
Jika Nesya kini sedang berdebat perihal roti dengan anak buahnya, berbeda dengan Fariz yang dilanda kebingungan memilih istri atau perempuan yang dicintainya, di satu sisi dia ingat bahwa dia sudah menikah dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, tapi di sisi lain, ada perempuan yang kini datang menagih janjinya.
“Bukankah dulu kamu berjanji jika suatu saat nanti aku sudah sukses, maka kita akan menikah. Apa kamu masih mencintaiku seperti dulu?”
Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Fariz, bohong jika Fariz sudah melupakan cintanya pada gadis berparas ayu itu, selain berpendidikan tinggi, gadis yang bernama Clara itu juga kini sudah berhasil menggapai cita-citanya untuk menjadi seorang model.
Tapi janji tetaplah janji, Fariz mengira jika Clara sudah melupakan janji itu, janji di mana jika Clara sudah sukses, barulah mereka melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Memang berat rasanya saat Fariz membiarkan orang terkasihnya untuk mengejar impiannya di negeri orang, namun dia tidak boleh egois, Clara berhak atas itu.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, komunikasi di antara Clara dan Fariz semakin jarang bahkan hampir tidak ada. Hal itu membuat Fariz menyimpulkan bahwa Clara sudah melupakan janjinya. Beberapa menit dia termenung, hingga seulas senyum penuh kelicikan terbit di wajahnya.
Sementara itu, masih di perjalanan menuju tempat yang rasanya aman untuk menyembunyikan Nesya, Radit mulai memberanikan diri untuk menanyakan hal yang mungkin bersifat pribadi demi menghilangkan rasa penasarannya.
“Apa boleh Saya bertanya?”
“Bisa tidak kalau jangan terlalu formal? Rasanya telingaku ingin muntah mendengarmu bicara seperti itu!”
__ADS_1
“Mau nanya apa?” Nesya menatap wajah Radit secara intens membuat pria itu salah tingkah.
“Bagaimana dengan bayimu?” Radit mulai was-was, ia takut jika Nesya akan mengeluarkan reaksi yang berlebihan.
“Aku akan membesarkannya sendiri.” Nesya menjawab diiringi senyuman getir.
“Tapi sekolahmu?”
“Aku dikeluarkan. Miris bukan? Aku dikeluarkan karena telah mencoreng nama baik sekolah, lalu seorang suami yang mementingkan wanita lain ketimbang aku. Eh iya, aku kan memang tidak penting baginya..” Nesya blak-blakkan, dia tertawa sinis meratapi nasibnya yang begitu tragis. Saat pihak sekolah meminta Fariz untuk hadir ke sekolah, namun pria itu menolak karena alasan sibuk, dia terima apapun keputusan yang dikeluarkan sekolah untuk Nesya.
“Kak, apa kamu tahu di mana kakakku??” tanya Nesya penuh harap, semoga saja pria ini berbaik hati mau membantunya agar bisa bertemu dengan sang kakak.
“Tidak.” Radit berdalih, dia masih sayang nyawa membuat dirinya tidak berani mengkhianati Fariz hingga sejauh itu.
“Tidak mungkin. Kamu pasti bohong!”
__ADS_1
“Kita sudah sampai,” Radit mengalihkan pembicaraan, dia keluar mengajak Nesya memasuki rumah sederhana yang terlihat sudah lama tak berpenghuni.
“Rumah siapa? Apa kamu mengajak aku untuk mencuri?” tuduh Nesya dan langsung menjauh membuat Radit menepuk jidatnya.
“Ini rumah lamaku, suamimu tidak akan tahu jika kamu di sini, mungkin sedikit kotor karena sudah lama aku tidak membersihkannya.”
“Tidak apa-apa, biar aku yang membersihkannya.”
“Tidak, biar aku saja. Aku tidak mau kamu kelelahan dan berakibat pada kandunganmu, nanti bisa-bisa aku yang disalahkan.” Ucap Radit dengan nada menyindir.
“Oh, dengan senang hati.” Nesya tersenyum senang, dia mendudukkan bokongnya di sebuah sofa kecil.
Like
Komen
__ADS_1