Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Topimu untuk apa?


__ADS_3

Aku melirik Abimanyu yang masuk ke mobilku dan meninggalkan pacarnya di parkiran. Mana pacarnya santai-santai saja. Kok gitu ya, gak mesra. Harusnya kalau mereka pacaran itu pacarnya di antar pulang bukan malah mengizinkan dengan lapang dada nebeng tante-tante. Gak tau apa, janda nih punya sejuta cara untuk menggaet pemuda macam Abimanyu begini. Ntar aku sikat, nangis, guling-guling.


"Aku siap, Tante." ucap Abimanyu. Enak banget dia duduk manis, bahkan menyilangkan kakinya berasa aku ini benar-benar supir pribadinya. Kurang ajar emang, mau berapa kali dia balas dendamnya.


Aku menghidupkan mesin mobil, berhubung aku sedang memikirkan sesuatu di rumah, biarlah remaja satu ini manja dengan ku. Kalau ketagihan pun aku terima dengan senang hati.


"Nah, udah sampai rumah kamu. Turun sana. Bilang sama mama, Tante gak bisa mampir sekarang." kataku sambil memencet tombol seat belt-nya.


Abimanyu menyingkirkan seat belt dari badannya dan berusaha merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.


"Makasih, Tante." Abimanyu melepas topi baseballnya dan menaruhnya di kepalaku.


Aku mematung. Kenapa lagi ini remaja. Mau jadiin topinya pelet pelipur hatiku?


"Motornya gue tunggu besok, besok ini, bukan lusa, atau besok-besok lainnya!" Dengan gaya santai ia merapikan rambutnya dengan jari.


Aku berdehem sewaktu Abimanyu mendorong pintu mobil dan bunyi berdebam terdengar. Aku menyaksikannya masuk ke dalam rumah, setelah ia benar-benar tak muncul lagi untuk mengambil topinya ini. Aku tersenyum.


"Jangankan topi, Bi. Yang lain Tante terima, kebaikanmu, senyummu, hatimu, apalagi yang lain-lain, ah. Bella otw gila."


Aku menghidupkan mobil dan melajukannya tanpa perlu buru-buru karena kedatangan papi Narendra di rumah pasti bikin aku tidak tenang.


"Ada apa, mas?" tanyaku setelah turun dari mobil tanpa melepas topi Abimanyu. Sementara pria yang ku cintai sepenuh hati kemarin menungguku di teras rumah di temani secangkir kopi buatan bibi Marni.


Kemejanya sudah lecek, aku pun juga menaruh yakin jika tadi setelah sidang dia tidak pergi ke kantor. Dia sedikit berbau alkohol. Sepertinya kondisinya sama dengan ku, sedang rapuh-rapuhnya.


Papi Narendra berdiri, sejenak tatapannya pindah ke topi yang aku kenakan. Dengan bangga aku menyentuhnya. Topi bekas remaja iseng yang sudah malak diriku dua juta dalam satu jam. Hebat sekali remaja satu itu. Aku sudah mengeluarkan nyaris sepuluh juta dalam kurun waktu satu Minggu untuknya.


"Kenapa mas? Mau ambil barang-barang kamu, silahkan masuk." kataku tanpa emosi. Walaupun dalam hati aku berharap gak usah, barang-barangnya biar di sini saja biar aku jual.

__ADS_1


"Tumben kamu pakai topi?" tanya Narendra pelan. "Bukannya itu akan merusak tatanan rambutmu."


Aku tersenyum kecil. Sesungguhnya aku suka dengan reaksinya sekarang. Dia masih ingat aku benci menggunakan topi. Tapi sekarang aku justru membalikkan topinya seperti cara Abimanyu tadi.


"Mau rambutku berantakan siapa peduli, aku sudah tidak punya alasan lagi untuk tampil sempurna di depan umum atau di rumah. Aku bebas berekspresi sekarang." jawabku.


Papi Narendra nampak terkejut, dan memperhatikan wajahku seakan tidak percaya aku mengucapkan itu.


"Aku buru-buru pulang untuk menemuimu, mau apa ke sini? Bukannya urusan kita sekarang lewat ajudan?" omelku.


Narendra mengalihkan pandangannya. Menatap halaman rumah yang besok akan aku carikan tanaman hias sendiri. Aku suruh tukang kebun untuk memperindah tampilan halaman rumahku.


"Ajudanku tidak mengerti berkas-berkas penting di ruang kerjaku!" ulasnya dengan suara berat.


"Langsung saja buruan masuk. Sekalian ambil barang-barang kamu dari rumahku mas karena aku sudah tak ingin ada bekas kenangan kamu di rumah ini!"


Dengan mantap aku masuk ke dalam rumahku. Melewati ruang tamu yang masih terpampang jelas foto pernikahan kami.


"Ada apa, Nyah?" tanyanya dengan ekspresi heran. "Topi baru, Nyah? Kok udah jelek."


Semprul. Aku menghela napas, mengabaikannya.


"Bantu bapak beres-beres kantornya. Pastikan barang-barang ku tidak bapak bawa!"


Bibi Marni mengangguk. Dia gegas mengikuti langkah papi Narendra yang malah masuk ke kamar.


Rusak sudah rencana ku menjual barang-barang papi.


Aku menaruh tas jinjingku di meja sementara mataku tetap melihat mantan suamiku menggulung lengan panjang kemejanya ke atas seraya membuka lemari. Ia mengeluarkan baju-bajunya dan menaruhnya di atas ranjang.

__ADS_1


"Mobil di garasi akan menjadi milikmu, Bella."


Apa aku harus membantunya mengepak barang-barangnya?


"Terima kasih, jangan lupa BPKB-nya di tinggal." jawabku.


Aku mendudukkan diri di kursi yang biasa kami berdua singgahi untuk foreplay. "Kamu akan tinggal di mana?" tanyaku memastikan.


"Rumah besar." Narendra menatapku.


Rumah besar dengan segala kemewahan yang tidak di ragukan lagi.


"Bisa aku pastikan sekarang kalo rumah itu sedang mengadakan pesta perayaan perceraian kita." kataku dengan sinis, para orang tua papi Narendra itu pasti senang anaknya resmi cerai. Sekarang pasti mereka akan sibuk menjodohkan anaknya ini dengan teman-teman pengusaha mereka.


"Kamu jangan asal bicara, Bella. Emangnya kamu pikir aku mudah menerima perceraian ini?" Narendra membanting setumpuk celana kain kerjanya di lantai.


Aku mengendikkan bahu sambil berdiri.


"Kamu sudah memilih!" sentakku, "bibi, bantuin bapak, buruan, biar bapak cepat keluar dari rumah ini."


Sesaat setelah bibi Marni kembali sambil membawa koper milik papi Narendra yang besar-besar dari ruang pakaian kami dulu, aku bersandar di dinding kamar mandi.


Aku melepas topi dan memandanginya. Emang sudah lama di pakai, pinggiran dari ujung topi ini serat-seratnya kainnya sudah brodhol.


"Maksud kamu kira-kira apa sih Abi ngasih aku topimu. Apa menurutmu karena kamu tadi bilang aku Tante galau, kamu tau aku galau?"


Aku melepas baju-bajuku seraya melepaskan penat sambil berendam.


•••

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2