Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Kau curangi aku


__ADS_3

Bulan purnama kembali bersinar malam ini sewaktu aku termangu sendiri di belakang klinik. Di kursi besi taman kecil di dekat gudang, aku merenungkan kembali bagaimana rasanya ditinggalkan dan kehilangan. Sakit, dadaku seperti di terjang berbagai jarum tak kasat mata yang sontak melukai perasaan ini, semakin aku berusaha mencabutnya satu persatu rasa nyeri itu masih terasa.


"Kenapa sulit!"


Air mataku mengalir tanpa bisa aku tahan-tahan. Aku terisak sambil menundukkan kepala. Isakkan ku semakin mengeras mengingat kembali kejadian beberapa jam lalu. Aku terluka, merasa teraniaya akan keadaan ini karena yang terjadi kini aku benar-benar sendiri, aku tidak punya tempat bersandar. Aku tidak ada tempat untuk mengadu semua keluh kesahku yang paling dalam dengan leluasa. Bahkan untuk merangkum kebahagiaan dengan mama dan papa seperti terhalang pembuat lara itu. Narendra dan ibunya.


"Usaplah air matamu dan lihatlah sekeliling, Tante!"


Suara itu seperti nyata, aku menoleh. Abimanyu!


Mataku yang penuh dengan air mata dan wajahku yang begitu basah membuatku langsung memalingkan wajah lagi.


Kenapa remaja ini bisa masuk ke klinik. Kemana satpam di depan? Acara patah hatiku langsung rusak karena kehadirannya. Mana wajahku lagi jelek-jeleknya lagi, kesel.


"Tante!" sentak Abimanyu.


Setelah aku berusaha mengembalikan senyumku dan menguap air mataku sampai kering, aku menoleh. Remaja ini sudah berdiri di samping kuris besi yang aku duduki. Menjulang di sebelahku dengan kepala yang menunduk.


"Ngapain kamu kesini?" balasku, tapi ternyata yang keluar suaraku yang serak basah.


"Main."


"Main?" gumamku sambil mengerjapkan mata, "Main kesini, emang teman-temanmu dimana?"


Abimanyu melangkah lebar lalu duduk di sampingku. Aku bergeser sampai ke pojok palang kursi. Gawat ih, dia bisa lihat wajahku dengan sembab ini.


"Tiba-tiba aja aku pengen main ke sini, gak boleh emangnya."


Aku menggaruk betisku yang di gigit nyamuk. "Boleh, tapi kenapa jam segini, astaga, ini udah jam sepuluh Abi. Ngapain gak pulang aja atau ke rumah sakit jaga papa kamu." protesku. Lelucon apa ini, apa remaja ini tidak tahu aturan main jam kunjungan malam.


Abimanyu menoleh sambil meringis. Ia terlihat lelah tapi tetap tersenyum.


"Aku mampir soalnya mobil Tante masih ada di parkiran! Gak boleh?" tanya Abimanyu, tangannya masuk ke kantong jaketnya.


Aku menegakkan tubuh lalu berdehem-dehem menghilangkan suara serak ku. Jangan sampai remaja ini mengira aku patah hati dengan teramat sakit.

__ADS_1


"Teruussss gimana caranya kamu bisa masuk kesini? Ada satpam kan di luar?" tanyaku memastikan. Jangan sampai itu Priyanto makan gaji buta dan asyik godain cewek-cewek lewat.


"Aku bilang Tante yang ngundang aku ke sini, jadi boleh masuk!" Abimanyu mengeluarkan coklat batangan dari kantong jaketnya. "Makan tuh."


Aku menerima coklat itu tanpa sungkan-sungkan.


"Beneran buat aku?" tanyaku memastikan.


Abimanyu menggeleng tanpa ragu sembari meluruskan kakinya. "Tadinya buat aku sendiri sebelum nunggu papa di rumah sakit, tapi kayaknya Tante lebih butuh."


Aku tergelak, dasar remaja jujur, tapi aku bisa menyimpulkan bahwa Abimanyu sengaja lewat di depan klinikku dan sewaktu ia melihat mobilku masih di parkiran, dia mampir. Oh astaga, mama, aku punya teman remaja bandel sok perhatian. Gemes.


Aku membuka pembungkus coklat batangan ini lalu membaginya menjadi dua. Aku mengulurkan bagian milik Abimanyu sambil tersenyum.


"Kamu juga makan. Aku diet jadi tidak makan coklat banyak-banyak." aku ku.


"Stress udah bikin Tante gampang kurus, jadi untuk apa diet, menyusahkan diri!" cibirnya lalu melempar satu patahan coklat ke mulutnya. Ia mengunyahnya sambil menatapku. Aku pun begitu, melempar satu patahan coklat dan menatapnya.


Aku memalingkan wajah, tatapan itu terlihat nyaman. Membuatku ingin melihatnya lama-lama tapi aku takut terbuai. Aku melemparkan kembali coklat ke dalam mulutku lalu mencengkram tepian kursi seraya beranjak.


"Aku harus pulang, Abi. Kamu juga, buruan ke rumah sakit."


"Sudah makan?" Abimanyu berdiri, tatapannya tetap tidak teralihkan dari wajahku.


Aku mendesis dalam hati. Jangan bikin program diet ku gagal Abimanyu, jangan perhatian. Nanti aku merasa di perhatikan lalu meminta lebih. Aku takut pacar kamu harus bersaing denganku yang lebih seksi dan tentunya lebih menyenangkan.


Aku mengangguk dengan terpaksa. "Sudah aku bilang, aku diet Abi. Aku hanya makan buah-buahan segar malam hari." jelasku sambil menepuk betisku yang di gigit nyamuk lagi.


Abimanyu mendesah. "Hidupmu berat banget, Tant. Makan saja harus di atur! Beli makan yuk, aku yang traktir."


Dengan cepat aku mengangkat kedua tangan. Nyerah, aku tidak mau. Tidak bisa. Ini sudah di atas jam sepuluh malam. Mau makan apa jam segini, mana yang traktir anak remaja lagi, belum kerja, mana lagi susah. Terbayang sudah makanan berat di kepalaku di pinggir jalan.


"Makasih, Abi." Aku tersenyum sungkan, "coba kalo traktirnya di ganti jamnya. Aku pasti mau kok. Tapi kalo jam segini, jangan ah. Takut gendut."


"Besok nge-gym!" sahutnya cepat, dia mendahuluiku berjalan masuk ke koridor yang sepi dan bercahaya remang-remang.

__ADS_1


Aku ikut berjalan di belakangnya. Rasanya ingin sekali aku berceramah tentang ketakutan seorang wanita perfectsionis dengan makan malam. Tapi apa gunanya? Tidak penting baginya.


"Tunggu sebentar!" Aku menarik jaket Abimanyu agar dia berhenti melangkahkan kakinya yang semangat. "Aku ambil dulu tasku di kantor."


"Aku ikut Tante."


"Idih, mulai demen main sama tante-tante ya?" godaku sambil mendorong pintu kantorku. Lampu di ruanganku otomatis menyala, ku raih blazer dan memakainya. Setibanya di parkiran setelah Abimanyu hanya mengamati ruanganku, satpam yang berjaga tersenyum-senyum sendiri melihatku keluar bersama remaja. Mana tadi sudah salah paham lagi, dikiranya aku yang mengundang Abimanyu kesini. Bayangkan besok gosip apa yang akan tersebar di klinik.


"Besok-besok pastikan dulu sama saya kalo ada tamu yang datang! Ngerti!" kataku galak.


"Maaf Nyonya." Masih tetap tersenyum-senyum sendiri satpam itu, aku berbalik dan mataku langsung melebar seperti melihat diskon besar-besaran. "Kok kempes bannya, kok bisa."


Aku meraba-raba ban mobilku. Kempes sekali seperti habis di coblos pakai paku.


"Satpam!" teriakku kesal. "Kamu jagain mobil aku enggak?"


"Slalu aku jagain nyonya, sesuai mandat bos besar." ucapnya sungguh-sungguh sambil mengangkat jari suer.


"Tapi kenapa bisa kempes gitu, siapa yang ngempesin pasti iseng nih. Ah sebel, gak bisa pulang. Capek." omelku jengkel.


"Nyonya bawa motorku aja pulang, atau pakai taksi." saran si satpam, "atau tuh-tuh minta tolong tamunya Nyonya buat nganter pulang dulu. Rawan sekarang janda kembang pulang sendiri—aww..." Ku timpuk dadanya dengan tas jinjingku.


"Gak usah bahas-bahas status!" ucapku marah seraya menengadahkan tangan. "Kunci motor kamu, sekalian helm!"


"Gak bareng aku aja, Tant?" sahut Abimanyu seraya menggeber motornya hingga meraung keras, "Papa masih di tungguin mama jadi santai."


"Gak usah, Abi. Aku pemberani kok, santai aja." Aku tersenyum.


"Tapi jadi makannya?"


Ya ampun! Masih maksa makan tengah malam dia. Aku mengangguk dengan terpaksa. Dari belakang aku mengikuti arah motornya dengan cepat sampai-sampai fokus ku hanya pada motor itu. Setibanya di kedai pinggir jalan. Aku di bawa ke sebuah tempat penjual aneka seafood. Otomatis aku langsung pesan udang bakar madu dan lobster saus tiram tanpa nasi.


"Kamu mau apa?"


"Mau lihat Tante makan!"

__ADS_1


__ADS_2