Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Dokter Billy


__ADS_3

"Kamu beneran main hujan-hujanan seperti yang bibi Marni bilang, Bella?" tanya Billy. Dokter keluarga yang datang saat keadaan darurat seperti sekarang. Aku masuk angin dan gawatnya bibi Marni sudah membuat laporan terkait penyebab sakitnya aku sekarang. Aku mengangguk lalu tersenyum susah.


"Masa kecil kurang bahagia aku, Billy. Papa dan mama gak pernah ngasih izin aku buat main hujan-hujanan." jawabku sambil tersenyum malu, namun detik itu aku jadi ingat Abimanyu. Apa dia sehat?


"Kamu daripada hujan-hujanan mending datang ke rumah sakit jiwa, Bell. Banyak yang mau nolongin elo daripada jadi sakit gini."


"Enak aja, kamu tuh yang gila!" protesku sambil mengerucutkan bibir.


Billy terkekeh sambil melepas alat tensimeter dari lenganku. Lalu memeriksa dadaku dengan stetoskop. Dia tersenyum pengertian saat menatapku dengan intens. Aku balas tersenyum. Parasnya memang mantap untuk di lihat karena dia cowok metroseksual yang setiap bulannya melakukan perawatan wajah dan kulit demi menunjang penampilannya sebagai dokter umum.


"Berhubung ini hari Minggu aku gak ada praktek, aku temenin kamu Bella." ucapnya sambil menarik napas, ia merapikan peralatan kedokterannya ke dalam tas kerja. Billy menunduk seraya menulis sesuatu di selembar kertas.


"Bi, beli obat ini di apotik."


"Siap mas, siap." Bibi Marni meraih kertas yang diulurkan Billy, "Nyah, bibi tinggal dulu sebentar. Jangan nangis."


Apa sih. Desisku dalam hati, kok bahasnya nangis terus mentang-mentang tadi kita nangis bersama sampai mata bengkak. Dan sekarang mataku sudah tidak bisa di tolong dengan masker mata. Bengkak.


"Elo pasti kepikiran pernikahan mantan suami kamu ya, Bell?" Billy bersedekap, ekspresinya terlihat prihatin sementara aku merapikan selimut untuk membungkus tubuhku yang panas dingin.


Aku mengangguk lemah. Tidak munafik jika aku sangat kepikiran, apalagi berita itu sudah menyebar kemana-mana. Rasanya sekarang orang-orang jadi pada iba kepadaku. Kasian banget gitu kelihatannya kalau lihat aku.


"Gimana enggak kepikiran, Billy. Belum satu bulan kami cerai mereka akan mengadakan pernikahan di hotel mewah. Aku kecewa, karena mungkin kemarin-kemarin aku tidak peka terhadap apa yang Tuhan perlihatkan dan menganggap semua baik-baik saja. Tapi sekarang aku jadi tambah curiga apa mereka kerja bareng ada affair yang terjadi. Kalo iya, sedih banget hidupku, Bill. Gak berharga banget aku rasanya."


Billy mengendikkan bahu, lalu mengusap kepalaku sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Gak usah terlalu di besar-besar kan, Bella. Gak ngefek juga sekarang kalo kamu pengen tau, untuk apa, untuk sakit hati lagi? Sia-sia, hidupmu terlalu berharga kalo cuma nangis terus. Apalagi nangis karena papihh, gak terima gue dokter kecantikan kesayangan gue menua karena galau." Billy terkekeh-kekeh, suaranya terdengar merdu ketimbang suaraku.


"Move on ya, papihh bukan orang baik jadi kamu harus bersyukur putus sama dia." Billy menasihat, mana ekspresinya mirip bapak-bapak yang lagi punya anak galau. Begitu pengertian sampai-sampai kadang beberapa orang salah mengartikan perhatiannya ini.


"Iya bawel, aku juga lagi usaha move on ini. Cuma kan gak mudah, ibaratnya ngilangin bekas jerawat batu. Butuh kesabaran, Billy." ceplos ku seraya menguap. "Bill, kalo aku tidur kamu pulang aja, udah ada bibi Marni disini."


Billy menggeleng, senang, aku benar-benar bersyukur kebaikan papa dan mama masih berlanjut hingga sekarang meski mereka sudah tiada.


"Aku harus pastikan kamu makan dulu, minum obat. Baru setelah itu aku pergi, Bella." kata Billy.


"Terima kasih." Aku tersenyum pilu, menyesal karena harus melibatkan orang lain karena kegoblokanku semalam. Tapi aku benar-benar tidak pernah main hujan-hujanan. Baru semalam aku merasakan tetasan air hujan dari kelamnya awan hitam mengalir ke seluruh kulitku. Dingin, dan aku tidak akan mengulangi lagi.


Billy mengangguk, mengelus kepalaku lagi dengan sorot mata yang sulit aku pahami, lalu tatapan kami bersamaan pindah ke ambang pintu.


Bibi Marni nyengir, dia tampak salah tingkah melihat kejadian barusan saat masuk kamarku dengan postur tubuh yang sedikit membungkuk.


"Iya nanti aku ganti, takut amat." Aku tersenyum lebar. "Sekalian ambilin makan siangnya, Bi." pintaku sambil berusaha bangkit dan menyandarkan tubuhku pada kepala ranjang. Aku mengusap wajahku yang pucat, polos tanpa make up.


"Banyak-banyak minum air putih, Bella. Biar tidak dehidrasi." Billy mengulurkan gelasku, aku meneguknya beberapa kali lalu menaruhnya kembali ke meja.


"Kamu sendiri gak minum, nanti kalo dehidrasi gimana?" godaku, minumnya masih utuh karena sepertinya dia terlalu sibuk memperhatikan aku.


Billy langsung tertawa, sekejap kemudian dia menghabiskan setengah air putihnya lalu mengambil mangkok di nampan merah jambu yang bibi bawa dari dapur.


"Aku suapi!" kata Billy. Bibi Marni langsung melotot, untungnya dia berdiri di belakang Billy jadi tak terlihat gimana ekspresi wajahnya sekarang.

__ADS_1


Aku tersenyum canggung, aku ingin sekali menolak perhatiannya karena sumpah, aku tidak sekarat, aku cuma masuk angin dan tanganku masih bisa bergerak.


"Jangan nolak Bella, elo udah kayak adik gue tau walaupun elo duluan yang nikah dan cerai. Tapi tetap gue yang senior, pengalaman gue lebih banyak!" tandas laki-laki itu lalu mulai menyuapiku dengan telaten.


Aku menarik napas ketika Billy memandangiku cukup lama. Tatapannya yang seperti itu membuatku takut sendiri. Takut menimbulkan getaran-getaran lain di dasar hati karena aku tidak ingin memulai sebuah hubungan sekarang apalagi sama Billy. Pria setengah tulen yang kini hendak menyuapiku lagi tapi aku mengangkat tangan.


"Aku udah kenyang, Billy." kataku jujur sambil mengeluarkan tanganku dari balik selimut. Aku mengelus lengannya.


"Makasih udah datang. Kamu juga makan gih, bibi masak banyak tadi."


"Aku gampang yang penting kamu dulu."


Billy mengganti mangkok di tangannya dengan obat-obatan. Dia membuka pembungkusnya lalu tersenyum lebar, seakan-akan tiga butir obat itu menggelikan baginya.


"Kau harus menelannya bulat-bulat, Bella. Jangan kamu muntah kan!" katanya sambil mengulurkan tangannya.


"Aku sudah biasa menelan apapun dengan mudah, Billy. Jangan meragukanku!" kataku, sontak tawa terdengar meriah di kamarku yang bercat krem dan memiliki dua jendela besar. AC sengaja dimatikan biar aku tak semakin panas dingin.


Tiga obat langsung aku telan dengan bantuan air putih. Billy langsung mengelus kepalaku seolah aku habis melakukan semua perintahnya dengan baik.


Aku menyembunyikan senyumku saat melihat wajahnya yang tulus. Lima belas menit kami membahas jadwal kunjungannya ke klinik sebelum kantuk terasa memberatkan pelupuk mataku.


Aku menguap, ku tarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku begitu juga kepalaku setelah aku berbaring, kini yang terlihat hanya wajahku.


"Mau tidur aku, Billy. Thank you so much untuk hari ini, ongkosnya aku transfer nanti."

__ADS_1


"Sudah tugasku, Bella." Billy mencondongkan tubuhnya lalu tanpa bisa aku cegah dia mencium kepalaku. "Met istirahat, angel. Aku tunggu kamu sampai tidur!"


Aku menghirup napas dalam-dalam, merasa aneh dengan perlakuan Billy kepadaku barusan. Tapi semoga dia hanya benar-benar menganggapku adik. Tidak lebih, karena ada seseorang yang jauh lebih aku pikirkan sekarang. Abimanyu.


__ADS_2