Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Ketok palu.


__ADS_3

Bermandikan sinar matahari yang menyorot masuk ke teras rumah, aku memejamkan mata. Meresapi kehangatan yang tercipta dari sang pencipta.


Di teras ini, aku setengah berharap papi Narendra datang kembali ke rumah ini, menghangatkan pagiku yang senyap. Membatalkan rencananya untuk berpisah. Mendadak pula terpikir olehku bahwa sepanjang pisah ranjang kemarin papi hanya pergi bekerja, membiarkan aku di rumah menantinya lalu nanti dia pulang membawa satu oleh-oleh khas dari tempat kunjungan kerjanya.


Aku slalu menyukai apa saja yang papi Narendra berikan, tapi sepertinya sampai hari ini dimana sidang perceraian akan terjadi papi Narendra menghilang, lenyap, tak terlihat batang hidungnya apalagi batang lainnya, hingga aku seperti hidup dalam paradoks yang sulit di jelaskan—antara percaya dan tidak akan perpisahan ini–dan aku harus berjuang keras membebaskan diriku darinya.


Aku membuka mata. Meraih pot mawar merah yang di tanam papi Narendra di sampingku. Ada dua kelopak bunga yang mekar. Aromanya menyesakkan dadaku, mempersulit caraku melupakannya.


Aku menghirup napas dalam-dalam dan melihat peninggalan papi Narendra yang masih subur di halaman rumah. Pria berusia nyaris empat puluh tahun itu suka bertanam, suka berkebun, setiap sore jika senggang dia akan menyirami bunga-bunganya.


"Wahai papi, baru lima tahun kita sama-sama berjuang. Sedikit kah cinta yang kamu miliki untuk mami?"


Aku tersedu-sedu, bukan salahku, bukan salah kita, tapi aku juga tidak berani menyalahkan semesta.


Air mataku jatuh tak tertahan ke tanah dalam pot.


Pot ini menyesakkan dadanya. Aku membantingnya hingga semua tanah dan pot tanah liat tercerai-berai di lantai.


"Nyonya," sahut Bi Marni dengan muka tergesa-gesa. "Kenapa nyonya?"


"Angkut semua tanaman hias yang papi beli, Bi. Semuanya, sekalian pakaiannya ke mobil. Kita bawa semua ke pengadilan!" jawabku marah dan putus asa.


"Tapi nyonya yakin bapak ada di pengadilan nanti?"


Pakai di tanya, jelas aku tidak tahu. Nomerku saja di blokir dan semua hal-hal penting yang masih harus berhubungan denganku hanya ia sampaikan lewat ajudannya.


Aku mengibaskan tangan, mau dia datang atau diwakili oleh pengacaranya aku nggak peduli yang penting rumah ini harus terbebas dari tanamannya yang kini sama sekali tidak indah. Merusak mataku dan ketenangan hatiku.


"Baik, nyonya. Bibi siap melaksanakan. Tapi–mobilnya muat?"


Alamakkkk, lupa. Langkahku jadi terjeda karena pernyataan itu. Mobilku yang matic, mini pula mana muat.

__ADS_1


Ku lihat masih tiga jam lagi proses persidangannya. Aku pergi keluar rumah, pergi ke rumah pak RT karena disana ada mobil pick up. Jadi aku pinjam saja tanpa sopir biar aku yang menyopirinya sendiri.


"Bi Marni, yuhuyyy, tuh taruh semua di sana. Minta tolong satpam kompleks buat bantuin." kataku sambil menaik-turunkan alisku. Mulai sinting karena muka sembab ini membuat pak RT iba sampai-sampai ditawari sarapan segala di rumahnya tadi.


Dasar duda tua. Maaf kali pak, nggak level. Aku lagi nyari yang fresh, yang seger dan keras mirip kelapa muda gitu. Jangan yang sudah tua, bisa-bisa papi Narendra ketawa.


Bi Marni yang telah mengumpulkan sebagai pot-pot bunga di teras mengiyakan.


Aku masuk ke dalam rumah, ke kamar, menuju ruang ganti yang memiliki dua lemari besar berisi pakaianku dan papi Narendra.


Aku duduk termenung, mengingat kembali rasa-rasa yang pernah terjadi di ruangan yang di tata papi Narendra dengan gaya maskulin ini.


Kadang di sofa ini kami saling memadu kasih, bergurau, saling menyiapkan baju kerja dengan warna yang kami inginkan. Secinta dan sekonyol itu aku dengan papi Narendra. Tapi semuanya papi akhiri dengan berpisah, dan aku belum tahu alasan lain kenapa dia menginginkannya lebih cepat dari perjanjian kami berdua kala hasil tembakannya masih gagal di rahimku.


"Bibi, pakaian papi nggak jadi di bawa ke pengadilan. Nanti aku jual aja sebagian biar jadi cuan. Lumayan tuh buat beli beras sama bayar listrik." teriakku dari jendela.


"Siap, Nyah." Bi Marni mengangguk lalu mengangkat pot besar ke dalam bak mobil meringis lebar-lebar.


•••


Dua jam berlalu, aku yang sudah cantik jelita memakai gaun merah menyala seperti mawar papi Narendra masuk ke mobil pick up. Membawa mobil ini rasa-rasanya aku bukan seperti Bella Ellis, aku hanya seperti wanita patah hati yang cari perhatian.


"Yang ikhlas ya, Nyah. Kalo bapak sudah minta pisah ya sudah, jangan dipaksakan terus lanjut. Bibi cuma bisa doakan tanpa bapak, nyonya tetap bisa gaya."


Aku tertawa sedih, sesuatu dari ucapan itu menggelitik sesuatu di dekat jantungku.


"Tetap gaya Bella Ellis, tetap gaya walaupun menjadi janda. Hahaha." Aku menyemangati diriku sendiri sambil memutar kunci mobil.


Dalam perjalanan yang menyita seluruh konsentrasiku, tibalah aku di gedung pengadilan agama.


Kedatangannya ku yang membawa banyak tamanan hias mahal milik papi ini menyita seluruh perhatian orang-orang yang mungkin sama patah hatinya sepertiku.

__ADS_1


Aku memastikan keadaan, mencari mobil papi, pengacaranya, atau ajudannya.


“Papa, mungkin ini jawabannya kenapa papa tidak merestui aku dengan Narendra. Selain dia duda, ternyata, papa lebih tau semuanya daripada aku yang keras kepala ini.”


Aku menjangkau tas jinjingku dengan raut wajah menyesal. Di sana, di dekat pilar raksasa, berdiri dengan gagah dan tampan papi Narendra, Debora dan pengacaranya. Sedangkan aku hanya di temani bibi Marni.


Aku berjalan dengan keanggunan yang terlatih menghampiri mereka dan setelah aku dapatkan apa yang aku inginkan—Narendra menatapku—aku menyunggingkan senyum.


"Bisakah kalian meninggalkan kami?" tanyaku sambil menatap Debora dan pengacaranya.


"Aku ingin bicara empat mata dengan—" aku menghela napas, tidak mungkin memanggil Narendra lagi dengan sebutan Papi, "Mas Rendra."


"Kalian berdua pergilah." Narendra menyuruh.


"Saya turut bersimpati, mami Bella. Semoga bahagia." Debora melewati ku dengan siku yang menyentuh lenganku. Dia menatapku dengan senyum sinis.


Perasaan was-was mekar di dalam diriku. Debora, dia berusaha mengenyahkan aku sepertinya. Tapi peduli setan. Kurasa dia sudah menduga bahwa ini pasti akan terjadi makanya dia ada di atas awan.


Aku membasahi bibirku. Jantungku berdebar-debar tak karuan seperti burung liar yang terperangkap di sarang saat ku tatap mata pria berdasi di depanku.


"Terima kasih untuk seluruh cinta yang papi berikan sepanjang kita bersama papi. Jujur aku nggak sanggup pisah sama papi, tapi ya sudah keputusan ini lebih cepat, lebih baik jika itu yang terbaik untuk kita." Aku berusaha menahan emosi yang terlalu dalam.


"Semoga papi bahagia. Papi bisa memiliki anak dengan perempuan lain. Aku berdoa untuk itu—berdoa untuk diriku sendiri juga—itu juga aku bawakan tanaman papi. Ini kuncinya pak RT, tolong nanti sekalian di kembalikan mobilnya."


Aku menyerahkan kunci mobil pick up pak RT ke tangannya yang hanya bergeming di sisi tubuhnya yang terdiam membeku melihatku.


"Selamat berpisah, mas. Aku sudah bertarung di atas semua mimpi kita. Aku pun menyerah, aku sudah benci berusaha, tapi aku juga dilema. Aku kehilanganmu, di sisi lain aku bebas. Aku bebas atas tuntutan alami seorang perempuan!" aku menepuk dadanya seraya berlalu, di balik tembok yang menjulang tinggi. Aku memukul perutku.


"Aku tidak akan menyerah, tidak akan, tidak kali ini Narendra. Kita lihat saja setelah persidangan nanti siapa dulu yang akan memiliki bayi. Aku atau kamu pecundang?"


•••

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2