
Hari-hari berikutnya. Aku mulai berdamai dengan geng kemayu dengan segala kelebihannya menanggapi masalahku dan Abimanyu. Walaupun ini menyebalkan sekaligus rusuh sekali, sangat-sangat rusuh sekali, sisi terbaiknya itu mempermudah hubungan kami.
Aku bisa mengetahui apa saja yang di rencanakan managementnya mengenai tipu-tipu warta demi mendongkrak penjualan sebuah karya seni. Dengan demikian rasa cemburuku bisa aku minimalisir.
Selain itu, aku dan Abimanyu sepakat untuk pacaran diam-diam, itu jauh lebih baik untuk karirnya dan aku sendiri. Sementara itu, jadwal senam aerobik dan gym tetap berjalan sekaligus menjadi tempat pertemuan kita.
Gym and dating.
Tidak terbayangkan aku bisa mengalami momen ini dimana dulu ketika aku bersama Narendra hal sepele yang justru melekatkan perasaan tidak pernah terjadi.
Waktu adalah uang dan Narendra adalah orang penting. Menikahi orang penting artinya membuang waktu dengan perasaan yang sangat rumit. Meski begitu, aku tetap harus mempunyai orang penting untuk aku banggakan. Abimanyu orang penting juga, tapi tidak sepenting Narendra.
Dia masih bisa aku miliki dengan baik seperti sekarang. Keringat dan senyumnya yang menawan masih sanggup membuat ku lemah di atas matras.
"Kenapa lihat-lihat?" tanyaku.
"Udah turun berapa kilo satu bulan ini?" Abimanyu bersiap menghindar ketika tanganku nyaris menjangkau kaosnya.
"Tanya yang lain aja kali, udah tau aku sensi sama timbangan setiap bulan masih tanya itu terus, yang lain gih." omelku sembari menghirup aroma tubuhnya. Kangen mendadak mengaliri denyut nadiku.
Abimanyu menguap rambutku yang kini sudah lurus dan sebahu.
"Gimana aku bisa tanya kapan kita nikah kalo berat badan Tante yang sangat-sangat ideal dan seksi sekali ini masih belum sempurna."
__ADS_1
Aku memiringkan tubuhku seraya melingkarkan tangan di pinggangnya setelah mengikuti senam aerobik secara pribadi. Instruktur seorang wanita di bawah pengelolaan Abimanyu, gym and dating adalah kombinasi sempurna untuk kami berdua setelah nonton film tentunya.
"Kamu yakin mau nikahi aku? Kamu masih ingat kan kenapa aku cerai." tanyaku, lalu tubuhku seakan diselimuti ketakutan yang lagi-lagi muncul oleh sebab yang sangat jelas.
"Ingat dan slalu ingat." Abimanyu mengusap pipiku. "Aku hanya punya aku, keluarga papa di Jerman juga tidak akan pernah memaksa aku dan pasanganku memiliki keturunan. Itu urusan pribadi. Simpelnya kalo Tante mau punya anak, kita bisa usahakan seperti yang pernah Tante lakukan dulu. Bedanya itu dariku, perjaka kamu."
Aku mencubit punggungnya sembari mengigit bibir. "Godain janda?"
"Perawan bau kencur yang hobinya jual mahal!" sahut Abimanyu, ia meringis sembari menatapku kemudian.
"Kita usahakan itu, dan apa Tante gak tau kalo anak Tante Debora bukan anak om Rendra?"
Aku langsung menegakkan tubuh. "Gosip itu serius?" Ekspresiku yang tadinya sudah berada di atas awan dan melayang-layang dengan situasi masa depan yang cerah, kebenaran tentang itu membuatku nyungsep ke tanah.
"Oke, aku harus ketemu mereka."
"Kenapa?"
Abimanyu menahan pergelangan tanganku. "Jangan pernah menemuinya!" Ia mengingatkan dengan serius.
"Gak akan, Abi." Aku menggeleng kuat-kuat. "Cuma masalahnya orang-orangnya Narendra masih cari aku. Lima bulan ini aku slalu berhasil kabur, itu alasan kenapa Joe slalu ada di dekat ku dan aku slalu pindah apartemen atau hotel. Maaf Abi kalo kamu gak nyaman dengan keberadaan Joe di antara kita."
Abimanyu menatapku tak percaya. "Om Joe bukan masalah besar, tapi om Rendra nyari Tante buat balikan. Om Rendra pasti menyesal setelah tau Tante Debora bukan istri baik-baik." simpulnya dengan wajah khawatir.
__ADS_1
"Jangan berpikir terlalu jauh, Abi." kataku menenangkan, tapi aku sendiri tidak tenang mengingat rumitnya kisah cinta mereka baik dengan aku yang masih menerima uang bulanan darinya. Sesuatu yang buruk sedang mengintai hubungan aku dan Abimanyu.
"We have so many dreams, you and me baby. So don't be afraid." Aku mengusap pipinya dengan ibu jari, "Don't be afraid, Abi. Everything gonna be ok, i promise."
"Marry me." Abimanyu menahan tanganku di pipinya. "Jawab aku sekarang Tante sebelum om itu ganggu hidup Tante lagi."
Selama sesaat, kami hanya berdiri, memperhatikan mata, menyelami satu sama lain situasi tanpa perlu kami jelaskan maksud dari ketakutan kami berdua. Mau tak mau, Abimanyu menungguku mengatakan sesuatu membuatku bicara.
"Aku akan menyelesaikan masalahku dengan Narendra dulu, setelah itu mintalah restu bibi Marni. Dia mungkin sedikit akan memeras mu sebagai calon ibu mertua."
Abimanyu tersenyum, tapi tidak begitu lega seolah ia bisa mendeteksi kegugupan yang aku ucapkan.
"Setelah cerai aku masih menerima uang bulanan dari Narendra, aku pikir Debora bakal membatasinya ternyata aku harus menemuinya untuk mengembalikan semua uangnya sekarang. Jadi, baby... Em, boleh?"
"Hmmm, oke." Abimanyu menghela napas, "tapi aku cemburu!"
Perutku langsung mulas. Berkomitmen dengan Abimanyu cukup membuatku berdesir-desir dan sekaligus bahagia.
"Terus kalo cemburu kamu mau apa?" tanyaku sembari membelai garis rahangnya dengan jemari.
"Ngambek." Abimanyu berbalik, mendahuluiku keluar dari ruang senam. Dia menyambar tas ransel di gantungan alat gym yang berisi baju ganti seraya masuk ke ruang ganti.
...*****...
__ADS_1