Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Mengirim


__ADS_3

Roberto melajukan mobilnya menuju Perumahan La Marais, hari ini ia akan membeli sebuah rumah di perumahan itu. Rencananya Roberto akan memboyong seluruh anggota keluarganya ke rumah baru, karena rumah lama sudah tidak nyaman untuk ditinggali mengingat ada pembangunan jalan tol di dekatnya. Tentunya itu sangat mengganggu ketenangan keluarga Alexander.


Saat Roberto tengah menyetir, ia melihat seorang wanita yang tidak asing keluar dari rumah dengan berjalan sempoyongan. Roberto segera turun dari mobilnya, saat Maura akan terjatuh, ia berlari dan menangkap tubuh wanita mungil itu.


"Nyonya!!!" Lisa berteriak saat melihat tubuh Maura diangkat oleh Roberto. Lisa segera menghampiri Roberto.


"Bawa Nyonya ke dalam, tuan!" Seru Lisa kemudian, ia segera membuka pintu rumah dengan sangat lebar.


Roberto berjalan cepat sambil menggendong tubuh Maura, kemudian ia membaringkan tubuh Maura di sofa.


"Nyonya, bangunlah!" Lisa membuka sepatu pentopel Maura, kemudian ia mengangkat kepala Maura dan menyenderkannya di bantalan sofa.


"Mengapa Maura bisa pingsan seperti ini?" Tanya Roberto curiga, kecurigaannya terhadap Dave semakin besar. Roberto mengira selama ini Dave menyiksa Maura.


"Aku tidak tahu, tuan. Tapi akhir-akhir ini Nyonya sering kelelahan. Kemari pun saat pergi ke supermarket wajah Nyonya sangat pucat," cerita Lisa dengan raut wajah khawatir.


"Apa Dave tidak mengantarkan Maura?" Roberto mencoba mengorek informasi melalui Lisa.


Lisa menggelengkan kepalanya "Tidak, tuan. Tuan Dave sedang bekerja."


Tatapan Roberto beralih kepada Maura, ia melihat penampilan Maura begitu berantakan. Maura masih memakai piyama dan long cardigan saja. Rambutnya terlihat diikat dengan asal dan tidak rapih semakin menguatkan argumennya bahwa Maura sedang tidak baik-baik saja.


Lisa memijit pelipis Maura dengan cemas, ia pun memberikan minyak angin dan menempelkannya di hidung Maura. Mata Maura tampak mengerjap-ngerjap. Ia mulai sadar dari pingsannya.

__ADS_1


"Nona, syukurlah kau sudah sadar," Lisa berkata dengan gembira.


Maura memandang Lisa dan Roberto secara bergantian, ia lalu menyentuh pelipisnya yang terasa nyut-nyutan. "Aku di mana?" Gumamnya dengan suara parau.


"Anda masih di rumah, Nyonya. Tadi anda pingsan. Bagaimana keadaan anda? Apa sudah membaik?" Lisa begitu mengkhawatirkan Maura, ia memang sudah betah bekerja untuk Dave dan Maura. Hubungannya dengan Maura pun sangat baik.


"Kepalaku masih pusing!" Gumam Maura dengan lemah.


"Aku akan memanggilkan dokter, dan memeriksa anda Nona Maura," Roberto kali ini yang bersuara.


Maura menggelengkan kepalanya dengan lemah, ia tidak ingin membuat Dave khawatir. "Tidak usah, saya beristirahat saja di kamar. Lisa tolong antarkan saya ke kamar ya! Dan tuan Roberto terima kasih anda sudah membantu saya," Maura tersenyum tulus, namun ia sangat tidak nyaman dengan kehadiran Roberto di rumahnya. Ia takut Dave akan salah paham kepadanya.


"Baiklah kalau begitu saya permisi," Roberto berpamitan.


"Lisa, terima kasih," ucap Maura dengan tulus.


"Sama-sama, Nyonya. Saya pergi ke dapur ya dan membuatkan sarapan untuk Nyonya?"


"Iya Lisa, maaf jadi merepotkanmu!"


Sementara itu..


Roberto memasuki mobilnya, ia semakin yakin bahwa Dave memperlakukan Maura dengan tidak baik hingga membuat Maura pingsan.

__ADS_1


Roberto membuka galerinya, ia kemudian memutar video pertengkaran Dave dan Maura ketika di apartemen ketika hubungan Maura dan Dave tidak baik. "Apa aku harus mengirim video ini?"


Roberto sudah menyuruh semua anak buahnya untuk mencari tahu kontak Jaksa Leo, tak membutuhkan waktu yang lama. Mereka segera menemukan nomor ponsel jaksa kondang itu. Roberto menimbang-nimbang apakah ia harus mengirimkan video itu ? Namun Roberto tidak bisa berdiam diri saat melihat kondisi Maura seperti itu. Memang dirinya tidak mengenal Maura, namun entah mengapa ketertarikan pada wanita mungil itu semakin besar. Dan Roberto semakin bersemangat untuk menolong Maura dari masalah rumah tangganya bersama Dave.


Roberto segera membuka aplikasi telepon hijau, ia mencari kontak Jaksa Leo. Dengan sangat mantap Roberto segera mengirimkan video itu. Terlihat centang dua biru di chat itu, menandakan sang penerima sudah menerima dan membacanya.


****


Leo sedang memeriksa dokumen di kantor miliknya, ia sedang menyelidiki kasus korupsi yang melibatkan pejabat yang ada di kota Paris.


Tangan Leo sangat sibuk membuka-buka dokumen, sesekali ia membenarkan letak kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya. Jemarinya begitu lincah membuka halaman demi halaman membaca dengan cermat isi sebuah dokumen itu.


Namun konsentrasinya buyar saat ponsel miliknya berbunyi dengan sangat nyaring.


"Siapa ini? Nomor tidak dikenal," Leo memperhatikan layar ponselnya.


Matanya membulat secara sempurna saat Leo membuka chat yang berisi video pertengkaran Dave dan Maura. Ia menonton video itu sambil menautkan alisnya dengan geram, giginya bergemelutuk karena menahan amarah.


"Kurang ajar kau, Dave!!!!" Teriaknya berapi-api seraya menggebrak meja kerjanya hingga semua barang yang ada di meja tampak bergetar karena guncangan tadi.


"Aku sudah menduga kau memang memiliki maksud lain menikahi putriku!" Desis Jaksa Leo, ia mengepalkan tangannya geram. Tampak dadanya kembang kempis karena menahan amarah yang bergemuruh di dadanya.


Leo segera meninggalkan kantor dan melajukan mobilnya menuju Perumahan Ke Marais, ia harus meminta langsung penjelasan dari Dave.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2