
Dengan balutan kebaya putih yang terlihat pas di tubuhnya, apalagi warna kulitnya bisa menyatu dengan warna kebayanya membuat Nesya terlihat semakin cantik, akan tetapi tidak ada yang tahu jika di dalam hati gadis itu tersiksa. Sebuah pernikahan sederhana karena Fariz tidak ingin pernikahannya diketahui orang lain, tidak ada yang namanya resepsi, acaranya pun diselenggarakan secara tertutup.
Dan mulai hari ini, Nesya telah sah menjadi istri dari Alfarizki, saat acaranya selesai, gadis itu berlari menuju kamarnya, menumpahkan kesedihannya, ia berteriak sejadi-jadinya seraya menangis. Seketika hidupnya terasa hancur, apalagi sekarang harus setiap hari bersama siluman iblis yang berwujud suaminya.
“Bagus! Lempar semuanya, nanti sekalian dirimu yang akan aku lempar!” Fariz bersedekap, dilihatnya Nesya yang mengacak-ngacak kamarnya, belum lagi beberapa barang yang telah berserakan di lantai.
“Diam kau!” mata Nesya memandang Fariz dengan tajam.
“Cihh, kau pikir aku takut?” Fariz terkekeh, ia mendorong bahu Nesya yang tengah berkacak pinggang di hadapannya.
“Jangan sentuh aku!” Nesya menekan setiap kata-katanya, Fariz dibuat tertawa oleh kelakuan Nesya.
“Oh iya? Bagaimana kalau kita melakukan sore pertama?” lagi-lagi Fariz tergelak setelah mengucapkan kalimat konyolnya.
Nesya hanya bengong, tidak mengerti maksud ucapan Fariz, gadis polos yang sudah ternodai itu memilih untuk tidak peduli dengan laki-laki yang sudah berstatus suaminya.
__ADS_1
“Besok kamu sudah mulai sekolah, aku harap kamu belajar dengan baik,” ucap Fariz dengan mimik wajah serius.
Nesya menoleh, dia sebenarnya masih siswi SMA yang sebentar lagi akan lulus, namun Fariz malah membawanya ke sini.
“Benarkah?” tanpa rasa curiga sedikit pun, Nesya menganggap jika Fariz telah berubah, tanpa tahu jika terdapat niat terselubung di balik ucapan suaminya.
Fariz tidak menanggapi pertanyaan Nesya, dia melempar beberapa seragam ke wajah istri kecilnya. Nesya melompat kegirangan, tidak sabar ingin terlepas dari rumah yang penghuninya bukan manusia.
“Jangan berharap kamu bisa kabur!” ucapan Fariz membuat Nesya tertegun, bagaimana bisa Fariz mengetahui apa yang ada dikepalanya, pikirnya.
Merasa bahwa ini adalah hari keberuntungan, gadis itu semakin senang ketika Fariz pergi walau ia tidak tahu pergi ke mana. Nesya berkeliling di rumah itu, namun dia tidak bisa keluar karena Fariz menguncinya di dalam rumah.
Namun perasaan senang itu berubah menjadi takut, malam semakin larut, ditambah dengan hujan deras yang mengguyur kota itu, kilatan petir serta suara guntur yang menggelegar membuat gadis itu berkeringat dingin. Takut jika tiba-tiba listriknya padam. Ya, kelemahan Nesya yang lainnya adalah takut gelap, maka dari itu Abi selalu menyiapkan lilin di rumahnya ataupun senter untuk jaga-jaga jika terjadi pemadaman.
Dan benar, dalam sekejap, rumah besar itu menjadi gelap gulita, ketakutan Nesya semakin menjadi, dia menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut, gadis itu menangis, mulutnya tak berhenti memanggil sang kakak ataupun Fariz. Hingga terdengar derap langkah yang kian mendekat, pintu kamarnya dibuka, Nesya menggenggam erat selimutnya, meskipun terasa pengap namun tak masalah ketimbang harus melihat ruangan yang gelap itu.
__ADS_1
“Toloongg..!!” Nesya berteriak, saat tiba-tiba ada tangan yang membuka paksa selimutnya, mencekik lehernya sekuat tenaga, Nesya memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam, dia sudah pasrah jika ajalnya menyapa.
“Aku ingin kamu mati..” suara setengah berbisik membuat Nesya merinding.
“Bu-nuh saja, a-asal nanti kuburkan aku dengan layakh... Dan dosaku d-ditanggung olehmu!” dengan suara tercekat, Nesya sempat-sempatnya bernegosiasi.
Like
Komen
__ADS_1