Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Gemes


__ADS_3

Satu bulan ku tunggu waktu itu melaju dengan cepat, bukannya aku hendak menagih janji Abimanyu atau uang yang dia pinjam. Aku tanpa pamrih membantunya atau memaksa Abimanyu menjadi jaminan atas uang yang dia pinjam untuk kesembuhan papanya. Tapi rasanya ada hal yang ingin aku pinta darinya. Entah itu kebersamaan atas kelakuan yang kemarin-kemarin ia perlakukan untukku atau sesuatu yang aku butuhkan darinya.


Bayangkan saja untuk apa coba dia sampai mengempeskan ban mobilku, mana dengan santai mengandeng tanganku tanpa rikuh seakan dia tidak masalah berteman dengan janda sepertiku.


Aku tersenyum kala proses perceraian ku dengan papi Narendra tak seburuk yang aku bayangkan. Berkat Abimanyu pastinya, ah, rasanya ingin sekali aku cepat-cepat menyelesaikan masa iddah ini segera lalu bebas melanjutkan perjalanan hidup entah tanpa pernikahan atau perkawinan.


"Bell, Bellaaaa!" teriak Alexa Liu saat mendorong pintu kamarku, sebuah kertas undangan lalu dia lemparkan di meja. "Narendra dan Debora akan nikah!" jeritnya dengan nada tak percaya.


"Anjingggg, beneran?" kataku terkesiap sambil meraih undangan yang begitu mewah.


Narendra Wicaksono & Debora Anastasia Marlene.


Nama kedua mempelai sialan itu terasa timbul dengan tekstur lembut berwarna emas. Dan dengan lancangnya mereka mengundangku.


Untuk apa? Menyakitiku dan memperjelas bahwa selama aku dan papi Narendra menikah Debora sudah menjadi penyusup hubungan kami.


"Bedebah egois ini memang sialan, Alexa. Bisa-bisanya dia menikah sementara belum ada satu bulan kita cerai, apa papi benar-benar gak mencintaiku sampai segitu cepatnya dia move on?" kataku seraya menggebrak meja.


"Aku akan datang dan menunjukkan bahwa aku still alive, proud and sexy!" ucapku dengan napas cepat meski sedikit ada nada putus asa dalam suaraku.


Alexa menginjak pedal tempat sampah dan membuang undangan itu.


"Tidak perlu mengikuti permainan mereka Bella, aku percaya mereka hanya akan mengintimidasimu. Mereka licik dan aku pastikan jika kamu datang, kamu cuma akan menangis sendiri!" Alexa Liu menyentuh kepala ku, "Biarkan saja, jangan pergi kesana atau jika kamu tetap keras kepala ajak geng kemayu kesana!" tawar Alexa Liu.


"Mana bisa aku bawa geng kemayu, Alexa. Papi Narendra tau semua kandidatnya, mana ada Sisca lagi, tante-tante kebanyakan gigolo. Malu lah." protes ku dan dibenarkan oleh Alexa Liu dengan anggukan. Ia menduduki kursi tamu dan bersedekap, sorot matanya menelisik raut wajahku.


"But anyway gimana kabar Abimanyu? Kenapa jarang dia sekali dia kesini setelah pinjam uang kamu kemarin?" tanyanya.


Ujung sepatuku mengetuk-ngetuk karpet dengan gelisah lalu mengendikkan bahu.


"Sibuk kuliah kali sama jagain papanya, aku gak tau pasti karena semenjak siang di kafe depan sampai sekarang aku belum ketemu lagi." jelasku, akupun juga sibuk kerja, terlebih akan ada launching produk baru.


"Gila kamu, Bella. Gimana kalo dia cuma nipu? Lima puluh juta gak sedikit sayangku. Kamu, enggak, Tuhanku." seru Alexa Liu dengan muka terkesima. "Jangan sampai kamu seperti Sisca, Bella! Aku tidak terima dan tidak mau jadi penasihatmu." omelnya sebal.

__ADS_1


"Gak akan!" jawabku, tapi kemudian aku tergelak akan sesuatu hal yang mengusikku akhir-akhir ini dan memang benar, kami pisah dengan janji sebulan lagi untuk bertemu kembali. Kalau dia serius dia akan menemuiku, kalaupun tidak, tidak masalah. Aku ikut senang bila hanya kesembuhan Rudolf yang Abimanyu harapan lewat uangku.


"Aku tidak akan merusak masa depannya, Alexa. Dia masih bisa kuliah dan punya pacar kalo pacarnya sanggup menerima Abimanyu menjadi jaminannya dengan artian meskipun keluarga Abimanyu tidak bisa membayar hutang-hutangnya. Aku akan meminta sesuatu sebagai pembayaran lain!" Aku berjeda sambil tersenyum aneh.


"Sesuatu yang akan membuatku hamil. Semoga, aku berharap Abimanyu memilih opsi terakhir, menghamiliku!" cetusku lugas. Alexa Liu langsung memasang wajah ternganga, reaksi alami yang sudah aku pastikan kemarin-kemarin jika permintaanku itu sangat berbahaya dan tidak manusiawi.


"Kau menjerat Abimanyu dengan uangmu, Bella. Lalu bagaimana jika keluarganya sanggup membayar hutangnya?" tanya Alexa Liu.


"Tidak masalah, aku memberi batasan mereka sampai Abimanyu legal! Jadi sebelum jatuh tempo, we are having fun together." seruku sambil berlonjak dari kursi.


Aku meraih tas kerjaku. Sekarang sudah pukul sepuluh malam akhir bulan. Karena itu aku dan Alexa Liu pasti melakukan rekap ulang data dan transaksi selama sebulan penuh.


"Pulang, Alexa. Semua sudah beres. Suamimu pasti sudah menunggumu di rumah." godaku sambil mematikan komputer. "Kamu harus pakai lingerie nanti, ini malam Minggu. Puas-puaskan malammu, besok libur!"


Alexa Liu langsung mendengus kesal sewaktu kami berjalan keluar dari kantorku.


"Suamiku baru keluar kota Bella, untuk apa pakai lingerie, cuma kedinginan saja. Lagian anakku masih tidur dengan kami berdua." eluhnya, membuatku terbahak di ruang sepi gelap dengan pencahayaan yang redup.


"Biarkan saja, yang penting aku masih bisa foreplay di depan suamiku, sedangkan kamu. Cuma cicak dan semut yang lihat, lebih parah lagi kalo bibi Marni." Alexa Liu langsung tertawa cekakakan sambil menarik pintu kaca.


Udara malam yang lembab langsung menerpa wajah kami.


Aku mendesis jengkel dan seketika aku terdiam melihat Abimanyu nangkring di motornya sambil menyesap rokok elektriknya bahkan ia tak melepas helmnya.


"Tumben kesini, gak malam Mingguan sama cewek kamu?" tanyaku setelah menghampiri Abimanyu di parkiran paling pinggir. Dia memakai celana jins pendek dan sweater hitam, pakai sandal jepit pula.


"Aku kesini untuk bayar hutang, maaf telat Tante. Kemarin habis kontrol papa." Abimanyu menyerahkan amplop putih dari saku celananya. "Ini baru dua juta. Tante catat biar gak lupa dan jelas. Jangan lupa tanggalnya juga!"


Aku langsung memasang muka memelas, kenapa buru-buru bayarnya. Aku kan mau semuanya diperlambat saja biar aku bisa menjeratmu dengan tempo selama-lamanya.


"Nanti aku catat di rumah." balasku lalu tersenyum. "Kamu udah mulai kuliah?"


"Bella, duluan." teriak Alexa Liu dari belakang. Aku mengangguk tanpa mengalihkan tatapanku pada Abimanyu yang berada di bawah pohon mangga milik tetangga bisnis.

__ADS_1


Abimanyu turun dari motor, lalu menyimpan rokok elektriknya ke saku celana.


"Tante beneran jadiin aku jaminannya? Gak mau BPKB motor atau sertifikat tanah?" tanyanya dengan raut wajah polos.


Aku menahan senyum, tak mau melukai perasaannya karena semua itu aku sudah punya. Aku memutus jarak, mencoba mencari kalimat yang tepat untuk mengatakan keinginan ku dengan lebih baik meski ujungnya ku katakan dengan jujur.


"Aku hanya mau kamu, Abimanyu."


"Tant!" Abimanyu memundurkan tubuhnya selangkah. "Aku gak bisa mutusin cewekku cuma gara-gara hutang keluarga ku sama Tante. Itu gak adil buat dia!" protesnya.


"Gak masalah deh kalo gitu. Kamu pasti cinta banget sama cewek kamu kemarin!" balasku sambil memainkan rambutku, berusaha memahami bahwa remaja ini sedang bersungguh-sungguh dalam berhubungan, tapi kenapa dia perhatian sama aku? Apa begitu kasian diriku sampai dia iba?


"Tapi kasih kabar dong, jangan ngilang gitu aja. Kita kan temanan." kataku sambil bersedekap dan cemberut.


"Iya, maaf." Abimanyu mengulum senyum, "Tante masih diet?"


"Gak, gak diet lagi aku." akuku sambil menggeleng dan tersenyum lebar tapi ternyata mukaku yang tidak meyakinkan ini terbaca oleh Abimanyu. Dia tertawa lalu menyuruhku naik ke atas motor.


"Jangan pegangan, apalagi peluk-peluk!" serunya ketika aku naik ke atas motornya dengan susah payah.


"Aku gak bisa kalo gak peluk, nanti jatuh."


Abimanyu mendesis ketika tanganku melingkar di pinggangnya.


"Yang bener, jangan ke bawah-bawah!" serunya sambil menggeber motor. Aku terbahak sambil menyandarkan kepala di punggungnya.


"Sayangnya kamu masih kecil, Abi!"


"Aku denger, Tante!" sahut Abimanyu, dia menggeber motornya dengan kecepatan sedang karena aku duduk miring dan menggunakan rok span ketat. Kalau gak pegangan riwayat ku tinggal kenangan.


Aku tergelak lalu mencubit perutnya.


"Gemes tampan, emang apanya sih yang kecil?"

__ADS_1


__ADS_2