Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Permainan Abimanyu


__ADS_3

Esok paginya saat cahaya matahari telah berpendar di bumi khatulistiwa dan irama burung-burung gereja asyik bersenandung riang di atas pohon. Langkahku terhenti di sebuah pemakaman. Sunyinya rumah akhir dan semilir angin membelai dedaunan membuatku tersenyum getir.


Aku berlutut dan membelai nisan mama dan papa. "Pagi, ma, pa. Bella habis meriang, kalo papa tau kenapa. Bella kemarin hujan-hujanan malam-malam. Papa pasti udah siap ngomel-ngomel sekarang."


Satu keranjang berisi mawar putih dan dua buket bunga krisan putih yang ku beli dari pedagang sekitar pemakaman kutaburkan di atas rumah terakhir mama dan papa kala batin ini membawa sebongkah rindu dan setumpuk masalah. Meski tak adalagi ratapan atas kehilangan mereka dan air mata. Aku hanya diam membisu.


Masih teringat jelas bagaimana kedua orang tuaku perlahan-lahan tertutup di dalam liang lahat. Bagaimana Narendra menemaniku untuk siang malam mengurus keperluan pemakaman mereka bersama-sama. Dan satu-satunya hal yang aku ingat sekarang adalah ketika aku mogok makan dan terus meratapi kepergian orang tuaku, Narendra dengan sabar membujukku sampai aku bener-bener sanggup menerima kepergian mereka.


Aku menghela napas sambil meremas gundukan rumput di atas makan papa.


"Sekarang harus kemana lagi aku mencari sandaran hidupku, pa. Satu-satunya laki-laki yang begitu memuja Bella dan Bella cintai untuk menjadi bagian akhir dari segala masa depan yang Bella ingin sudah pergi dan ketika semua orang mengatakan aku untuk lebih sabar. Apa iya sabar akan menjadi jawaban dari semua lukaku?"


Aku memukul dadaku setelah kepalaku terkulai di atas nisan papa. "Satu-satunya tempat ku bergantung hanyalah bibi Marni sekarang, pa. Sama Alexa dan orang tuanya. Atau papa yakin Billy adalah jodohku, ah papa janganlah. Aku ragu dia bisa tegang."


"Dimana-mana kalo ke makam itu berdoa, bukan curhat yang aneh-aneh Tante."


Aku menoleh, sebuah payung hitam menanungi seorang remaja yang memakai kacamata hitam dan kemeja putih. Sekuntum mawar merah dia selipkan di celana panjangnya yang berwarna hitam.


Abimanyu tersenyum simpul sambil mengulurkan payungnya.


"Patah semangat bikin Tante lupa pakai sun screen apalagi bedak sepertinya. Awas nanti kebakar kulitnya!"


Aku meraba-raba wajahku sebelum menerima payungnya. "Makasih."


Abimanyu tak menjawab, dia menarik sekuntum mawar merah lalu menghirupnya.


"Aku tinggal, Tant."


Aku menegakkan tubuhku sambil memayungi diriku dan menatap langkah Abimanyu. Dia berhenti tak kurang dua ratus meter dari tempatku bersimpuh di tanah.


Abimanyu berjongkok, dia tersenyum lalu menaruh sekuntum mawar merah di gundukan tanah yang sama seperti gundukan tanah di depanku. Seluruh permukaan makam di tumbuhi rumput manila.


"Apa ini kebetulan? Atau memang ada rahasia dibalik pertemuan ini?"


Aku mengendikkan bahu, cukup sudah aku membuat diriku terlihat gila di mata Abimanyu. Aku berdiri, menepis tanah yang menempel di celana ku. Ku hampiri Abimanyu yang nampak khidmat membaca doa untuk ibunya.


Aku menaunginya dengan payung miliknya. Ini masih pagi, kenapa dia membawa payung segala? Aku menggelengkan kepala, ingin aku memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan kekonyolan seorang Abimanyu tapi untuk apa, mungkin itulah cara ternyaman Abimanyu untuk mengunjungi ibunya disini.


Aku menaruh payung Abimanyu di atas tanah. Aku tersenyum sewaktu ia menelengkan kepala untuk melihatku.


"Aku balik duluan, Abi. Semoga hari ini lebih cerah dari hari kemarin dan kegilaan ku berakhir." Aku mengamini doaku sambil berjongkok dan mengelus nisan ibunya.

__ADS_1


"Tante harus bangga punya anak sebaik Abimanyu." Aku tersenyum seraya menepuk bahu Abimanyu. Sebelum pergi, aku melihat Abimanyu mengangguk dan membungkuk untuk mencium nisan ibunya.


Aku masuk ke dalam mobil sembari menatap Abimanyu yang menyudahi kunjungannya di pemakaman ini. Ia melipat payungnya sebelum mencuci tangannya di tempat yang sama dengan ku tadi.


Aku menghidupkan mesin sebelum Abimanyu tiba di parkiran. Bahagiaku bukan bersamanya. Bahkan saat ia memilih untuk menolakku atas kegilaan itu. Dia sudah beranjak dewasa. Jelas aku kalah bertaruh dan semua hal-hal yang aku kehendaki lenyap sudah.


Aku harus memulai semuanya tanpa mengambil sedikit kesempatan atau peluang untuk memiliki Abimanyu.


•••


Kembali ke klinik. Aku memutuskan untuk kembali melakukan aktivitas ku seperti biasa sebagai dokter kecantikan.


Aku akan memulai hari-hari ku seperti biasa. Tanpa lesu, tanpa pasrah dan tetap semangat tanpa Abimanyu atau papi Narendra. Aku akan mencoba berdamai dengan diriku sendiri.


"Ngelamun aja, Bella. Abimanyu gak main ke rumahmu?"


Aku memalingkan tatapanku dengan jengah saat Alexa Liu mengamatiku begitu lama. Aku bergerak menuju jendela dan mengembuskan napas panjang.


"Main kok, tadi pagi juga ketemu di pemakaman." jawabku, "cuma semua ide gila yang pernah aku omongin ke kamu gagal, Alex. Dia bener-bener anak baik-baik." pujiku dengan bangga.


Selain perjaka itu mempunyai kulit yang putih. Senyum lebar yang enak dipandang, ditambah dengan mata yang begitu bening dan alis yang runcing dan hitam. Dia juga mempunyai hati yang terang. Jenis ketampanan yang sederhana namun siapapun bisa berdesir jika mengenalkan dengan baik. Suaranya kadang semanis permen kapas, ringan sekaligus meminta perhatian. Kadang pula setajam bambu runcing. Tapi segala perwujudan Abimanyu bisa membuatku hilang akal.


Alexa Liu tertawa sejenak lalu memelukku sama sejenaknya dengan tawa itu.


"Ralat Alexa. Bukan cuma di tolak, tapi Abi juga bilang aku jahat dan egois. Sempurna bukan." ucapku kemudian menoleh. Spontan Alexa Liu langsung tertawa sampai mata sipitnya menghilang.


"Huh! Aku senang sekali mendengarnya Bella. Abimanyu adalah laki-laki pemberani! Aku harus membelikannya hadiah." katanya lugas.


"Terserah." Aku membalikkan badan dengan harga diri yang tercabik-cabik.


Waktu istirahat sudah berakhir, kembali aku memakai jas putih dan sarung tangan medis seraya keluar dari kantorku menuju ruang praktek kerja.


Alexa Liu mengikutiku dan memeriksa daftar pasien klinik yang datang hari ini melalui komputer. Aku meminta sebagian untuk aku tangani sendiri.


Alexa Liu mengangguk. "Baik, Bella. Ada lagi?" tanyanya sambil memfokuskan matanya pada layar komputer.


"Tim marketing plan udah bikin promosi untuk launching produk baru belum?" tanyaku seraya meneguk air putih.


"Sudah, Bella. Promosi di media sosial dan cetak sudah tersebar. Hanya tinggal menjalani hari H. Kamu udah siap?"


Aku mengangguk. Bersyukur atas kontribusi semua pihak yang terlibat dalam produksi skin care terbaru Ellisa Skin And Aesthetic Clinic yang akan melengkapi series terdahulu.

__ADS_1


"Aku sudah tidak sabar untuk hari itu, Alexa. Pastikan semua karyawan datang dan harus menjamu tamu undangan dengan baik!" kataku dengan nada serius.


Alexa Liu mengiyakan dan mengatakan kepadaku tak ada yang perlu dicemaskan sebelum keluar dari ruangan bercat putih ini.


Satu persatu pengunjung klinik kemudian silih berganti masuk ke sini, memberiku kesibukan yang berarti dan membuatku benar-benar hanya fokus memberi layanan terbaik.


"Bell, Bella. Mau kemana? Masih ada satu pelanggan lagi buat kamu!" sahut Alexa Liu saat aku melepas sarung tangan medis dan jas putihku.


Aku menyampirkan jas ku di gantungan bambu yang terletak di belakang meja kerja.


"Kebelet, suruh nunggu bentar kalo mau. Kalo enggak lempar ke dokter Anin!"


"Gak mau Bella, dia udah expect dapat treatment dari kamu!"


"Masalah kulit apa emangnya?" tanyaku sebelum masuk ke kamar mandi.


"Jerawat." Alexa Liu tersenyum lebar, aku mengangguk. Selama nyaris lima belas menit di kamar mandi, aku tidak menyangka jika yang duduk manis di kursi tunggu itu Abimanyu dengan segala perwujudannya yang ingin aku lupakan.


"Ngapain kamu kesini?" tanyaku sambil duduk di seberangnya. Pakaiannya tidak berubah hanya saja dia menambahkan kemeja flannel untuk fashion pergi ke kampus.


Abimanyu menyunggingkan senyum sambil menarik resleting tas ranselnya.


Cokelat, dia mengulurkannya padaku.


"Tante kemarin nawarin aku treatment jerawat. Sekarang masih berlaku?" tanya Abimanyu dengan sungkan.


Alexa Liu mengulum senyum dengan kentara di belakang Abimanyu. Aku pun ikut tersenyum lebar, cenderung usil malah karena hadiah untuk Abimanyu bisa aku tagih sekarang di depan Abimanyu dan Alexa Liu langsung.


"Sudah hangus, tapi kamu mendapat hadiah dari Tante di belakangmu sebagai laki-laki pemberani yang sudah menolak Bella. Enak to?"


Alexa Liu langsung salah tingkah sewaktu Abimanyu menyalaminya.


"Makasih Tante." ucapnya seperti kataku tadi, seringan dan semanis permen kapas.


Alexa Liu kemudian mengangguk, dia menunjukkan ke belakang dengan jempolnya sewaktu Abimanyu kembali menatapku.


"Oke deh." Aku mengangguk, pura-pura cuek padahal ingin sekali aku menguyel-uyel pipi Abimanyu atau geledotan di lengannya. Tapi gengsi, usaha di tolak kok masih centil.


"Aku siapin dulu skin care dan alat-alatnya. Kamu baring ke ranjang."


Abimanyu mengangguk lalu memandangiku, ia tersenyum seolah ingin membangkitkan aku dari puing-puing kemurungan rasa kesal dan kecewa berlebih dan seperti ingin mempermudah usahanya, dia akhirnya membaringkan tubuhnya di ranjang pasien. Aku meneguk ludah, entah kenapa justru aku kesulitan melepaskan diri dari rasa geli yang melimpah di pikiranku sepanjang dia memejamkan matanya. Menikmati sentuhan lembut dari kulit tanganku di wajahnya.

__ADS_1


"Tunggu sepuluh menit!" Aku berbalik setelah meratakan masker jerawat di wajahnya. Aku bergeming sambil mencengkram tepian wastafel. Lututku lemas, jantungku berdebar. Namun aku tak sanggup mengatakan apapun. Tak pernah terpikirkan olehku bahwa ia mewujudkan keinginan ku dengan cara yang lain. Meski demikian, aku tidak benar-benar tahu apa yang dimaksudkan dan diharapkan atas semua perlakuannya padaku. Aneh sebenarnya, mengingat dia sudah menolakku kemarin.


Aku meneguk air putihku dan kembali memandangi Abimanyu yang sebentar-sebentar membuka matanya dan tersenyum lebar mengawasi ku.


__ADS_2