
Esok harinya aku berlelah-lelah di depan teras sambil memangku secangkir kopi susu. Menyibukkan diri menyusun kepingan-kepingan kejadian hari kemarin di tepi pantai sampai langit gelap menaungi kami berdua di antara keresahan yang membeku di benakku.
"Kamu sayang sama aku?" tanyaku setelah jeda membuatku diliputi perasaan tidak nyaman yang sulit untuk dijelaskan. Aku kepayahan, jenis rasa sayang apa yang Abimanyu berikan kepadaku?
Abimanyu mengangguk, tidak pernah ada keraguan dari setiap ucapan, entah benar, entah salah, dia selalu yakin dalam menjawab apapun yang dia yakini adalah suara hatinya. Mungkin, kataku dalam hati. Abimanyu yang sudah menghabiskan dua kaleng bir tersenyum lebar. "Tante udah jadi bagian dari hidupku, jadi aku sayang sama Tante. Walaupun baru sebesar bulan sabit malam ini."
Abimanyu menunjuk langit, bulan sabit dan ratusan bintang di musim kemarau yang hangat sedang cantik-cantiknya di jauh sana. "Tante mau menerimanya?"
"Kenapa aku harus menolaknya?" candaku sambil menyingkirkan keranjang rotan yang menjadi pembatas kami berdua sejak tadi. "Cantik, meski tidak setengah atau fase purunama. Dan aku menerima semua jenis kasih sayang kamu yang berikan, tapi menurut aku kamu punya pacar sekarang. Gak bisa dong sayang sama aku terus-terusan. Pacarmu nanti marah." kataku mengingatkan dan kepalaku tak tahan untuk tak bersandar di lengannya.
"Aku ngerti, orang aku sayang sama tante sebagai keluarga!" Abimanyu melingkarkan tangannya di bahuku. Aku melirik jemarinya yang canggung di bahuku. Parah, sentuhan remaja ternyata beda dari sentuhan duda.
Abimanyu lalu menjatuhkan tangannya di belakang punggung ku ketika aku menoleh kepadanya dan melihat matanya sambil senyum lebar.
"Aku gak mungkin bilang itu kalo aku gak lihat Tante juga sayang sama aku."
"Masa? Tau darimana kamu aku sayang sama kamu?" sahutku sambil beringsut. "Jangan asal bicara ya, Abi. Kamu masih terlalu muda untuk menyimpulkan semua perlakuan ku kepadamu."
Tetapi tadi malam Abimanyu hanya menanggapi dengan kekehan dan candaan. Ia memutar posisi duduknya hingga menghadapku, setiap aku meliriknya dia tersenyum, setiap aku mundur, dia maju. Coba saja jika aku bisa menendangnya atau menceburkannya ke pantai, aku akan melakukannya. Tapi aku yang sudah merasa lemas dan lelah menjatuhkan tubuhku di pasir.
"Topik hari ini terlalu berat untuk di bicarakan, aku terlalu sedih kalo aku benar-benar jadi selingkuhan seperti yang kamu bilang kemarin, Abi. Aku tidak mau jadi selingkuhan!" kataku serius.
Abimanyu merapikan rambutku yang lembab yang menempel di kening dan kami tidak lagi bersuara seperti saat matahari tenggelam setelah persoalan menyalakan atau memadamkan harapan. Dan sebelum kami benar-benar berpisah ke kamar masing-masing. Abimanyu merangkulku seraya membimbingku ke pintu kamar lalu ke kamar mandi.
__ADS_1
"Seenggaknya aku udah tau baik dan buruknya Tante yang gak semua orang tau. Jadi aku spesial bukan?" Abimanyu menyombong, aku menghela napas.
•••
Petikan gitar terdengar dari kamar Abimanyu, aku tersenyum sambil menyeruput kopi susuku. Semestinya aku bahagia ada perjaka kesayanganku di sini. Ini sudah kedua kalinya kami berada di tempat yang sama. Meski berbeda kamar aku malah terus-terusan di rundung rasa gelisah yang pelik sekali. Bagaimana mungkin dunia langsung berubah ketika perceraian membuatku luluh lantak dan kini aku merasa ada kegalauan lain yang aku pikirkan. Tidak begitu besar kah cintaku dulu pada papi Narendra?
...Aku sadar siapa diriku...
...Yang tidak mungkin menggapaimu...
...Kau terlalu indah untuk jadi kenyataan...
......Fiersa Besari - Temaram......
Aku manaruh kopiku seraya berdiri dan langkahku terhenti di depan pintu kamar Abimanyu. Sejenak aku merasa ragu untuk menjumpai lagi setelah semalam baru aku sadari semua yang terjadi dan terucap ternyata sudah melebihi batasan yang kami miliki.
"Masuk, Tante." jawabnya setelah aku mengetuk kamarnya. Aku tersenyum dan menyaksikan Abimanyu memakai boxer dan kaos oblong hitam yang bersila di atas tempat tidur.
"Baru bangun?" tanyaku sambil mendekat.
Abimanyu menggeleng. "Udah dari tadi kali, aku nungguin Tante bangun dan pergi lihat sunrise bareng. Tapi apa, jam segini baru bangun." cibirnya, Abimanyu menyandarkan gitarnya di meja.
"Tante gak bisa tidur?" Abimanyu mengamati wajahku, "Aku cari kantong matanya sini." candanya yang harus aku terima dengan senang hati.
__ADS_1
"Gak ada," Aku duduk di tepi tempat tidurnya, "Gimana, orang tuamu nyari gak? Atau Brigitta?"
Abimanyu turun dari tempat tidur, ia meraih celana panjangnya yang tergeletak di sofa dan memakainya. Aku tersenyum, mungkin kah dia sedang menjaga kesehatan mataku dari putihnya paha yang slalu terbalut celana panjang itu?
"Chat doang, kalo mama dan papa biasalah. Aku sudah cukup dewasa kan bisa sampai ke sini sendiri, Tante sendiri gimana?" Abimanyu menyesap kopinya lalu menyilangkan kakinya.
Aku menghela napas, "Biasalah, geng kemayu, partner bisnis. Oh ya, gimana ceritanya kamu bisa ikut mereka datang ke pernikahan itu?" tanyaku penasaran.
"Penasaran kan?" Aku terkejut dan mengerjap menatapnya. Mata Abimanyu berbinar jenaka saat aku melemparinya bantal, Abimanyu terkekeh. "Aku ketemu Tante Alexa di klinik waktu nyariin Tante, terus di ajak sekalian makan-makan."
"Terus." desak ku.
"Aku di suruh nyanyi lagu pernikahan Tante dengan om itu dan lagu-lagu kesukaan Tante sebagai hadiah dari geng kemayu atas pernikahan mereka kemarin."
"Terus." Aku semakin penasaran dan tak sabaran. "Mereka gimana? Sebel?"
Abimanyu meringis, dia mengulurkan ponselnya kemudian dengan tidak keberatan.
"Tante lihat aja sendiri, pasti belum liat!" tukasnya benar, "Tapi yang paling keren dari drama geng Tante kemarin, mereka bawa spanduk besar berisi foto-foto pertemanan kalian, belum lagi semua siaran langsung dari pernikahan itu di retas suami Tante Regina yang terus di ganti potongan video syur Tante Debora."
Mampus! Aku jadi ketakutan sekarang. Papi Narendra pasti mikir aku yang menyuruh mereka melakukan itu dan sekarang dia pasti sedang mencari dalangnya.
Aku menatap Abimanyu dengan perasaan yang sama. Dia harus di jaga ketat karena sudah terlibat sementara aku kayaknya aku juga butuh bodyguard.
__ADS_1