
...Setelah Kita Menikah....
...Sebuah spin off dari novel Perjaka Kesayanganku....
...Dengan sudut pandang pertama Abimanyu Julian Rudolf....
...Selamat membaca....
......................
Bab 1 - Sejauh Aku Memandangnya.
.
.
.
Delapan tahun telah berlalu...
Ada perasaan yang tidak bisa aku jelaskan dengan terperinci setelah mengarungi perjalanan yang serupa bermain game. Ada tantangan, kepuasan, pertaruhan dan rasa kecewa dari setiap-setiap persoalan yang kami hadapi.
Setiap tantangan memberiku banyak pembelajaran.
Setiap kepuasan memberiku kesenangan.
__ADS_1
Setiap pertaruhan memberiku kesempatan.
Dan setiap kecewa membuatku kembali pada tiga poin yang telah aku katakan.
Aku hidup di sebuah perumahan elite yang aku nikmati bersama seorang wanita yang aku cintai bernama Bella Eliss dan dua anak kami, Neo dan Ollie. Dua pelengkap dalam hidup kami, tepatnya hidup istriku yang mendambakan putra dan putri jauh sebelum bersamaku. Ia terlihat begitu bahagia, sampai-sampai segala yang belum sempat aku lihat dalam dirinya secara gamblang membuatku yakin dia adalah wanita yang posesif, penyayang dan keibu-ibuan. Sementara bagiku yang belum genap 24 tahun saat itu, memiliki bayi adalah suatu pergolakan paling dahsyat. Aku mengalami banyak hal yang penuh kesan heroik dan entah bagaimana persis mulanya, menjadi ayah di tengah kesibukanku sebagai publik figur dan rahasia-rahasia yang aku sembunyikan dari netizen membuatku pusing tujuh keliling.
Aku puyeng memikirkan biaya hidup kami yang serba harus kecukupan dan bagaimana harus menyembunyikan anak-anak kami yang manis, sedikit nakal dan lucu-lucu di hadapan semua orang. Dan delapan tahun aku memikirkan, rahasia-rahasia yang kami sembunyikan tetaplah menjadi sebuah tanda tanya bagi mereka yang mencari jawaban.
Aku tersenyum, dari kamar anak-anak kami yang manis dan sering membuat Bella senewen, Neo dan Ollie berlari kecil ke arahku sambil meneriakkan panggilanku dengan sebutan uncle.
Maha cerdas istriku yang penuh ide cemerlang sekaligus konyol yang tak berkesudahan dalam sekali waktu.
Neo memberikan satu tinjuan tangan di perutku lalu mendongkak. Matanya yang seperti Bella sering membuatku tersenyum-senyum sendiri jika melihatnya marah seperti ini.
Aku membungkuk. "Oh-oh..." Ku pegang perutku pura-pura kesakitan, sementara Ollie yang ingin menjadi dokter seperti ibunya menarik tangan kakaknya sambil menggelengkan kepala.
"Om cakitt tau, kak. Nanti om nangis..." celotehan bocah empat tahun ini membuatku tersenyum lebar. Aku merindukan mereka setelah pergi ke luar kota selama satu bulan untuk menuntaskan syuting film horor.
"Kalian mau ke sekolah?" Aku berjongkok ketika anak bibi Marni menyerahkan sepatu Neo dan Ollie. Aku membantu mereka menggunakan sepatu. Hal-hal sederhana seperti ini jarang aku lakukan untuk mereka dan sering kali aku dihantam perasaan bersalah.
"Sudah." Aku berdiri. Kedua peri cinta kami tersenyum ketika aku merentangkan kedua tangan. Mereka menubrukku dengan pelukan gemas sementara aku menatap Bella.
Aku tahu, tidak ada yang menjual rasa sabar kecuali dari dalam diri kita sendiri.
Delapan tahun aku sering meninggalkannya untuk berkiprah di dunia entertainment namun ia tetap menjadi seseorang di barisan paling depan yang mendukungku.
__ADS_1
Bella meringis, giginya yang entah dia apakan terlihat putih.
"Udah sarapan?" tanyanya setelah mencuri kesempatan menciumku di pipi. Lalu menarik dengan lembut anak kami dari pelukan mereka di tubuhku.
"Sarapan yuk, mommy udah masak." ajaknya.
Neo berdecak kesal, parasnya yang seperti milikku beralih ke Bella yang melihatku dengan tatapan penuh kerinduan.
Aku sudah yakin, setelah anak-anak pergi dia akan menagih hasrat-hasrat di tempat tidur.
"Mommy boleh nggak masuk sekolah? Aku mau main sama om!" rengek Neo dengan tatapan penuh kekanak-kanakannya.
"No!" Bella menggeleng sambil tersenyum. "Om Julian masih di rumah sampai besok malam. Kamu bisa main game sepulang sekolah."
Neo mencebikkan bibir. "Beneran, om?" matanya mengamatiku dengan curiga. Tidak percaya dan seolah-olah dia tidak percaya dengan penjelasan Bella.
Aku mengangguk, Neo sukses membuatku tercengang dengan tawa renyahnya. Dia kelihatan senang sekali dan benar-benar merindukan kebersamaan. Aku juga merindukan rumah ini, rasanya dua hari saja tidak cukup untuk istirahat dan memudarkan kerinduan.
Kami berempat pergi ke ruang makan. Seperti biasa, Bella slalu melayaniku dengan baik entah di ruang makan atau di ruang-ruang lainnya. Meski kadangkala terbersit dalam pikiranku, apakah dia benar-benar bahagia menjalani delapan tahun pernikahan kita?
Bella mempersilahkanku untuk sarapan sementara ia yang mendapat telepon langsung bergegas pergi ke kamar kami di lantai dua.
Aku menyipitkan mata. Siapa yang meneleponnya sepagi ini? Diam-diam aku menaruh curiga dengan kehadiran Narendra Wicaksono dalam rumah tangga kami atau pria-pria lain mengingat dulu ia adalah wanita kesepian. Meski sebenarnya, pikiranku hanya terpaku pada om Narendra yang nampaknya masih menyesal menceraikan istriku.
......................
__ADS_1