
Bab 6 - Daddy
.
.
.
Bella pulang sebelum pukul enam, raut wajahnya yang penuh komedi setelah masuk ke dalam ruang keluarga membuatku mengerutkan kening. Dia menyapa semua orang dan mengajak kami makan martabak manis yang dia taruh di meja. Martabak manis varian matcha. Warna kesukaan Ollie.
"Baby." Dia mengecup pipiku, lalu menaruh barang belanjaan yang lain di karpet. Bella duduk bersimpuh lalu mengangkat tubuh Ollie yang sedang bermain bersama anak om Joe.
"Gimana tadi mainnya sama om Ian?" tanya Bella. Gemas, dia mengecup pipi gembul putrinya. "Seru apa b aja?"
Ollie yang ketiduran di perjalanan pulang jelas menganggap kejadian tadi siang b aja. Aku maklum jika itu jawabnya. Ollie beranjak, melepas diri dari pelukan ibunya. Dia berlari kecil ke arahku lalu menyusup masuk dari bawah tanganku yang menggenggam stik PS sebelum mengempaskan tubuhnya di pangkuanku.
"Daddy." ucap Ollie.
Aku tersenyum lalu mencium puncak kepalanya meski mataku tetap fokus pada layar televisi. Jagoan kecilku cukup pintar mengalahkan permainan, meski jika kalah dia akan mengomel.
Papa, lihat cucumu ini. Jika kau masih hidup kau pasti akan mengomelinya, mengomeliku juga.
"Seru mommy, aku tidul di motoll dan boleh manggil om Ian, Daddy." jelas Ollie dengan suara cempreng.
Bella memperhatikanku penuh perhatian dengan mata terbelalak takjub dari samping televisi, dia pasti bertanya-tanya apakah aku serius. Matanya menyorotku dari atas ke bawah, lalu berhenti di wajahku dengan kepala yang meneleng ke kiri.
Aku dapat merasakannya mendekat meski ia bergeming di sana. Mulutnya setengah terbuka lalu menggeleng seakan-akan mengenyahkan pikirannya sendiri. Bella sungguh-sungguh mendekat dengan gerakan lambat, tangannya meremas bahuku.
"Jangan lama-lama mainnya." Tangan Bella lalu menyugar rambutku dengan jemarinya yang lentik. Kukunya di cat warna peach dengan noktah putih abstrak. "Aku mandi dulu terus makan malam."
"Mom, aku mau mie!" sahut Neo.
Bella mengangguk sambil mengangkat belanjaannya. Dari merk yang kulihat dari nama-nama yang tertera di paper bag, dia membeli lingerie dan sepatu.
__ADS_1
Lingerie baru? Pikiranku langsung ke sana ke mari, memikirkan bagaimana bentuknya, rendanya, dan halusnya kain yang menempel di tubuhnya nanti. Mendadak pikiranku ingin ke kamar, menunggunya mandi lalu memintanya memperagakannya lingerie itu di depanku. Tapi ini masih sore, sore bagi kami dan anak-anak belum tidur.
Aku menghela napa saat Neo menjerit senang. Lalu jingkrak-jingkrak di depan televisi.
"Aku menang om, aku menang! Om kalah." Noe menjulurkan lidah dengan iseng lalu berbalik, mencari om Joe untuk mengumumkan kemenangannya.
Aku tertawa, stik yang kupegang kutaruh di meja dengan gerakan membungkuk. Lalu ganti memeluk Ollie. Menggoyangkan tubuh kami.
"Nanti Daddy tidur sama Ollie dan mommy boleh?" tanyaku.
Ollie menoleh dan mengangguk tanpa ragu. "Telus kakak tidul cendili?" protesnya sambil menatapku. "Kakak kasian tidul cendili."
Aku tersenyum, anak ini benar-benar tidak aku sangka. Kepeduliannya pada saudaranya mengingatkan aku pada Bella sepuluh tahun silam.
"Oke, kita tidur berempat di kamar mommy." Aku mengangguk. Untuk pertama kali aku merasa memutuskan sendiri sesuatu yang besar tanpa campur tangan Bella. Aku ingin menua bersama mereka tanpa drama, tanpa jarak hingga maut menjemputku.
***
Makan malam dimulai, om Joe bergabung denganku dan Ollie sambil menggandeng Neo dan anaknya. James.
Aku meringis. "Aku hanya tidak konsentrasi."
Om Joe menarik sudut bibirnya seakan paham maksudku.
"Papa pulang apa nginep?" tanya Neo sambil mendongkak. Om Joe tersenyum lebar, dia menatapku lalu ke arah Bella yang baru saja masuk ke ruang makan. Bella mengikat rambutnya, pakaian nakal yang aku pikirkan tadi berganti dengan daster batik rumahan, walaupun dia tetap memakai yang di atas lutut.
"Papa pulang, Neo. Adik Jansen dan mama Pricilla menunggu papa di rumah. Neo dengan om Ian dan mommy!" kata om Joe tegas. "Om Ian akan tidur bersama kalian!"
Aku menoleh dengan cepat saat suara terbatuk-batuk Bella teramat dahsyat. Air putih yang baru ia telan menyembur, membasahi pintu lemari es. Masih begitu, dia tersedak-sedak sampai matanya merah. Bella menyambar serbet lalu mengusap bibirnya dan menyampaikan protesnya lewat sorot mata.
"Udahlah, mommy. Easy." Joe menusuk sosis bakar di piring lalu melahapnya. Dia mendekati Bella sambil mengunyah. "Balik ya." Joe menusuk dengan lembut pipi Bella dengan garpunya.
Bella mendengus sambil mengusap pipinya yang terkena kecap. "Maksudmu apa kok ambigu banget." komentarnya lalu menatapku. "Balikan sama baby? Atau kamu yang balik sama aku?"
__ADS_1
Joe menusuk lagi sosis di piring lalu meninggalkan ruang makan setelah mengacak-acak rambut Neo dan Ollie sebagai tanda pamitan. James turun dari kursi, mengikuti ayahnya tanpa sempat makan malam bersama kami.
Bella menatap kepergian mereka berdua, lalu mulutnya mengomel dengan bahasa alien sambil menyiapkan makan malam di piring kami bertiga.
"Neo Alexandro Rudolf, kau harus mengurangi makan mie, dan perbanyak makan buah-buahan! Mommy mau kamu sehat dan kuat." Sepiring buah-buahan yang terpotong rapi Bella taruh di dekat mangkok mie rebus. "Awas kalo nggak di makan, mommy buang alat ps kalian!" ancamnya sembari mendelik padaku. Bella kenapa? Aku meringis.
"Mommy gak asik." Neo membuang napas dengan bibirnya. "Lagian kenapa mommy makan buah aja? Apa mommy nggak suka mi? Mie enak tau, om Ian aja sering makan."
"Dasar." sahut Bella. Mataku terkena lagi tatapannya yang tajam. Pasti mulutnya yang terhubung dengan jiwanya yang memiliki rincian daftar makanan sehat untukku sudah dia siapkan.
Bella berbalik, membuka lemari es untuk mengambil sisa potongan buah-buahan dan menuangkannya ke alat penghancur. Nyonya rumah sedang diet, makanan satu-satunya saat malam hanyalah susu diet, buah-buahan, dan puding. Sementara aku, pecel lele adalah favoritku dan nasi kotak adalah idolaku di lokasi syuting.
"Yakin mau tidur bareng anak-anak?" tanya Bella setelah kami makan malam dan anak-anak pergi ke kamar mereka untuk mengambil boneka dan bantal.
Aku mengangguk sambil menyesap rokok elektrik di balkon kamar dengan jendela yang terbuka. Temaram bulan terlihat di langit malam dan samar-samar lagu dangdut terdengar dari pos jaga yang tak jauh dari rumah ini.
"Nggak salah kan kita tidur bareng anak-anak?" tanyaku. Bella yang sedang membersihkan wajahnya dengan sejumlah skincare menoleh dari depan cermin.
"Masalahnya kamu siap nggak sama risiko mereka tambah kangen sama kamu? Aku sih yes aja, Abi. Cuma kalo anak-anak makin lengket sama kamu dan kamu nya sibuk. Aku kasian sama mereka." Bella kembali membersihkan wajah dengan kapas, lalu menotolkan krim malam di beberapa bagian wajahnya.
"Besok kita ketemu sama Kevin!" Aku membuang asap terakhir rokok elektrik dari dalam rongga dadaku sebelum menutup jendela.
"Aku udah ambil keputusan untuk pdkt sama kamu demi anak-anak. Kevin harus tau dan kamu harus setuju!"
Bella berdiri dengan wajah glowing, shining, shimmering dan caranya berdiri terlihat menantang ku.
"Aku sih anaknya nurut sama suami, cuma baby." Bella menusuk dadaku dengan jari telunjuk. "Kita punya banyak rahasia dan skandal. Kontrak kerjamu juga masih banyak yang belum selesai. Aku tidak mau menghancurkan namamu, bisnis kita juga terancam merosot kalo kita nggak hati-hati."
Aku memutar mataku sambil berkacak sebelah tangan. "Sekali aja bisa nggak kita nggak perlu menyangkutkan bisnis dan nama baik kita? Aku cuma mau dekat denganmu dan anak-anakku!" kataku dengan nada berpacu.
Bella mendekatiku, langkahku perlahan mundur sampai membentur tembok. Caranya menatap membuatku was-was. Dia ini genit sebenarnya dan tangannya usil. Suka kemana-mana sesuka hati apalagi tahu aku cuma menggunakan celana kolor dan kaos oblong.
"Sure." Bella mengangguk sambil mencengkram pinggangku. Bibirnya dengan gesit menempel di cuping telinga. "But isn't easy, baby. We must try and make a schedule again for new beginnings!"
__ADS_1
Aku menelan ludah. Mendengar caranya berbisik dengan manja dan lidahnya yang menjilat telingaku, dia seperti mengajakku bercinta lagi.
......................