Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Secepatnya


__ADS_3

Abimanyu menurunkan bobot tubuhku ke lantai. Bibirnya yang basah merekah dan pipinya terlihat merah ketika gelora yang kita miliki bertaut tanpa rasa malu. Sekarang aku dikuasai sesuatu yang entah bagaimana harus aku selesaikan. Tubuhku seakan mendamba hadirnya lagi. Aku jadi membayangkan masa depan di mana aku akan slalu menjadi yang tercupu di depan Abimanyu.


‘Ada batasan yang masih harus aku jaga demi kewarasan kami berdua’


Abimanyu berdehem sembari mengusap tengkuknya. "Jadi, Bella." Abimanyu mempertegas panggilannya dengan mengulangi ucapannya sekali lagi.


"Bella." Terdengar rikuh dan takut.


"Ya, itu lebih bagus ketimbang kamu panggil aku Tante seumur hidup!"


"Kalo Mbak Bella?" seloroh Abimanyu. Memilikinya dan melihatnya tersenyum canda, di panggil Mbak pun aku nggak masalah. Cuma..


Lenganku merangkul lengannya. "Nanti orang-orang pikir aku kakak perempuan kamu, Abimanyu. Dan kakak nggak mungkin mencium atau menggoda adiknya. Kamu harus tau itu dan aku gak mau di kira kakak yang jahat!"


Tawa lirih Abimanyu membuatku jatuh lebih dalam kepadanya. Abimanyu


menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Jadi, apa ini namanya kita bertunangan Bella? Aku kira kemarin hanya datang untuk meminta restu bibi Marni." akunya pelan, terdengar tak berdaya. "Sementara cincin ini sebagai hadiah, apa kamu tidak keberatan hanya memakai cincin platinum?"


Aku lalu menaikkan tanganku, cincin hitam ini tampak mencolok di kulitku yang putih. Terlebih berlian mungil berwarna merah muda nampak imut dan lucu. Aku menyukainya, ini lebih berharga dari semua cincin yang aku punya.


"Ini keren, dan apa kamu akan terus memakainya juga?" Abimanyu melepas diri setelah bibi Marni mengusirnya dengan kibasan tangan di ruang keluarga. Ia meringis setelah duduk di sofa.


"Mas Abi udah malam." kata bibi Marni lembut. Sedikit peringatan itu membuatnya meringis lebih lebar.


Abimanyu menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. "Sebentar bibi."


"Apa mas Abi masih lapar?" tanya bibi Marni setelah duduk, aku melihat keduanya makin akrab ketika sama-sama meringis dengan sorot mata yang mengisyaratkan banyak sesuatu.

__ADS_1


"Kalian kenapa kayak gitu?" tanyaku heran. Intuisiku mengatakan bibi Marni dan Abimanyu sedang membicarakan aku lewat telepati.


Bibi Marni menatapku. "Nyonya cantik." Ia tersenyum, "Mas Abi dulu sering bilang itu waktu lihat foto nyonya."


Aku tergelak. "Aku emang cantik dari lahir, tapi itu papa yang bilang. Jadi terima kasih pujiannya Abi. Kamu punya calon istri cantik. Kamu suka?"


Abimanyu meraih tanganku, ia mengamati wajahku. Matanya yang kadang berkilauan seperti permata di tengah rumput laut dan senyum yang menawan mengajariku tentang tak selamanya yang lebih tua sanggup mengendalikan diri. Kegugupan ini slalu hadir saat perwujudan Abimanyu yang aku anggap fantasi menjadi kenyataan.


"Tante tau jawabannya."


"Tante lagi." protesku, "masa udah romantis-romantis gini manggilnya Tante lagi." Aku melepas tangannya. Cemberut. "Sayang gitu apa babe, atau Bella kayak tadi. Ini Tante lagi."


Ruang keluarga langsung di penuhi suara tawa bibi Marni. "Mas Abi, mas Abi. Jam menunjukkan pukul sembilan malam, itu artinya tamu harus pulang. Udah mas Abi besok lagi ketemu nyonyah, nanti khilaf dekat-dekatan terus. Mas Abi juga harus istirahat."


"Tapi aku masih kangen, bi." rengek Abimanyu, terdengar serius, begitu juga dengan gesture tubuhnya.


Aku menyukai saat-saat ia manja seperti ini. Tapi yakinlah jantungku yang tidak tenang. Aku dan Abimanyu sedang menikmati fase baru, entah ini benar-benar tunangan, atau sekedar memperdalam status kami berdua ke jenjang yang mempermudah kita untuk bersama. Dalam hidupku yang sesungguhnya masih terhitung janda muda, menunggu Abimanyu benar-benar siap menjalin hubungan layaknya sesama orang dewasa dan calon suami istri adalah kewajiban.


Memesan dua minuman yang sama dan satu dessert. Cappucino cake.


Aku meringis, berada di luar rumah dan kapasitas ruang yang terkikis, privasi harus kami jaga. Kami duduk berhadapan layaknya teman biasa.


Abimanyu menjilati buih kopi dari bibir atasnya.


"Your first kiss?" tanyaku.


Abimanyu menotong cappucino cake dengan garpu dan melahapnya. Dia mengunyah sembari menatapku dengan tatapan berpikir.


"Aku suka kejujuran untuk semuanya!"

__ADS_1


"Bukan yang pertama tapi yang terdalam." katanya.


"Oh.... Pantes, pintar balasnya." seruku. Mengingat bagaimana kami tadi berciuman, Abimanyu cukup luar biasa menghanyutkan. Membuat sekujur tubuhku mengharap lebih dari sekedar mencium.


Abimanyu menyuapkan sisa cappucino cake dari piring kecil ke mulutku dengan garpu. Dengan benda itu pula dia menggetok keningku pelan.


Pipiku mengembung, mataku melotot. Abimanyu memutar matanya dan menyingkirkan kakiku yang menggelitik betisnya.


"Hanya kamu dan aku sekarang, Bella." Abimanyu menghela napas.


Aku mengenali nada suaranya, dia tidak mau ada pembahasan masa lalu.


"Iya, maaf. Terus setelah cincin ini tersemat di jari kita. Kapan kamu mau mengajakku ke rumah orang tuamu?"


Seluruh permukaan wajah Abimanyu menegang. Dia menyandarkan tubuh di sandaran kursi. Sejenak ia memutar cincin di jari jarinya. Orang awam mungkin mengira itu hanya aksesoris, tapi bagi aku atau Abimanyu itu adalah pengikat.


"Aku takut mereka tidak merestuiku nikah muda."


"Aku mengerti." Bibirku terangkat, "Kita bisa ulur lagi rencana kita? Maybe dua tahun lagi sebelum aku berusia tiga lima?"


Abimanyu menyentuh pipiku, lalu mencubitnya. Parasnya yang serius kembali semringah ketika aku menendang tulang keringnya.


"Kita belum coba tanya sama papa dan mama, Ellis."


"Terus kamu mau minta aku nemenin kamu gitu?" Aku mengira.


"Siapa tau kalo ditemenin kamu aku jadi lebih berani, Eli!" Abimanyu membuang napas. "Papa dan mama masih belum tau aku melunasi hutang mereka."


Aku melipat kedua tangan, mata Abimanyu sekarang terlihat seperti anak muda lainnya yang harus berurusan dengan orang tua untuk sesuatu yang serius. Ada rasa takut dan cemas.

__ADS_1


"Mau kapan?"


"Secepatnya!"


__ADS_2