
Bab 18 - Remasan Maut
.
.
.
Usai isya dan kembali melewati berjam-jam lamanya di tempat kerja. Aku kembali ke rumah pukul delapan malam. Tampak jelas mobil om Joe terparkir rapi di samping mobil mobil. Berderai-derai tawa aku dengar setelah memasuki rumah. Tawa pria, wanita, dan anak-anak bercampur dari lantai atas.
Tangan kananku mencengkram palang tangga sambil menyeret langkahku. Ini pasti masih ada hubungannya dengan masalah tadi pagi, Neo. Sangkaku pasti masalah itu belum selesai sampai-sampai papa gadungan itu harus turun tangan.
Aku mendesah, kapan aku bisa gagah perwira seperti gigi geraham bungsu yang tumbuh waktu aku berusia dua puluh tujuh tahun. Gigi geraham yang mendesak gigi senior. Tapi sayang seribu sayang gigi geraham yang gagah perwira itu membuatku harus melakukan operasi untuk mencabutnya demi kenyamananku sendiri dan menyebabkan aku seperti bocah.
Aku berhenti di undakan nomer lima sebelum menyentuh lantai atas setelah suara tapak kaki yang kudengar cepat dari arah ruang main berhenti. Neo merentangkan kedua tangannya.
"Om Ian nggak boleh masuk!" cetusnya.
"Kenapa?" tanyaku dengan suara rendah.
"Pokoknya nggak boleh! Om Ian ganggu mommy terus!"
Jelas sudah kegemaran Bella di jaman dulu kami berdua kenalan menular ke Neo. Sedikit cari perhatian tapi gengsi. Over thinking dan menyebalkan. Dan yang lebih mengerikan aku lupa membelikannya hadiah dan tidak bisa bermanis-manis selayaknya aku merayu Ollie. Memberinya satu atau dua kecupan lalu minta maaf. Selain itu dia mewarisi satu satunya bakat yang diturunkan keluargaku. Tidak suka basa-basi.
Aku naik satu tingkat undakan. Neo menggeram.
"Om Ian pergi, aku bilang papa kalo om maksa!" teriaknya.
"Coba aja!" Aku menyeringai, tak ada sedetik bahkan Neo belum sempat menjerit, aku membopongnya seperti membawa karung beras seraya berlari kecil ke ruang main. Neo memukuli punggungku sambil berteriak-teriak.
Turun!
Turun!
__ADS_1
Turun!
Seperti demo di depan gedung-gedung pemerintahan sampai membuat semua orang yang berada di ruang main berbondong-bondong mendatangi kami berdua.
"Galak bener anakmu, Bell." ucapku sambil menurunkan Neo.
Dua tangan mungil Neo langsung memukuli pahaku sampai dia mengigitku. Aku menjerit kaget. Bella sampai terperangah lalu menarik Neo yang masih ingin melakukan pertarungan.
"Udah, kasian daddy Ian nanti nangis." ucap Bella mengingatkan dengan lembut.
Neo menengadah, memandangku yang tersenyum kepadanya meski tanganku mengusap-usap bekas gigitannya. Neo menjulurkan lidah, mendekap ibunya seolah tanda. Bella bukan milik papa Joe, bukan milikku juga, tapi hanya miliknya sendiri. Oh laki-laki muda. Kau cerminan ibumu.
Kepalaku bersandar di lengan om Joe yang menahan tawa di sampingku. "Bu dokter sakit, periksa aku." godaku.
"NO MOMNY NO!" teriak Neo sambil menahan ibunya kuat-kuat. Semakin aku goda, semakin berang anakku sampai-sampai Bella bergumam, "Enough baby, enough."
Om Joe meraih Neo dari pelukan ibunya lalu menggendongnya. "Ke kamar yuk, kita siap-siap untuk bobok bareng."
Aku mengikuti mereka masuk kamar yang sudah berbeda konsep. Ada dua tempat tidur king size yang di lantai berserta bantal yang sesuai jumlah kepala. Ada delapan bantal dan dua selimut tebal berwarna putih.
Anak-anak mengikuti hot daddy dan ibu peri ke kamar mandi untuk gosok gigi dan ganti baju sementara aku mengikuti Bella ke dapur mini untuk membuat susu.
Aku menurunkan celana jins, memindahkan bobot tubuh dari kanan ke kiri sebelum menarik ke atas celana boxer yang aku kenakan. Aku meringis. Gigi-gigi kecil Neo seperti seni di kulitku. Anak itu.
"Sakit banget ya?" Bella berjongkok lalu mengusap pahaku dengan ibu jarinya. "Sakit pasti, duh kasian." Bella mengecupnya seolah ciumannya bisa menyembuhkan. Memang sembuh. Dan kurasakan dalam aliran darahku sentuhannya yang membawaku pada kesadaran. Neo belum tidur.
Aku menunduk. "Memangnya ada orang digigit tapi enak, kadang-kadang kamu itu pinter tapi banyak gemesinnya." Kedua tanganku menguyel-uyel pipinya.
"Aku cuma kaget, sayang. Berdiri deh, gayamu udah seperti pengen menganu aku. Udah bangun, kalau nggak—" Aku menjerit tak terima sewaktu Bella meremas tubuhku dengan sengaja sampai memancing rasa penasaran Neo lagi. Betapa dahsyat kejadiannya sampai aku hanya melotot sambil mengapit bagian paling aku jaga-jaga.
"Mommy habis kasih hukuman Daddy Ian, Neo. Daddy Ian memang nakal." Bella menepuk-nepuk tangannya lalu berdiri. Wajahnya semringah menatapku seolah benar-benar melakukan hukuman yang membuat Neo tambah lincah memusuhiku.
Satu jam kemudian. Kami berdelapan sudah memakai baju tidur seragam sebagai bentuk kekompakan, tetapi formasi di kasur bikin semua orang dewasa senyum-senyum.
__ADS_1
Sebagai penguasa, Neo berada di tengah-tengah dan menempatkan Bella dan Om Joe di kanan kirinya. Di samping Bella ada Ollie baru aku sebagai pembatas sementara di keluarga Pricilla mendapat bagian paling pinggir.
Om Joe menceritakan dongeng baru dengan durasi yang cukup lama sampai-sampai tak ada satupun bocah yang protes. Mereka mendengar sambil memeluk orang terkasih sampai terlelap perlahan-lahan.
Pukul setengah sepuluh malam, dengan gerakan pelan penuh dengan kehati-hatian kami berempat yang tadinya tampak lelah tiba-tiba langsung segar dan tersenyum lebar.
"Kacau banget kalian berdua." ucap om Joe setelah kami berempat para orang tua berhasil kabur dari kamar.
Bella menuangkan anggur ke empat gelas lalu menyajikannya. Kami berada di ruang home theater. Lampunya temaram seperti warung angkringan pinggir jalan dengan udara sama rendahnya.
"Maaf ya ngerepotin kalian terus." ucap Bella muram sembari mengusap rambutnya yang tergerai ke belakang. "Kalian belum bosen kan bantuin kita?"
"Ya kali Bell. Santai. Nggak mungkin kita lari apalagi sembunyi dari masalah kalian." Pricilla mengelus rambut istriku dengan manis dan penuh perhatian. "Gimana tadi, lancar nggak kerjanya?"
Bella merenung lalu menjatuhkan kepala di paha Pricilla. Aku bersaksi, meski Bella dan Pricilla menerima satu perhatian yang sama ke laki-laki yang sibuk mencari film action apa yang akan dia tonton malam ini di depan televisi. Keduanya tidak pernah mempermasalahkannya. Pricilla tahu Bella sangat tergila-gila padaku.
"Semuanya masih dalam kendali. Cuma tadi suamiku bilang habis dari mal tuh jalan sama partner syuting."
Pricilla menatapku curiga, bahkan beliau paling tua di sini menoleh. Om Joe mendelik.
"Aku jalan-jalan di mal sekalian cari kado buat Ollie, sayang."
Aku meneguk anggurku lalu mengangkat kepala Bella dari paha Pricilla. "Pindah kak! Atau cari kamar sana!"
Pricilla menarik kakinya pindah sambil mendengus dibarengi suara anjing tetangga yang melolong. "Urus bibi lo baik-baik, di sikat pengusaha mati elo Bi!"
Aku menyeringai sambil menjadikan pahaku bantal untuk Bella. Wajahku menaunginya dengan senyum andalanku.
"Kamu nggak marah kan aku belinya di bantuin temen?"
"Tergantung." Bella memejamkan mata lalu tersenyum khas juragan-juragan di pasar yang menemukan alasan untuk marah-marah.
......................
__ADS_1