
Bab 3 - Tidak Melepasmu.
.
.
.
Kami terdiam cukup lama setelah mengarungi lautan hasrat yang membara di tempat tidur. Keringat yang membasahi tubuh kami membuat selimut cukup berguna untuk mengeringkannya tanpa perlu aku bersusah-susah mengambil tisu di dekat televisi. Lututku lemas.
Bella memiringkan tubuhnya, membelakangiku. Punggungnya yang mengkilap lembab dan kuat tersaji di depan mataku. Aku menyusuri tulang belakangnya dengan jari telunjuk. Ini adalah tulang punggung bagi keluarga atau perorangan yang bernaung di bawah perusahaan dan bisnis yang ia miliki. Tetapi punggungnya adalah tempat bersandar yang nyaman bagiku dan anak-anak.
Tanganku berhenti di pinggulnya, mengusapnya dengan lembut. Bella terkekeh geli, suaranya berganti dengan suara derit pintu nakas yang ia tutup.
"Panas ya?" Bella berbalik lalu menatapku. Tangannya mengambil buku tipis yang berisi informasi talent management. Ia mengipasi tubuhnya yang masih terbuka dengan sempurna.
Aku meringis, kejujurannya sering di luar akal pikiranku. Lagipula memangnya kami sedang di kutub Utara? Sayangnya, sebelum aku memprotes pernyataannya yang konyol. Ponselnya berbunyi.
Bella mendengus. Ia meletakkan kipas dadakannya di belakang punggungku.
"Sebentar ya, Abi. Nanti kita terusin." Bulu matanya yang lentik mengedip-ngedip sebelum mencondongkan badannya. Seluruh wajahnya yang jelita menaungi wajahku. Aku tersenyum, bibirnya mencium bibirku sampai hidung kami saling bersentuhan.
Aku tersenyum lega setelah ia melepasku. Sejenak rasanya aku kehilangan napas.
"Bentar." Bella tersenyum seraya merangkak mundur. Bukan menyahuti ucapannya. Mataku dengan patuh melihat sesuatu yang indah tergantung di dadanya. Bella beranjak, tanpa sedikitpun busana yang melekat di tubuhnya. Ia berjalan tanpa beban ke meja rias mengambil ponselnya lalu berbalik, dia menjatuhkan diri di tepi tempat tidur.
Aku tersenyum lebar. Dulu waktu pertama kali aku melihatnya, aku terkagum-kagum. Bentuknya indah dan kencang. Sumpah, mantan suaminya sangat merugi melepaskannya. Tapi aku juga berterima kasih dia telah melepas Bella Eliss.
Tubuhku bereaksi di bawah selimut. Aku menuntut satu lagi permainan yang menghibur. Memperpanjang musim panas di kamar kami.
Aku menendang selimut dan beranjak. Bella menoleh ketika tempat tidur bergelombang. Ia tersenyum dengan tangan kanan menempelkan teleponnya di telinga.
"Sebentar ya..." pintanya dengan lembut. "Penting." urainya singkat.
"Louds speaker!" desakku sambil memposisikan diri di belakangnya. Kakiku mengapit kakinya. Menempelkan diriku di pinggulnya sambil meletakkan kepalaku di punggungnya. Bella tertawa. Tangan kirinya yang bebas mencubit lembut punggung tanganku yang melingkar di perutnya.
“Lama banget elo! Gue udah ada di kantor!” sentak seseorang yang aku kenali dari lubang suara hp. Tante Sisca.
__ADS_1
Bella menahan desahhan hingga menjadi geraman di mulutnya saat tanganku menyentuh dadanya.
"Kau pasti menyukainya!" bisikku sangat lirih sambil membaui rambutnya. Bella, tentu saja dia memilihku karena sejak pertama kali dia melihatku, aku bisa melihat sedikit banyak sesuatu yang dia pikirkan tentang bagaimana sesuatu yang berdenyut-denyut di benaknya bisa terwujud, tapi sungguh dia betul-betul tepat sasaran, dia tahu aku seseorang yang mencintainya apa adanya.
Bella membuang napas cepat, bahunya yang menegang ia sadarkan di tubuhku.
"A-ku masih dirumah, masih—masih tanggung sama urusan dapur!" jawabnya dengan intonasi goyah.
“Ya ampun, Bell. Gue udah jadi manusia tepat waktu elo kayak siput. Buruan lah, banyak kerjaan gue!" desak Tante Sisca dengan kesal.
Aku mengigit bahunya dengan sengaja supaya dia tidak pergi.
Bella menjerit sambil menoleh padaku. Marahnya dia membuat Tante Sisca ikut menjerit kaget.
“Anjir, elo kenapa Bell? Elo kenapa?” tanya Tante Sisca panik.
"Kakiku kena duri, awwww... sshhh..."
Aku menahan tawa ketika berhasil mengangkat pinggulnya dan kembali kami merasakan sensasi hangat berada di dalam tubuh kami.
Pipiku semakin kaku dengan ucapan Tante Sisca, mereka benar-benar tidak tambah tua melainkan tambah gaul, ada-ada saja tingkah polah yang ibu-ibu itu yang lucu dan apa adanya.
Aku menggerakkan pinggulnya sampai Bella melempar pandangan penuh peringatan padaku. Aku membungkuk untuk mengecup dadanya namun ia malah mundur dan nyaris terjungkal dan kembali menjerit.
“Bell, anjir, elo mau bikin gue jantungan? Gue udah lima puluh tahun ++ gila! Parah banget suara lo.”
Bella menggeleng. "Sorry-sorry!" Ia memasang wajah tidak nyaman meski dia merasa ada sesuatu yang terus membuatnya bergerak.
"Aku lagi di kebon, cari kupu-kupu!" ucap Bella dengan suara parau sedetik kemudian.
“Hah, mana ada anjirrr kebon di perumahan elo... Bokis bener, ngapain sih elo sebenarnya?”
"Gue lagi lari ngejar kupu-kupunya di taman perumahan, Sis... Udah ah, berat ini kerjaan gue. Ntar Ollie ngambek kupu-kupunya keburu bertelur, repot urusannya kalo udah bertelur. Ulernya kemana-mana!"
Aku tertawa tanpa suara sebelum Bella berhenti bergerak di atasku. Aku mendekapnya, dia menginginkan aku memenuhi dirinya dalam diam dan merasakan aku lebih dalam.
"Capek." Bella ngos-ngosan, "Haus banget aku."
__ADS_1
"Mau minum?" tanyaku.
Mataku mengedip-ngedip setelah layar ponselnya memberikan cahaya yang terang benderang di depan wajahku.
"Hai, Tante..." sapa ku. Tante Sisca yang masih terhubung dengan istriku mendesis kesal. Ditempatnya sekarang pasti dia ingin sekali melempar sandal kepadaku dan Bella.
"Elo berdua emang sialan, gue udah nunggu Bella dengan tidak sabar. Kalian berdua malah ngasih gue pameran!"
Mendadak suaranya yang nyaring menghilang, Bella menaruh ponselnya dengan kesal lalu berdiri. Dia mendorong bahu dengan kesal sampai aku terlentang dengan mulut meringis.
"Kamu benar-benar mau lagi ya? Mau punya anak lagi, hmm?" Bella menurunkan pinggulnya, dengan lihai ia membuat perutku tersentak ketika tubuhnya memasuki tubuhku lagi.
Aku tersenyum ketika ia merebahkan tubuhnya di tubuhku dengan kaki yang terjulur ke belakang. Kepalanya merebah di samping leherku.
"Aku merasakanmu jauh lebih baik dan masih sama, Abi." katanya penuh cinta dan gairah.
"Aku tidak meragukan sedetik pun!" Aku tersenyum. "Tapi ngomong-ngomong aku bener-bener merindukanmu dan susah bernapas!"
Bella tertawa dan semakin sulit aku bergerak. Aku menggulingkan tubuhnya tanpa melakukan pelepasan sebelum mendesaknya lebih baik.
Bella tersenyum, beberapa detik ia memperhatikan tubuh kami sebelum kembali hanyut dalam adegan-adegan yang masih terasa sama namun belum terasa membosankan.
Bella melingkaran pinggulku ketika aku hendak mencapai puncak kenikmatan.
"Give me baby, again." ucapnya dengan mata sayu.
Aku menggeleng samar dan melepas tubuhku darinya dengan sedikit paksaan.
"Nggak sekarang sayang, Neo dan Ollie masih kecil-kecil." Aku mengecup keningnya sambil menghujani perutnya dengan calon-calon adik Neo dan Ollie.
Dan Bella cemberut, alih-alih merasa puas sudah tiga kali kami melakukannya. Ia membereskan pakaian kami di tempat tidur dan lantai sambil bermuram durja.
"Besok ya kalo Ollie udah TK!" seruku sebelum ia masuk ke kamar mandi.
Bella menoleh di ambang pintu. "Kelamaan tau keburu tua!"
......................
__ADS_1