Perjalanan Dewa Pembantai Dan Dewa Pengacau

Perjalanan Dewa Pembantai Dan Dewa Pengacau
13 Tahun Menyusuri Hutan Monster Hingga Bertemu Kota Mati


__ADS_3

Wajah Xi Juan seketika bersinar cerah saat mendengar itu, ia pun terlihat bersemangat mengiris daging menjadi potongan kecil dan langsung melahapnya tanpa membakarnya.


Glek glek..!!


...


Wuss wuss..!!


Kini terlihat Xi bersuadara melesat ke arah Utara.


Selama perjalanan menuju Utara, mereka berdua beberapa kali bertemu monster, dan jika mereka merasa mampu menang, maka mereka akan langsung menghadapi mereka. Tapi jika mereka tidak mampu menang, mereka tentu saja menghindari para monster tersebut.


1 Tahun berlalu.


Selama menuju Utara, hal yang Xi bersaudara lihat hanyalah monster dan monster.


Yang berubah hanyalah musim, musim dingin dan musim panas.


Tap tap..!!


“Kita istirahat di sini dulu Juan'er,” ucap Xi Luan memberitahu adiknya.


Xi Juan pun mengangguk setuju, pandangan Xi Juan pun mengarah ke segala arah, dimana area sekelilingnya yang kini bersalju, membuat mereka merasa sedikit aman dari para monster.


Jika musim dingin atau musim salju tiba, para monster tidak akan keluar, rata-rata mereka membuat tempat tinggal di gua dan bawah tanah. Mereka juga tidak bergerombolan.


Sementara saat musim panas, kebanyakan para monster bergerombolan dan selalu ada dalam jarak 100 meter.


Tap tap..!!


“Sudah 1 tahun kak, tapi sampai saat ini kita masih belum menemukan apa-apa selain para monster,” ucap Xi Juan terlihat mendekati kakaknya.


Bruk..!!

__ADS_1


“Hemm..!! Entah mengapa lubang tersebut membawa kita ke tempat yang tidak kita ketahui yang di penuhi monster.” Sambung Xi Luan terlihat sangat merindukan keluarganya, gurunya dan sangat ingin bertemu leluhurnya.


“Ya,, andai saja lubang tersebut kembali muncul, ingin rasanya Juan'er memasukinya dan berharap dapat kembali.” Balas Xi Juan yang kini duduk dan mengeluarkan persediaan dagingnya.


...


Wuss wuss..!!


Setelah cukup lama istirahat, Xi bersaudara kini kembali melanjutkan perjalanan mereka hingga menempuh waktu 10 tahun.


Tap tap..!!


“I..Ini,” gumam Xi Juan saat ia melihat ada sebuah kota di depannya.


Tubuh Xi Juan seketika bergetar hebat seketika.


Bahkan Xi Luan pun sama, selama 13 tahun mereka mengarungi hutan dan selalu bertemu monster. Betapa bahagianya mereka saat melihat sebuah kota.


“Ayo kakak, aku sangat merindukan wajah manusia dan merindukan sebuah ranjang empuk, badanku sudah lama kaku.” Teriak Xi Juan yang kini berharap jika kota besar di depannya adalah Kota Manusia.


Dret..!! Wuss wuss..!!


Walau jaraknya cukup jauh, tentu saja Xi bersaudara mampu melihatnya dengan begitu jelas, karena area sekitar kota tersebut hanyalah dataran gurun es.


Xi Luan yang melihat adiknya melesat lebih dulu, langsung mengejar.


Wuss wuss..!!


***


Sementara kota yang Xi bersaudara tuju saat ini, terlihat di dalam kota hanya di isi oleh 2 penghuni saja.


Keduanya adalah sosok pria tua yang sangat kurus serta seorang remaja berusia 14 tahun.

__ADS_1


Pria tua tersebut adalah seorang pelayan yang selalu melayani remaja berusia 14 tahun tersebut.


“Tuan muda, mumpung para pasukan belum tiba ke kota, sebaiknya anda kabur saja, biarkan saya yang akan menangani mereka jika bertanya.” Ucap sosok pria tua sambil membaluti luka-luka di tubuh Tuan mudanya.


“Tidak, kakek Xeng, aku tidak bisa meninggalkanmu seorang diri,” ucap Liu Sao San menggelengkan kepalanya.


“Walau aku kabur pun, aku tidak tahu kemana arah tujuanku, karena semua orang pasti akan mengenalku, jadi tidak ada gunanya jika ujung-ujungnya tertangkap lagi.” Sambung Liu Sao San.


“Kenapa tidak ke Hutan Tanpa Batas Tuan muda, walau hutan tersebut di penuhi monster dan setidaknya anda bisa bersembunyi di sana dan tidak akan tersiksa lagi.” Ucap sang pelayan yang merasa iba kepada Tuan mudanya, lantaran selalu di siksa oleh para pasukan dari Klan Shen.


Mendengar itu, Liu Sao San kembali menggelengkan kepalanya. “Menuju kesana, sama saja dengan bunuh diri kakek.”


“Kakek tahu jika para monster tersebut sangatlah banyak dan kuat, bahkan ayah dulu yang menjadi pemimpin perbatasan Utara hampir beberapa kali gagal menjaga perbatasan karena invasi para monster.” Ucap Liu Sao San.


“Tapi aku tidak menyangka jika klan Shen sangat licik, mereka dengan sengaja menuduh ayah bersama semua bawahan setianya menjadi seorang pengkhianat dan tanpa basa basi langsung memusnahkan mereka.” Sambung Liu Sao San yang kini menggertakkan gigi serta mengepalkan erat genggaman tangannya saat mengingat bagaimana ayahnya di bunuh tepat di depan matanya hanya untuk menyelamatkan dirinya.


Ayahnya sudah menyadari jika Klan Shen sudah merencanakan ini semua, tapi yang membuat Liu Sao San bingung adalah, mengapa ayahnya dan pasukannya sama sekali tidak melawan.


...


Tap tap..!!


Di saat bersamaan, Xi bersaudara yang sampai ke kota, kini hanya bisa melihat beberapa bangunan hancur dan bangunan tua tidak berpenghuni.


“Hais,, aku yakin jika kota ini dulunya sebuah benteng, dan penghuninya adalah manusia. Jika begitu, kita masih ada harapan kak,” ucap Xi Juan terdengar mencoba menyemangati dirinya, walau dalam hati ia sangat kecewa, lantaran kota yang mereka datangi tidak berpenghuni.


Sementara Xi Luan yang hanya diam setelah tiba, kini hanya menatap ke kejauhan.


“Masih ada beberapa penghuni di sini Juan'er, lihatlah bangunan yang ada di sana, itu sangatlah bersih, berbeda dari beberapa bangunan yang lain.” Tunjuk Xi Luan ke arah bangunan yang berada tidak jauh dari Istana yang ada di belakangnya.


Mendengar itu, wajah Xi Juan pun menjadi bersemangat.


“Tunggu apa lagi kak, ayo kita sapa mereka,” ajak Xi Juan langsung melesat dan berharap jika memang benar masih ada manusia yang tinggal di kota ini.

__ADS_1


Dret..!! Wuss wuss..!!


__ADS_2