
“Baiklah, karena pelatihan fisik telah selesai, kini waktunya melatih kekuatan tubuh kalian.” Kata Duan Du menyeringai tipis.
Glek..!!
Setelah menelan ludahnya, Xi Luan dan Xi Juan langsung mengangguk secara bersamaan.
Melihat mereka telah mengangguk patuh. Duan Du langsung melambaikan tangannya, kemudian menghilang bersama Xi Luan dan Xi Juan.
Wuss..!!
Tak lama, mereka muncul di tanah lapang yang sangat luas dan tidak jauh dari sana ada sebuah rumah yang sangat kokoh dan indah.
“Apakah itu tempat kami tinggal?”, tanya Xi Juan senang.
“Tidak, itu tempat tinggal ku untuk mengawasi kalian yang berlatih.” Jawab Duan Du tersenyum lebar.
Xi Juan langsung tersenyum kecut, dan bertanya. “Terus dimana kami akan tinggal?”
“Buat sendiri, kalian sudah dewasa. Jangan anggap diri kalian sebagai seorang pangeran di depan ku, karena hidup kalian yang selalu enak membuat kalian berdua menjadi manja.” Kata Duan Du dingin.
Dengan cepat Xi Luan menyenggol adiknya guna untuk tidak bertanya lagi.
Melihat keduanya yang diam, Duan Du terkekeh dalam hatinya.
Baiklah latihan pertama kalian adalah mengkat batu itu dan membawanya ke bukit yang tadi tempat kalian bertemu Macan Tutul, setelah sampai di sana, kalian harus membawanya kembali. Waktunya hanya 10 jam, jika tidak kembali dalam waktu yang telah aku sebutkan, kalian akan mendapatkan hadiah yang tidak bisa kalian lupakan.” Kata Duan Du menyeringai kejam
Glek..!!
Xi Luan dan Xi Juan langsung menjadi patung selama beberapa saat sebelum tersadar akibat suara Duan Du.
“Waktunya di mulai dari pertama kali kalian sampai ke tempat ini sudah 15 menit berlalu, dan jangan pernah berbuat curang. Karena aku bisa melihat semua aktivitas kalian.” Kata Duan Du tersenyum lebar.
Seketika Xi Luan dan Xi Juan langsung mengutuk Duan Du dalam hati mereka.
Pasalnya batu yang di tunjuk oleh Duan Du sangatlah besar. Bahkan jauh lebih besar dari tubuh mereka.
Xi Luan yang pertama berlari kemudian di susul oleh Xi Juan. “Tunggu aku kakak,” teriak Xi Juan.
Sementara Duan Du langsung pergi ke dalam rumah dan minum sebotol arak sambil mengawasi Kakak beradik Xi.
__ADS_1
“Ukkhhh..!! Ini berat sekali kak, mengangkatnya saja susah, apalagi cara membawanya,” gerutu Xi Juan.
Xi Luan terdiam, ia juga sudah mencoba mengangkatnya tadi. Tapi ia hanya bisa mengangkatnya hanya sejengkal dari tanah.
“Adik, dari pada kau mengeluh, lebih baik pikirkan cara bagaimana membawa Batu sebesar ini ke atas bukit itu,” tunjuk Xi Luan ke arah bukit yang paling jauh tempat mereka bertemu Hewan Buas tadi.
Xi Juan langsung membeku saat melihat jarak dirinya dengan bukit tersebut. Lalu pandangannya ke arah batu yang jauh lebih besar darinya, bahkan Xi Juan harus mendongak melihat batu tersebut.
“Kak, kira-kira berapa berat batu ini?” Tanya Xi Juan tersenyum lebar, sepertinya ia menemukan cara membawa batu tersebut.
“Hmm,, kalau tidak salah 5000 kilo bahkan lebih, apakah kau menemukan cara, bagaimana kita menggendong batu ini di atas pundak kita?” Tanya Xi Luan setelah menjawab.
“Eeh,, kakak apa tidak sadar ucapan Dewa Guru, kita kan hanya di tugaskan membawa Batu ini ke bukit lalu membawanya kesini lagi. Dan Dewa Guru tidak bilang kira harus membawanya dengan cara memikul menggunakan pundak. Tapi ia hanya bilang mengangkat dan membawanya. Yang berarti kita bisa menggunakan sebuah alat atau bantuan untuk membawanya. Sedangkan kata mengangkat tadi, mungkin saat kita memindahkan ke alat bantu seperti kereta, itu kan sama saja mengangkat,” kata Xi Juan menjelaskan panjang lebar.
Xi Luan langsung tercerahkan. “Tidak sia-sia kau cerdas dari kecil. Kau memang adik ku yang paling cerdas dan terbaik,” kata Xi Luan tersenyum senang.
Xi Juan tidak bangga saat di sanjung. Melainkan ia langsung berkata. “Tapi masalahnya adalah bagaimana cara kita membawanya, tidak mungkin kita membuat kereta, hal tersebut membutuhkan waktu lama, terlebih lagi pedang kita di sita oleh Dewa Guru jika membuat kereta membutuhkan pedang atau pisau.”
Mendengar itu, Xi Luan langsung terdiam memikirkan sesuatu. Tak lama ia langsung melesat ke arah Hutan.
Melihat kakaknya pergi, Xi Juan ikut berlari melesat mengejar kakaknya.
Wuss..!!
Xi Luan langsung berhenti di depan pohon yang cukup besar.
Tak lama Xi Juan langsung muncul di samping kakaknya.
“Kakak, apa yang kau lakukan?” Tanya Xi Juan penasaran.
“Hehe,, kita tebang semua pohon ini lebih dulu, nanti kau akan tahu sendiri, ayo bantu kakak,” kata Xi Luan tersenyum lebar.
Xi Juan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Walau ia cukup bingung dengan apa yang di lakukan kakaknya, Xi Juan yakin ini untuk mempercepat cara membawa Batu besar tersebut, terlebih jumlah batu tersebut ada 2.
Xi Luan saat ini sedang mengambil nafas lalu memukul pohon tersebut menggunakan tapak tangannya.
Bam..!!
Crak crak..!!
__ADS_1
Bluss..!!
Pohon teraebut langsung terjatuh. Xi Luan langsung melesat ke arah pohon yang lain dan melakukan hal yang sama.
Xi Juan yang melihat kakaknya sudah menebang pohon langsung menuju pohon lain dan mengambil nafas panjang lalu tinjunya terayun ke arah pohon tersebut.
Bom..!!
Pohon tersebut tidak langsung jatuh, melainkan berlubang.
“Ukhh,,” rintih Xi Juan memegang tangannya yang kini berdarah.
“Ini sakit sekali, bagaimana kakak bisa tidak kesakitan saat memukul pohon itu? Walau menggunakan tapak, tapi pasti ia akan merasa nyeri atau tangannya memerah,” gumam Xi Juan.
Tapi karena tak ingin kalah dengan kakaknya, Xi Juan langsung merobek jubahnya dan membalut tangannya menggunakan jubah yang ia sobek.
“Baiklah, ayo lakukan lagi,” gumam Xi Juan menyemangati dirinya sendiri.
“Tumbanglah berengs*k pohon,” teriak Xi Juan mengayunkan tinjunya.
Bom..!!
Pohon tersebut langsung tumbang, hal itu membuat Xi Juan tersenyum lebar walau ia masih merasakan tangannya sedikit keram dan darah terus menetes walau telah di baluti oleh kain.
Xi Luan yang melihat itu langsung tersenyum, karena ia dari tadi memperhatikan tingkah adiknya dan baru kali ini ia melihat adik bersemangat dan tidak mengeluh. Terlebih lagi adiknya hanya ahli menggunakan senjata, tidak seperti ia yang bisa menggunakan tangan kosong dan senjata.
Setelah terdiam sejenak. Xi Luan langsung berlari ke arah pohon di depannya dan menumbangkannya.
Demikian dengan Xi Juan, walau ia harus menggunakan usaha ekstra untuk menumbangkannya, tapi semangatnya tidak pernah memudar.
Sedang di rumah yang terlihat indah. Duan Du tersenyum lebar. “Kerja sama yang bagus, di tambah dengan otak sang adik yang cukup cerdas, akan membuat mereka berdua semakin tak terkalahkan jika bertarung suatu saat nanti,” gumam Duan Du, lalu menambahkan. “Bukankah begitu kakak?” Tanya Duan Du tersenyum melihat klon kakaknya kini berada di sampingnya.
Tak lama, muncul klon Raja Para Dewa dan berkata. “Kau cukup jeli juga mengetahui keberadaan kakak walau kekuatanmu saat ini di segel dan yang tersisa hanya 1%” Kata Raja Para Dewa lalu mengambil sebotol arak kemudian meneguk arak tersebut dari botolnya, tanpa menuangnya ke gelas.
Glek..
Glek..
“Ahh..!! Arak buatanmu memang terbaik adik, ingat jika pelatihan mereka selesai. Jangan ganggu atau bantu mereka lagi, biarkan mereka berdua berjuang sendiri mencapai puncak. Karena ini pesan Xing'er dulu sebelum ia meninggal,” kata Raja Para Dewa kemudian menghilang.
__ADS_1
Duan Du langsung mendengus saat melihat kakaknya menghilang. Padahal ia ingin bertanya, tentang Alam Semesta lain.