
Melihat Xi Juan menahan tebasannya hanya menggunakan kayu, mata Xin Tian kini melotot tidak percaya.
Wuss..!!
Xi Luan muncul tepat di belakang Xin Tian, tangan Xi Luan yang memegang pedang yang sama dengan cepat terayun ke arah kepala Xin Tian.
Terlihat jika wajah Xi Luan sangat datar saat mencoba membunuh Xi Luan.
“Sialan cepat bantu aku,” teriak Xin Tian sambil memandang Liu Kai, Liu Seng dan Liu Ji.
Seketika ketiga bawahan Xin Tian mencoba untuk menghentikan Xi Luan.
Tapi langkah mereka terlambat, Xi Luan yang memiliki jarak 10 meter dari Xin Tian sudah berjarak satu meter.
“Teknik Pedang Pemusnah.”
“Tebasan Kematian.”
Tidak tanggung-tanggung, Xi Luan langsung menggunakan teknik terkuat yang saat ini menjadi andalannya.
Blush..!!
Energi Qi dari pedang Xi Luan seketika keluar dan langsung mengelilingi pedang tersebut.
Xin Tian yang melihat itu merasakan bahaya, ia langsung berteriak marah. “Sialan, tetua Xin Qing, cepat bantu aku.” Dengan tak tahu malu ia seketika meminta bantuan dari tetiua klan Xin.
Xin Tian cukup cerdas, jika ia menahan serangan Xi Luan, maka Xi Juan pasti akan mengambil kesempatan untuk menyerangnya juga. Jadi satu-satunya cara adalah dengan bantuan tetua klan Xin.
__ADS_1
Xin Qing yang mendengar itu langsung bergerak secepat yang ia bisa, jika terlambat maka ia yakin Xin Tian akan terluka.
Dan predikisi tetua klan Xin itu benar.
Saat ini Xi Luan menyunggingkan senyum jahat. Baru kali ini Xi Luan tersenyum seperti ini.
Bahkan Xi Juan terpana melihat kakaknya mengeluarkan senyum jahat. Tak lama ia merasakan tubuhnya sedikit dingin.
“Aku harus memikirkan cara untuk melarikan dari sini bersama kakak, aku tahu saat ini kakak sangat ingin membunuh pemuda bodoh itu,” gumam Xi Juan yang masih bentrok.
Pandangan Xi Juan mengarah ke sekelilingnya. Tak lama ia tersenyum tipis.
“Ayo selesaikan dengan cepat kak,” teriak Xi Juan seketika menyemangati Xi Luan.
Mendengar itu, Xin Tian langsung teralihkan.
Crash..!!
Tubuh semua orang yang ada di sana seketika membeku saat melihat kelapa Xi Tian terbang lalu perlahan jatuh.
Bruk..
Selama beberapa detik, tetua Xin Qing terdiam sesaat, tak lama tubuhnya bergetar hebat.
“Sialan, aku akan membunuh-” Raungan tetua Xin Qing seketika terpotong saat melihat dua pemuda bersaudara sudah tidak ada di tempatnya.
Seketika amarahnya semakin meledak, ia saat ini tak tahu harus bagaimana cara menjelaskan kepada Patriak Klan Xin atas kematian putranya Xin Tian.
__ADS_1
Sementara Liu Mei Ling yang masih membeku, tak lama ia mengeluarkan senyum tipis.
“Akhirnya kau mati juga Xin Tian,” gumam Liu Mei Ling.
Pandangan Liu Mei Ling langsung mengarah ke tempat Xi bersaudara berdiri tadi, tapi ia langsung panik saat melihat kedua bersaudara itu sudah tidak berada di tempatnya.
“Kemana mereka berdua, bisa gawat jika keduanya keluar dari kota ini,” gumam Liu Mei Ling dalam hati.
Tentu Liu Mei Ling saat ini khawatir, ia dan ayahnya mengetahui jika klan Xin sebenarnya dalang dari Sekte Besar aliran hitam itu menyerang kota ini. Tapi sampai saat ini ia tidak mempunyai bukti untuk menuduh.
Tidak jauh dari Liu Mei Ling.
Liu Kai, Liu Seng dan Liu Ji saat ini sedang di tindas oleh tetua Xin Qing.
“Cepat katakan kemana kedua anak itu melarikan diri?” Teriak tetua Xin Qing memegang kerah baju Liu Kai.
“I..Itu aku tidak mengetahuinya tetua, mungkin nona Mei Ling mengetahuinya, karena ia yang mengetahui kedua pemuda itu,” ucap Liu Ka gugup, tapi dalam hatinya ia tersenyum tipis saat menuduh Liu Mei Ling.
Liu Mei Ling yang mendengar itu langsung melototi Liu Kai dengan dingin.
“Kau tahu hukuman bagi seorang pengkhianat adalah kematian,” ucap Liu Mei Ling dengan dingin.
Tapi Liu Kai sama sekali tidak takut denga ancaman Liu Mei Ling, ia merasa dengan adanya tetua Xin Qing di sini, maka ia pasti akan di lindungi, sementara untuk terusir, ia sadar akan di usir.
Tapi Liu Kai sudah berinisiatif ke klan Xin, jika di tolak maka akan ke sebuah sekte tempat kakaknya berada.
Tap tap..!!
__ADS_1
Tetua Xin Qing langsung menuju Liu Mei Ling berdiri. “Katakan dimana kedua bocah itu berada nona Mei Ling? Dan jika kau menyembunyikan keberadaan mereka maka-”
“Maka apa?”