Perjalanan Dewa Pembantai Dan Dewa Pengacau

Perjalanan Dewa Pembantai Dan Dewa Pengacau
Dunia Memanglah Kejam, Yang Kuat Menindas Yang Lemah


__ADS_3

Mereka pun segera bergegas menuju gerbang Ibukota melalui jalan berbeda.


Tap tap..!!


Setelah menemukan gerbang yang berbeda, Xi bersaudara bersama Lan Yuheng langsung melangkah ke arah seorang prajurit yang menjaga gerbang.


“Berhenti, tolong tanda pengenal anda tuan,” ucap prajurit tersebut dengan nada tegas dan sopan.


Lan Yuheng langsung maju lalu memperlihatkan tanda pengenal bekas milik ayahnya dulu.


Melihat itu, prajurit tersebut terdiam selama beberapa saat. Setelah berpikir cukup lama, ia langsung mengangguk.


“Baiklah silahkan masuk.” Ucap prajurit tersebut langsung mempersilahkan.


Beberapa prajurit lain yang melihat temannya mempersilahkan ketiga pemuda tersebut masuk langsung menghampiri.


“Kenapa anda membiarkan mereka masuk komandan?” Tanya prajurit tersebut sedikit ragu.


“Walau klan Lan telah musnah, setidaknya kita menghormati putranya yang kini hidup seorang diri,” ucap komandan tersebut seperti mengenal tanda pengenal milik Lan Yuheng.


...


Tap tap..!!

__ADS_1


“Hei Yuheng, kenapa kau diam saja?” Tanya Xi Juan langsung mendekap leher Lan Yuheng menggunakan lengan kanannya.


“Urgh,, Bukankah kau melarangku bicara dari dua minggu lalu, jika kau mendengar aku bicara atau ribut, kau mengancam tidak akan mengajariku cara melatih teknik Pedang Kehampaan,” jawab Lan Yuheng dengan nada sulit bernafas.


“Hehe,, itu karena kau sangat mengusik tidak jelas, jika kau tahu waktunya bicara maka bicaralah, jangan membuat keributan yang tidak jelas,” kekeh Xi Juan.


“Huh,, kau yang membuat keributan seenak jidat tidak ada yang menegur, sementara aku hanya cplas cplos di marah,” gerutu Lan Yuheng dalam hati.


Tap tap..!!


Langkah mereka langsung terhenti saat melihat sebuah keributan di depan.


“Heeh,, rupanya aku mendapat makanan lagi,” ucap Xi Juan tersenyum tipis saat melihat seorang pemuda Bangsawan sedang melecehkan seorang pelayan.


Bukannya takut Xi Juan malah terlihat cengar cengir. “Mereka bukan orang baik kak, jika saja aku lebih kuat, mungkin sudah ku bantai dan porak porandakan tempat mereka,” ucap Xi Juan dengan nada santai.


...


Di depan pintu sebuah Restaurant, kini terlihat pelayan dewasa yang lumayan cantik sedang di permainkan oleh pemuda tampan.


“Hehe,, ayolah temani Tuan muda ini, Tuan muda ini akan memberikan banyak koin emas untukmu, aku tahu nenekmu sedang sakit,” kekeh pemuda tampan dengan senyum mesum.


Cuih..!!

__ADS_1


“Aku tidak akan sudi, cepat lepaskan aku Tang Ren,” teriak pelayan wanita meludahi pemuda tampan tersebut.


“Jika saja ayah dan ibuku masih hidup, kau sama sekali tidak berani menyentuhku, bahkan kau dan semua keluargamu dengan tidak tahu malunya mengemis,” sambung wanita tersebut di penuhi amarah.


Pemuda yang bernama Tang Ren kini wajahnya menghitam saat di ludahi.


“Dasar ja**l**ng berani sekali kau meludahiku.”


Plak..!!


Tubuh wanita tersebut langsung terlempar hingga ke tengah-tengah penduduk yang saat ini sedang menonton.


Qin Ji kini berusaha untuk bangun, namun saat tubuhnya setengah bangkit, kaki Tang Ren langsung menginjak punggung Qin Ji hingga jatuh, lalu tangan Tang Ren menjambak rambut Qin Ji.


“Aku akan membuatmu menyesal jal**ng dan aku memberitahumu sebuah kebenaran tentang kematian orang tuamu, itu adalah-” Tang Ren tersenyum mengerikan saat membisikkan sesuatu ke telinga Qin Ji.


Kini tubuh Qin Ji bergetar hebat, tatapan membunuh dan benci ia arahkan ke Tang Ren.


“Aku akan membunuhmu Tang Ren.” Teriak Qin Ji berusaha untuk meraih kerah jubah Tang Ren.


“Heeeh,, wanita cacat seperti dirimu ingin mencoba membunuhku? Apa kalian semua dengar, ia kini bermimpi,” seketika tawa terdengar dari bawahan Tang Ren dan beberapa penduduk yang melihat itu dari awal.


“Hei jal**ng aku akan membuatmu menderita dengan menjualmu di tempat hiburan malam,” kekeh Tang Ren kini mencekik leher Qin Ji tanpa rasa iba.

__ADS_1


__ADS_2