkinan lainnya, Debora dan Narendra akan berada di atas awal jika Debora sampai hamil anak Narendra.


Aku beranjak seraya keluar dari bungalow, dedaunan bergoyang mengikuti arah angin yang berhembus dari pantai. Aku tersenyum, senang rasanya bisa menikmati cahaya matahari yang baru muncul di permukaan laut. Cahaya itu terasa menghangatkan, serupa niat hati untuk menata hidupku lagi tanpa harus bergantung pada kenikmatan yang papih Narendra berikan.


"Jadi, apa hari ini Abimanyu sudah menemukan jawabannya aku ada dimana?" gumamku, lalu tertawa sendiri diantara suara deburan ombak. Nyanyian alam yang teramat mahal ketika aku kembali


Lucu juga dia, ia yang percaya diri waktu itu untuk tidak berhubungan dengan ku secara daring menghubungiku lebih dulu. Apakah dia kesusahan mencari nomerku? Bagaimana gelagat Abimanyu waktu memintanya. Jadi curiga aku siapa yang memberikan nomerku untuknya, aku juga jadi bertanya-tanya, siapa aku bagi Abimanyu.


Aku menghela napas. Kalau dia baru empat hari aku tinggal rasanya sudah sebal-sebal gimana gitu. Yakin aku, semalam dia pasti tidak tidur nyenyak. Lagian kenapa juga khawatir, pasti sayang kan, pasti kangen kan, tapi ujung-ujungnya cuma merasa bersalah karena menyakiti Brigitta.


Aku menarik sudut bibirku seraya berdiri, kemudian langkahku berhenti tepat di pinggir pantai setelah melalui satu bungalow yang senyap tanpa penghuni. Aku bergeming, membiarkan tubuhku perlahan-lahan dirayapi sinar matahari. Aku berpikir, aku menjadi jahat ketika Abimanyu berbelok kepadaku hanya karena persoalan yang kami ketahui bersama. Sementara di suatu rumah ada gadis yang percaya kekasihnya setia.


***


"Maaf, Bli. Semalam aku mimpi buruk jadi sprainya sampai sobek karena aku nendangnya kuat banget." kataku sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada. Mimik wajah ku jelas sedang menunjukkan drama murahan yang kerap kali aku perlihatkan jika membuat masalah–aku seperti kucing yang habis nyolong ayam di meja makan dan merasa tidak bersalah.


"Saya akan menggantikan kerugian, Bli." imbuh ku kepada pelayan kamar yang datang untuk membersihkan bungalow yang memiliki atap rumbia dan cangkang kerang yang menjuntai-juntai di depan pintu masuk.


Bli Dean menarik sudut sprai perlahan-lahan sambil tersenyum, "Santai saja, mbok. Kalau sprai sobek sering, kalau ada pasangan honeymoon apalagi. Tidak karuan bentuknya, mbok." selorohnya, lalu mundur, menaruh sprai dan sarung bantal dan guling ke keranjang.


Bli Dean kemudian memasang sprai dan sarung bantal baru dengan cekatan. Ia tersenyum dan membungkuk hormat setelah mengangkut keranjangnya.


"Suksma, Bli." Aku mengatupkan kedua tangan, "Tipsnya nanti sekalian waktu check out ya, Bli. Masih dua hari aku disini." kataku lirih, aku takut ada yang dengar dan yakin, meski Bli Dean hanya melayaniku selama satu Minggu, dia akan mengingat Bella Ellis sebagai tamu yang merepotkan dan pelit.

__ADS_1


"Nggih, mbok. Sebentar lagi sarapan, harus saya antar kemana?" tanya Bli Dean, dia mengamatiku dari atas ke bawah secara terang-terangan seraya menggeleng samar. "Mbok yakin pergi ke klinik seperti ini?"


Aku menarik ekor dari kostum karakter unicorn yang aku pakai sekarang, yang tadi aku beli ke pedagang pinggang pantai yang tak jauh dari bungalow.


"Yakin saya, Bli. Yakin," aku mengangguk kuat-kuat, aku mengenakan ini untuk mengelabuhi Abimanyu jika dia datang kesini diam-diam. "Sarapannya di teras saja, Bli. Mantap?" Aku mengacungkan kedua jempolku. Bli Dean tersenyum lebar, dan keluar dari kamar. Sementara aku menunggu sarapan datang, aku mengambil kacamata hitam dan sengaja melupakan tas jinjing dan ponselku. Biar keduanya di bungalow aja, sebagai gantinya aku menggunakan tas selempang rotan.


***


Tiba di depan klinik di tengah panas dan ramainya geliat ekonomi dan pariwisata kabupaten Gianyar siang ini, aku celingukan di dalam mobil. Mataku meneliti setiap tempat yang sanggup Abimanyu singgahi. Aku mencarinya yang aku takutkan dia nongol tiba-tiba di klinik ini, kecuali kalau dia memilih Lampung sebagai cabang kedua di luar pulau Jawa.


"Semoga dia gak datang!" gumamku sambil mengempaskan diri di sandaran jok mobil. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan.


"Kenapa, mbok?" celetuk Bli Dean yang memakai pakaian tradisional Bali berwarna putih dan memakai ikat kepala bernama udeng. Tatto yang menjalar di kaki kirinya membuat dia terlihat sangar meski ketika ia berkata slalu ramah.


"Aku keluar, Bli. Jadwal seperti biasanya cuma nanti kita ke tempat oleh-oleh saja." kataku sambil mendorong pintu mobil, Bli Dean juga turun dari mobil, kami berjalan berlawan arah. Dia menunggu di kafe sebelah atau di parkiran sementara aku mendorong pintu kaca.


"Rahajeng siang, mbok." Karyawan ku mengatupkan tangan sambil menahan senyum geli. Aku menaikkan kacamata sebentar. Kuamati mata mereka satu persatu yang semakin lama semakin melebar senyumnya.


"Selamat siang, cantik. Gimana persiapan launching produk baru prepare sudah lengkap?" tanyaku sambil memeriksa sekeliling, butuh tiga sales promotion girl freelancer untuk menyebarkan brosur dan mempromosikan produk baru sekaligus nyebar voucher diskon perawatan secara langsung di lapangan.


"Sudah, mbok. Mulai besok sore spg sewaan sudah mulai bekerja. Apakah mbok ingin melakukan meeting terlebih dahulu dengan mereka?" tanya Chandani. Perempuan Bali yang kesehariannya memakai kebaya dengan satu kelopak bunga kamboja kuning juga tersemat di telinganya. Sebuah penampilan anggun yang menunjukkan citra sederhana perempuan Bali yang syarat akan budaya dan seni.


Aku mengangguk sambil mencondongkan tubuhku ke arah mereka, "Mbok ke dalam, mbok sudah malu di lihat banyak orang." bisikku, lalu seperti anak kancil aku melompat-lompat dan melesat cepat ke ruang pribadiku seraya mendobrak pintu. Aku menjerit histeris bersamaan dengan suara kaget seseorang yang duduk manis sambil makan siang.

__ADS_1


"Ngapainnnnn kamu ada disini!!!! Ngapain Abi!!!!"


Aku mencampakkan masker dan kacamata ku, Abimanyu tersenyum lebar lalu menyantap makan siangnya.


"Ngapain kampret! Ngapain elo di sini." seruku sambil berkacak pinggang. Nantangin tante-tante, beneran mau aku sikat rupanya. Bisa-bisanya bocah ini ada di sini, lagi makan siang lagi, mana cuma bawa tas ransel dan gitar. Mau ngapain woi, ngapain. Buang-buang duit? Ya ampun, aku mengerang frustasi.


"Tante mau jadi angel apa unicorn jadi-jadian?" ejeknya sambil berdiri, dia mengamatiku dari atas ke bawah dengan terang-terangan. "Lucu juga, apa Tante sedang ingin menunjukkan jati diri Tante yang sesungguhnya?"


"DIAM!" jeritku, aku malu bukan kepalang. Aku itu baru nyamar, malah ketauan di ruanganku sendiri. Gimana bisa! Abimanyu mundur selangkah, ia tersenyum lebar tanpa tedeng aling-aling. "Lucu kok, lucu banget, emangnya Tante lagi mau main kuda-kudaan?"


Aku langsung menarik gagang pintu sambil mendelik. Main kuda-kudaan bagaimana!


"Keluar kamu, keeeeluuuuarrrrr...." seruku kesal.


"Gak mau." Abimanyu melipat kedua tangannya sambil memalingkan wajah.


Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, rasanya aku habis lari marathon. "Keluar kamu, jangan nyusahin hatiku terus-menerus!"


"Salah sendiri baperan." Abimanyu kembali duduk di kursi tamu sambil melanjutkan makannya. Siapa juga yang ngasih izin remaja ini masuk ke ruang pribadiku. Banyak akal juga dia, sialan.


•••


( Mbok : panggilan untuk perempuan, Bli : panggilan untuk laki-laki di Bali )

__ADS_1


__ADS_2