Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Pulang untuk kembali


__ADS_3

"Sebaiknya nyonya mulai mengatur jumlah kalori dan lemak yang nyonya konsumsi!" Suara bariton yang tenang itu membuatku mengangkat wajah dengan sebal.


"Joe, apa kamu lupa sesuatu?" tanyaku lalu menggigit mendoan. "Dia pernah bilang aku harus melupakan kalori dan ini siang. Apa salahnya, Joe. Semangkok rawon tidak salah!" imbuhku seraya menghabiskan rawon daging yang jauh-jauh ku beli di Jawa timur.


Bunyi kursi besi yang di tarik mundur menyebabkan aku menarik napas. Ku minum es jeruk dan menyeka tepi mulut dengan tisu sebelum menatap Joe. Ingat dia? Satpam yang menjaga Abimanyu? Aku menariknya sebagai pengawal pribadiku.


Joe tersenyum samar. "Hidup memang pilihan nyonya, namun pergi dari rumah tanpa alasan yang jelas selama dua tahun menyebabkan satu laki-laki terus mencari nyonya di rumah dan semua klinik! Bukankah itu menyedihkan?"


Aku mengepalkan tangan di bawah meja.


"Dia sudah sukses, Joe. Untuk apalagi dia nyari aku." kataku emosional. "Aku sudah cukup senang ia menjadi penyanyi dan artis. Aku tidak mungkin mengusiknya lagi. Kamu tau alasannya. Semakin dia terkenal, badai di puncak ketenarannya akan goyah jika ada wartawan yang mengetahui dia menemui seorang janda."


Mungkin saat ini aku masih sayang, tapi tidak mungkin untuk mengulang lagi pertemuan setelah dua tahun aku mengembara di banyak negara dan kota-kota besar di Indonesia. Banyak yang berubah dari ia dan aku.


Aku lebih gemuk, kulitku gosong karena aku lebih membebaskan diriku selama dua tahun ini. Mencari kesenangan dunia yang jarang aku nikmati dalam pelarian rasa sayang yang aku tahan-tahan.


"Tak ada yang lebih baik dari sebuah pertemuan jika saya menjadi Abimanyu atau nyonya mungkin?" Joe tersenyum. "Itu indah, sebab di atas kesuksesan seorang Abimanyu Julian Rudolf sekarang ada nyonya dan geng kemayu di baliknya."


Joe membuka tas kulit yang dia bawa setelah pulang ke rumahku untuk mengambil beberapa dokumen dan pakaianku. Aku sengaja tidak mengajak bibi Marni biar ia di rumah untuk menemani Abimanyu jika laki-laki itu datang.


"Lima puluh juta dari Abimanyu dan sepucuk surat cinta." Joe mengulurkan amplop putih kepadaku dengan senyum menyakinkan.


Aku menerimanya dengan berat hati. Lima puluh juta ini tak ada artinya lagi selain rasa bangga ku padanya atas pencapaian yang ia kejar seorang diri tanpa support system yang baik. Mungkin dengan Brigitta? Aku tidak tahu pasti karena aku hanya memilih informasi tentang pendidikannya dan kemajuannya mengenai dunia hiburan. Selama ini dia menggenggam janjinya kepadaku. Kini aku tanpanya hanya bisa mengenang masa-masa pertemuan kami dengan baik dan bijak.


"Bagilah dengan pengawal Abimanyu dan bibi Marni." Aku mengembalikan amplop itu setelah memisahkannya dari surat Abimanyu.


Joe mengangguk, tangannya menarik dua lembar tisu lalu diberikan padaku.


"Menyesal?" tanya Joe. "Durasi ini sudah cukup mengentalkan perasaan Abimanyu dan nyonya. Pulanglah, hadapi."


Aku menyeka air mataku. Dua tahun Abi, dua tahun aku hidup dengan bayang-bayang kamu. Terlebih sejauh aku melihat banyaknya laki-laki yang datang silih berganti dihidupku, semua sempurna dengan keunggulan dan keunikan masing-masing, kecuali kamu. Kamu tidak sempurna, sama sepertiku.

__ADS_1


"Aku hanya terharu." bantahku seraya berkemas dengan cepat karena tak ada banyak waktu disini. Beberapa hari ini situasi memaksaku untuk berpindah-pindah tempat.


"Orang-orang Narendra masih mencari ku, Joe?"


"Masih, nyonya. Mereka sama resahnya seperti Abimanyu."


Aku mencegat taksi konvensional, "Pergilah ke hotelku untuk check out, setelah itu cek emailmu, Joe." Aku mencampakkan tas ransel ke dalam kursi penumpang.


Aku menarik napas dan melihat sekeliling. "Joe, aku tidak mau berurusan dengan orang-orang Narendra." kataku serius.


"Saya urus sebisa mungkin nyonya!"


Nada ragu itu menggelisahiku sepanjang perjalanan menuju stasiun kereta api di bawah langit senja ujung hari. Rasanya sungguh aku tak ingin membaca surat dari Abimanyu, berbulan-bulan aku harus berdamai dan berlari sebisa mungkin untuk menghindari pertemuan. Hanya sekali aku melihatnya dari kejauhan saat ia menjadi penyanyi sebuah acara.


Slalu tampan, dan suaranya itu masih mampu menggetarkan hatiku. Getaran-getaran itu membuatku mengejang dalam tangis kerinduan.


Taksi tiba di parkiran stasiun kereta api, aku menyerahkan sejumlah uang kepada pak sopir dan bergegas turun untuk membeli tiket perjalanan.


***


Bibi Marni tersenyum sabar menyambut kedatanganku di tengah udara subuh di teras rumah. Sudah lama aku tidak mengenali rasanya bersantai di teras ini. Aku pergi tergesa-gesa setelah malam itu terjadi perdebatan dengan geng kemayu di Bali.


"Nyonya pulang untuk berkemas lagi?" tanya bibi Marni dengan raut wajah sendu.


"Tidak." Aku menggeleng, "Aku pulang, bibi. Aku benar-benar pulang." kataku sambil menyentuh kedua lengannya.


Bibi Marni langsung memelukku seperti seorang ibu yang merindukan anaknya. Aku lebih bahagia, masih ada yang menungguku disini.


"Sudah lama bibi gak masak banyak, jadi nyonyah mau makan apa nanti?" Bibi Marni menaruh teh hangat di meja, ruang tamu.


Aku tertawa geli. Sudah berapa kali tempat ini Abimanyu duduki dan sudah berapa kali bibi Marni harus meladeninya.

__ADS_1


"Apa saja, Bi. Bentar, makanan kesukaan mama dan papa aja." pintaku setelah pikir-pikir.


Bibi Marni menoleh kita pintu masuk perlahan terbuka. Joe, menghela napas dengan muka kusutnya.


"Setelah ini mau kemana lagi nyonya?" Joe mendorong koper besar ke dalam rumah.


"Istirahat! Aku lelah." Aku mengangkat kakiku dan merebahkan diri di sofa. Aku menatap langit-langit rumah yang ku rindukan. "Aku masih belum berani membaca surat dari Abimanyu, Joe. Bahkan ketika aku melihatnya berkali-kali di kereta tadi, tanganku masih sanggup untuk menyembunyikan lagi."


Bibi Marni mengelus rambutku. "Abimanyu sering menginap di sini, Nyah. Di kamar nyonyah kalo dia nunggu nyonyah dengan dalih besok Tante Bella pulang bibi, aku tunggu sampe besok pagi."


Perasaan itu mengental lagi di dadaku. Aku tersenyum lega. "Tapi aku tidak peduli, kecuali dia jomblo."


"Maka bacalah surat dari Abimanyu, nyonya. Atau perlu saya yang membacanya?" sahut Joe.


Aku menoleh. "Boleh." Aku merogoh kantong jaket. "Silahkan."


Joe menarik napas, "Kopi dulu, Bi!"


"Siap!"


Aku melipat tanganku dan seketika aku kehilangan arah lagi. Abimanyu, apa kabarmu?


Aku memejamkan mata sambil mendengar Joe mulai membaca surat Abimanyu.


...***...


Kepada, Tante Bella.


^^^Aku menunggumu dan mengharapkan kamu baik-baik saja dimana pun kamu sekarang. Aku menghormati apapun yang telah kita sepakati dan Tante inginkan karena aku mau kita bahagia tanpa harus menjadi 'kita' yang terpaksa. ^^^


^^^Tante, aku tak berniat mempermainkan Tante dengan kehadiranku yang tidak memberi kepastian. Maafkan aku untuk hal itu, aku perlu waktu dan waktuku telah selesai. Aku kembalikan yang sudah kita janjikan. Aku juga mengharap secuil hati Tante yang aku sayangi membalas surat ini. ^^^

__ADS_1


^^^Salam sayang, Ian. ^^^


__ADS_2