Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
All good


__ADS_3

Segera setelah malam yang aku habiskan dengan Abimanyu untuk berdiskusi, bikin mi rebus dan menonton siaran sepak bola, aku melakukan beberapa persiapan matang untuk menyambut kedatangan keluarga Abimanyu di rumah orang tuaku.


"Memangnya keluarganya mas Abi yang datang berapa, Nyah?" tanya bibi Marni sembari menyapu ruang keluarga.


"Cuma ayah dan ibu tirinya, orang lain gak ada yang tau Bi soalnya ini rahasia. Pak RT jangan sampai tau, awas kalo bibi gosip waktu beli sayuran!" kataku mengingatkan.


"Gak lah, Nyah." Bibi Marni menukas sambil meringis. "Kalo gitu bibi aja yang masak, gak usah catering. Sepi kok tamunya."


Aku meringis dan mengangguk, acara lamaran besok memang sepi, aku hanya di dampingi orang tua Alexa Liu, bibi Marni dan Joe karena aku tidak ingin mengumbar harapan di pernikahan ku yang kedua. Kini, cukup sederhana, intim, tapi long lasting. Karena bagaimanapun aku harus menjaga privasi kehidupan ku sendiri dan popularitas Abimanyu di dunia hiburan.


***


Keheningan menggantung di udara pemakaman keesokan harinya. Aku dan bibi Marni mendatangi rumah terakhir orang tuaku di tengah kemilau rindu yang terpatri dalam hati.


"Nyah, Pak, nona Bella meminta izin kepada bibi untuk merestui putri nyonya dan bapak menikah dengan pemuda bernama mas Abimanyu Julian Rudolf, putra bapak Rudolf dan ibu Jayanti. Jikalau bapak dan nyonya setuju, bibi akan menyerahkan semuanya kepada Tuhan untuk dimudahkan segala prosesnya."


Dalam resah yang masih menghantuiku, hati dan mataku menghangat mendengar bibi Marni bercerita. Tepat seperti kataku kemarin, jika memang orang tuaku dan Tuhan merestui sesuatu yang telah kami rencanakan dengan baik, Abimanyu nanti malam datang. Jika tidak, sesuatu harus di tunda, dan berganti dengan makan malam keluarga.


"Mama dan papa pasti merestui Abimanyu menjadi mantunya, Bi. Sekarang kita ke makam Bu Jayanti."


Aku menyentuh bahu bibi Marni, dia menoleh sambil menekuk tangan untuk menyentuh dan menggenggam tanganku di bahunya.


"Bismillah, Nyah."


Kami bergantian memeluk dan mencium nisan mama dan papa setelah dua keranjang kelopak bunga mawar putih kami taburkan di atas rumput yang menghiasi makam orang tuaku.


"Bye, ma, pa. Yang kedua ini semoga baik sama Bella ya walaupun dia muda, semangat, dan milik rame-rame karena dia artis."


"Weh, non Bella ini gimana to malah bilang-bilang mas Abi itu artis, kalo bapak dan nyonya besar kaget gimana?" omel bibi Marni sembari membungkukkan badan melewati nisan-nisan yang berjejer sepanjang menuju makam ibu Jayanti.


"Biarin aja Bi, biar mama dan papa tau suamiku memang artis, orang itu kerjaannya."


Bibi Marni celingukan, mencari nama yang aku sebutkan sepanjang perjalanan ke pemakaman umum ini. Ibu Jayanti bin Maryono Sukadi, wong asli Solo kata Abimanyu tadi malam


"Itu Nyah, itu." tunjuk bibi Marni dengan ekspresi lega. Aku tersenyum ketika mendapati segenggam mawar merah segar juga berada di atas makam itu. Seperti di atas makan mama dan papa.

__ADS_1


"Pasti mas Abi udah ke sini, Nyah. Bibi yakin."


Kebanggaan dalam nada suaranya membuatku ikut merasakan bangga. Jika iya, aku sangat senang mendengarnya. Abimanyu menyempatkan paginya lebih awal untuk berkunjung di sini sebelum kuliah dan kerja. Aku semakin yakin dia sedang berjuang menunjukkan kesungguhan.


"Duduk, Nyah."


"Ya, ya." Aku segera berlutut seraya manabur kelopak bunga mawar putih sambil mengucap kata dan doa untuk meminta restu melengkapi Abimanyu. Karena dengan itu, dengan melakukan sesuatu seperti Abimanyu lakukan, arah tujuan kami akan semakin terarah.


***


Temaram senja semakin menghilang di pelupuk mataku ketika kumandang adzan terdengar, aku menjinjing gaun panjang yang aku gunakan untuk lamaran nanti.


"Bibi, all good?" tanyaku setelah menjejak lantai dasar, kesibukan yang terjadi di rumah ini sudah selesai satu jam yang lalu. Meski bukan lamaran meriah dan mewah, aku tetap ingin menyambut baik kedatangan keluarga Abimanyu dengan menghias meja-meja baru di rumah ini dengan bunga-bunga segar.


"All good, Nyah." Bibi Marni mengacungkan jempolnya. "Semua masakan kesukaan mas Abi dan nona masih hangat."


"Good." Aku harus memastikan sendiri kalau masih hangat dengan cara menyantapnya, gerogi membuatku cepat lapar. Mana seharian Abimanyu tidak ada kabar, aku terus di landa gelisah yang berkepanjangan dan belum usai sebelum dia datang.


Aku beringsut-ingsut menuju ke ruang makan, menyendok soto khas solo ke dalam mangkok lalu menyantapnya dengan anggun yang kuatur dengan teliti hingga rasanya rempah-rempah dalam soto ini hambar. Tapi, ini adalah satu masakan kesukaan Abimanyu yang slalu mengingatkannya pada kehangatan Ibu Jayanti.


Buru-buru aku menaruh mangkok ke bawah meja yang tertutup taplak putih sampai menyentuh lantai.


Kuseka bekas kuah di bibirku yang merona cerah dengan tisu seraya melesat cepat ke ruang keluarga.


"Om, Tante." Mereka merentangkan kedua tangan, memelukku bergantian dengan senyum geli yang di tahan-tahan.


"Congrats, Nonik. Kau hoki juga rupanya dapat anak ayam!"


"Anak ayam?" Aku nyengir, sialan emang Alexa Liu, dia pasti sudah woro-woro mengenai Abimanyu.


"Yang penting nanti tolong pastiin dia benar-benar anak ayam jantan, Om. Pasti aku tungguin sampe dia berkokok." kataku menghibur diri.


Om Khoue Alexander Liu terbahak-bahak. Perutnya yang buncit bergerak-gerak dengan lincah, sementara istrinya menutup wajahnya malu-malu.


"Sorry Bella, Khoue bercanda. Lagian apa kamu belum yakin dia ayam jantan? Belum kau lihat?"

__ADS_1


"Tante, aku belum lihat!" bisikku seolah takut Abimanyu mendengarnya di luar sana.


Tante Nita ikut terbahak, aku menghela napas setelah menyuruh mereka duduk dan menunggu kedatangan Abimanyu.


Tak perlu menunggu lama. Sekitar dua puluh menitan, setelah menuangkan anggur merah ke dalam gelas untuk tamu spesialku, Joe mendorong pintu dan mempersilahkan Abimanyu masuk ke rumahku seorang diri.


"Dimana keluargamu, sayang?" tanya Tante Nita setelah menerima uluran tangan Abimanyu dan melongok ke belakang Abimanyu seperti mencari secuil berlian di padang pasir.


Abimanyu meringis dengan kikuk. Meski tampan dengan menggunakan tuksedo hitam dan sepatu kets putih. Dia menggeleng lemah.


"Saya tidak tau kalo harus membawa keluarga Oma. Saya kira—" akunya dengan nada yang diturunkan satu oktaf. Dia menatapku dengan sedih.


"It's oke babe, it's oke, gak masalah." Aku mengelus punggungnya, menenangkan seraya menggenggam tangannya yang dingin. "Kamu sangat berani melamarku seorang diri, that's my future husband. Berani."


Khoue terbahak sembari beranjak, dia bertepuk tangan dengan bangga.


"Benar-benar ayam jantan kau pacar Bella! Mari kita mulai lamaran sebelum kau pingsan dan jadi batal." Khoue merangkul bahu Abimanyu.


"Kau jantan kan? Opa Liu diminta pacar kau untuk tanya itu, Mantu." tanya Khoue dekat-dekat, sementara semua orang juga dengar suaranya yang lantang tanpa basa-basi itu.


"Aku ini sahabat papa pacar kau, aku tau semua rahasianya dari kecil. Apa kau siap jadi suami Bella, Mantu?"


"Saya yakin siap, opa!" jawab Abimanyu tenang dan sedikit cemas.


Spontan Khoue terbahak-bahak dengan renyah sembari menunjukku di meja makan. "Bukan anak ayam ini Bella, benar-benar ayam jantan pacar kau ini."


Aku mengangguk dan ingin sekali sembunyi di bawah meja makan. Percuma cantik, mukaku sudah hilang gara-gara sahabat papa paling nyaho ini.


"Nanti sering-seringlah kau main ke rumah Opa. Opa kasih tau semua rahasia Bella mantu biar kau tak kaget waktu kawin dengan dia. Tapi sekarang kau harus melamarnya dulu kepadaku dan Marni. Kau bawa cincinnya, Abimanyu?" tanya Khoue, kali ini mukanya jadi serius.


Kami semua langsung menatap Abimanyu dengan serius, apa mungkin dia juga melupakan cincin penting itu?


Abimanyu meraba-raba dadanya dengan gugup setelah napasnya terlihat tercekat, mukanya terlihat panik, namun senyumnya tetap merekah.


"Aku, aku tidak tau Tante suka apa enggak. Cuma ini yang bisa aku beli."

__ADS_1


...******...


__ADS_2