
"Apa?" Abimanyu mendelik sewaktu aku turun dari motor dan meringis di depannya yang melepas helm. Abimanyu nampak menghela napas saat menaruh helmnya di stang motor.
"Minggir kali, Tant. Jangan jadi palang gini. Takut aku di pepet tante-tante centil, janda lagi!" ejeknya sambil menjentikkan jarinya keras-keras di lenganku. Matanya yang teduh menyorot geli saat aku memegang lenganku yang merah.
"Sakit tau!" Aku menjewer telinganya, "gini kan anak bandel kalo nakal, dijewer sama mama!"
Abimanyu terbahak, tawanya membuatku semangat. Di sisi lain aku penasaran kenapa dia tidak kencan dengan ceweknya, apa mereka lagi ngambek terus gak mau ketemuan. Hihihi, dasar remaja.
Kami berdua melangkah di trotoar jalan untuk mendatangi kedai ramen yang masih berjarak sekitar tiga puluh meter dari tempat parkir saking ramainya pengunjung.
"Kamu kecil bagi aku yang udah tante-tante, janda lagi."
Aku mengerutkan hidung, menunggu responnya, namun aku tahu dia sudah ada yang punya, lalu untuk apa aku seperti melemparkan diri pada perjaka ini. "Usia maksudnya, paham?" imbuhku sambil bersikap biasa saja berjalan di sampingnya. Tak mengapa bila esok tetap sendiri, tidak apa-apa. Abimanyu bukan jodohku, aku hanya ngarep.
Abimanyu mendorong pintu kaca yang didesain seperti pintu-pintu khas penduduk asli negara Jepang juga ada satu panda bohongan di atasnya.
"Aku tau!" katanya, lalu menahan pintu membiarkan aku masuk. "Tapi apa Tante serius?"
Aku mengangguk dan tersenyum. "Aku masih pengen lihat kamu besok dan sebenarnya ada sesuatu yang mau aku tanyain sama kamu, Bi!"
Abimanyu menyusul di belakangku, ikut ke kasir sekaligus meja pemesanan setelah melewati banyaknya pasang mata yang menengok ke arah kamu berdua.
"Aku ramen komplit, yang satu tanpa seafood ataupun olahannya." kataku menjelaskan takut Abimanyu alergi dan merusak kuliahnya, lalu menoleh. "Mau minum apa?" tanyaku.
"Terserah Tante." jawab Abimanyu.
"Lemon teh dua, es-nya sedikit." jelasku lalu membayarnya.
"Silahkan kak, mohon di tunggu sebentar." ucap shopkeeper.
Aku menyelipkan kembali kartu kreditku ke tas seraya membawa nomer pesanan. Kini aku yang balik mengikuti Abimanyu mencari tempat duduk yang kosong, dan aku sangat menyukai tempatnya. Berada di pojokan.
"Tante mau tanya apa?" Abimanyu mengeluarkan ponsel dan rokok elektriknya dari saku celana seraya menaruhnya di meja berwarna hitam yang dilengkapi penunjang rasa. Ada saus tomat, saus pedas, lada bubuk, garam halus dan sambal mentah serta sendok dan garpu bagi yang tak berminat memakai sumpit.
Aku hanya melipat kedua tanganku dan menaruhnya di meja. Hanya senyum yang aku tunjukkan sambil memang memaksa diam sambil memikirkan bagaimana nasibku setelah Narendra dan Debora menikah. Masihkah bisakah aku percaya semua kasih sayang yang papi Narendra curahkan padaku kemarin-kemarin. Jujur aku tidak menyangka, apa mungkin itu alasannya Narendra menceraikan aku tiba-tiba?
__ADS_1
Mengapa sulit aku melawan benci dan kecewa yang semakin mengakar di hatiku ketika mengingat mereka. Apa begitu tidak berharganya aku bagi Narendra sampai dia melangsungkan pernikahan secepat itu.
"Tante." panggil Abimanyu, "Malam Minggu cemberut aja!"
Aku memejamkan mata, menghilangkan kegundahan dan rasa nyeri yang muncul karena memikirkan pernikahan mereka.
"Gimana enggak cemberut, sekalinya ada yang jemput buat malam Mingguan pacar orang. Sedih aku nanti di anggap orang ketiga." gurauku sambil mengurai tanganku dari atas meja, aku mengambil ponselku di dalam tas lalu menyerahkannya ke dekat ponsel Abimanyu.
"Tulis nomer kamu, biar enak kalo mampir ngabarrrr—"
"Aku lebih suka ngasih kejutan!" sahut Abimanyu cepat.
Mulutku langsung lengket seperti kena lem. Aku mingkem. Aku terkejut saat ia memotong ucapanku. Dia nggak mau ngasih nomer hpnya, sepenting apa remaja ini sampai-sampai gak mau berbagi nomernya ke aku. Apa dia gak mau terusik karena chat dan telepon dariku? Ouhhhhh, rasanya dadaku mendadak seperti di tolak. Sakit. Gak tahu aja remaja satu ini jika banyak mahasiswa dan laki-laki beruang banyak ingin mengetahui nomer pribadiku. Parah banget Abimanyu.
Ia mengangkat ponselku dan menuruhnya di samping tanganku yang memegang gelas. Dinginnya es merambat ke telapak tanganku dan menyebar kemana-mana termasuk hatiku.
"Aku gak kemana-mana, Tante." katanya.
Tapi dunia ini tipu-tipu, dulu papi Narendra pernah bilang “aku akan slalu di sampingmu Bella” setelah orang tuaku meninggal. Nyatanya dia pergi, seakan kalimat itu hanya menentramkan hati sesaat.
"Selamat malam kak, silahkan dinikmati." Seorang pelayan menaruh dua mangkok ramen ke meja kami.
"Yang ini tanpa seafood kak."
"Oh iya." Aku langsung menggeser mangkok itu ke depan Abimanyu yang tersenyum jelek. Iya jelek karena gak mau bagi-bagi nomernya.
"Selamat makan, Abi."
Abimanyu malah bersedekap, sementara aku mengaduk semua isi ramen dengan tambahan lada bubuk dan saos tomat.
"Kenapa? Mau makan apa mau diam?" seruku.
"Jadi Tante tadi mau tanya apa?" tanyanya.
"Cuma itu tadi." jawabku singkat.
__ADS_1
"Yakin?" tukasnya, Abimanyu masih memasang matanya lekat-lekat.
"Yakin, cuma itu aja."
"Oh, aku kira masih ada yang mau Tante tanyakan. Bilang aja, Tant."
Aku tak menggubris dan tak ada seorang pun yang bicara setelahnya hingga kami tak menyisakan sedikit pun makan malam ini di meja.
Aku dan Abimanyu keluar dari kedai ramen seraya berjalan di bawah langit mendung dengan udara dingin yang lembap menggigit kulitku yang terpapar menuju motornya.
"Tante mau pulang lagi ke klinik atau mau aku anter pulang langsung?" tanya Abimanyu sambil meraih helm dan memakainya.
"Ke klinik, aku harus membawa pulang mobilku. Takut nanti ada yang diam-diam iseng lagi." sindir ku, lalu memiringkan bibir. "Kamu kan tersangkanya?"
"Tante tau?" Abimanyu tergelak dengan renyah, "hari itu kayaknya Tante sedih banget, makanya aku iseng biar pikiran Tante teralihkan. So, sorry. Tapi udah aku beresin."
"Makasih, usahamu berhasil!" Walaupun itu cuma sementara. Aku menepuk pundaknya sambil berusaha naik ke atas motor.
"Ngebut, Abi. Kayaknya ini mau hujan." kataku sambil menengadah ketika ia menghidupkan mesin motornya.
"Terus kalo ngebut Tante jatuh, bakal nyalahin aku karena kulit Tante yang mulus kayak tahu sutra itu lecet? Iya?" omel Abimanyu jengkel. "Mana gak pegangan lagi, mau pindah alam?" serunya khawatir. Abimanyu menarik napas panjang dan menghembuskannya.
"Pegangan! Baru bisa ngebut." katanya, menggeber sedikit motornya dengan sengaja sampai aku hampir terjungkal.
Aku meloloskan tawa dan reflek memukul pundaknya. "Rese!"
"Makanya, jangan bikin aku tanggung jawab kalo sampai jatuh! Mahal tau perawatan kulit Tante!"
Aku kembali tergelak dan melingkarkan tangan dengan ragu ke perutnya. Aku tidak tahu, dia sekedar khawatir atau prihatin. Aku sadar, aku salah. Aku sudah semakin mendekati perjaka ini. Ini salahku dan awan hitam sekelam malam ini mengguyur kami berdua dengan hujan tengah malam sampai basah kuyup seakan menghukum kami atas peristiwa yang terjadi.
Tiba di depan klinik. Aku mengusap wajahku dari tetesan air hujan.
"Makasih ya, kamu jangan lupa langsung pulang terus mandi air hangat biar gak masuk angin." kataku menggebu-gebu, takut Abimanyu tidak mendengar suaraku. Dia mengangguk, membelokkan motornya dan berlalu pergi menyisakan aku sendiri di antara tetesan air hujan dan tetesan air mataku yang tersamarkan.
Kita terhubung, tapi tak tersambung.
__ADS_1