Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Melihat Kembali


__ADS_3

Razel baru saja selesai melakukan prosedur operasi cangkok mata. Dua perawat mendorong brankar menuju ruang perawatan pasca operasi. Di sana sudah ada Valerie, Esme, dan Eric yang sudah menunggu Razel.


Terlihat mata Razel yang masih tertutup oleh perban, para dokter senior dan junior berjalan menghampiri Razel yang mulai sadar dari pengaruh obat bius. Mereka melakukan observasi terhadap kondisi Razel.


Dokter Charlie, selaku dokter yang melakukan pembedahan pada Razel segera membuka perban yang membalut mata pria itu. Valerie merasa deg-degan saat melihat Razel akan membuka matanya. Saat perban dibuka dengan hati-hati oleh Dokter Charlie, Razel membuka matanya pertama kali. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah cantik Valerie yang sedang memandanginya dengan was-was dan penuh harap. Tatapannya beralih pada Eric dan Esme yang memandanginya dengan penuh haru.


"Ayah, ibu?" Suara Razel tampak bergetar melihat kedua orang tuanya. Esme dan Eric berhambur memeluk Razel, tak disangka hari yang mereka tunggu tiba. Di mana Razel bisa melihat dan berkumpul bersama mereka lagi.


"Sayang, akhirnya kau bisa melihat. Ibu bahagia, Nak!" Isak Esme dengan berurai air mata.


Valerie mendekati Razel, ia merasa canggung saat Razel memandang matanya. Berbeda sekali saat kemarin, saat Valerie berbicara tentang apapun pada pria yang ada di hadapannya. Namun Razel tak bisa melihat ekspresi wajahnya. Namun hari ini sangat berbeda, entah mengapa hatinya begitu takut Razel menjauh darinya.


"Val, aku bisa melihat lagi!!" Seru Razel gembira, ia menangkup punggung tangan Valerie dengan hangat. Lalu tangannya beralih menyentuh pipi Valerie, pipinya sangat lembut dan halus. Razel dapat melihat rona merah menyembul di pipi gadis cantik itu.


"Maaf!!" Razel sadar dengan perbuatan nya barusan, ia segera menurunkan tangannya dari pipi Valerie.


Valerie segera berhambur memeluk Razel, kebahagiaan seakan menyelimuti hatinya. "Razel, aku bahagia kau bisa melihat lagi."


Razel merasa nyaman dengan pelukan itu, hingga ia membalas pelukan Valerie.


"Mengapa pelukan Valerie sangat nyaman sekali?


***

__ADS_1


Kehamilan Maura kini sudah menginjak usia 9 Minggu, Dave selalu saja memanjakannya dan bersikap sangat berlebihan.


Ketika akan menaiki dan menuruni tangga, Dave menggendong Maura dengan hati-hati. Maura tak diizinkan untuk beraktivitas di luar ruangan.


Saat Maura menginginkan sesuatu, Dave lah yang akan mencari makanan itu sendiri meskipun itu tengah malam. Albert dan Leo belum tahu jika Maura hamil, Maura ingin mengumumkannya saat 4 bulan nanti. Dia ingin memberikan kejutan.


Dave pun melarang Maura untuk mempost tentang kehamilan atau meng-upload yang berbau kehamilan di media sosial. Media sosial itu luas. Menurut Dave, Maura harus bisa menjaga perasaan wanita yang belum hamil. Dave tak ingin perempuan yang sedang menanti buah hati melihat postingan euforia Maura dan Dave tentang kehamilan menjadi sedih. Dave tak ingin para calon ibu di sana menjadi patah semangat untuk berusaha.


Karena Dave tahu penantian Mommy nya, Elline. Untuk mendapatkan Dave, Elline harus bolak balik check up ke Rumah Sakit untuk program kehamilan. Karena sudah 3 tahun Elline waktu iitu belum dikaruniai keturunan.


Hingga waktu 5 tahun pernikahan penantian Elline berbuah manis karena akhirnya ia mengandung dan janin itu adalah Dave. Anak yang dinanti-nantikan oleh Albert. Cikal bakal penerus Abellard Company.


"Aku bosan sekali!!" Maura mengscroll aplikasi khusus berbagi foto dan Video. Namun tak ada gambar yang menarik disana, ia benar-benar bosan.


Maura menyalakan TV sambil menunggu kepulangan Dave, ia memindah-mindah channel karena menurutnya tidak ada acara TV yang bagus.


Maura berjalan menuju taman yang ada di samping rumah, ia mendudukan dirinya di kursi taman. Sinar matahari begitu menyoroti wajah dan tubuhnya seolah ingin berbagi kehangatan dengan ibu hamil itu. Sore ini udara terasa hangat, Maura benar-benar menikmati udara sore ini.


Saat Maura akan bangkit dari duduknya, ia merasakan perutnya terasa kram.


"Apa asam lambungku naik?" Gumam Maura, ia meraba perut bagian bawahnya.


"Sepertinya bagian ini yang sakit" Maura menunjuk perutnya sendiri.

__ADS_1


Sementara itu Dave baru saja keluar dari dalam mobilnya, ia melihat Maura sedang duduk di kursi taman. Bibir Dave membentuk sebuah senyuman yang merekah, ia berjalan menghampiri Maura dan mencium puncak kepala Maura dengan tiba-tiba.


"Sayang, aku pulang!"


"Dave, kau mengagetkanku!!" Seru Maura dengan mencebikan bibirnya.


"Maaf sayang membuatmu terkejut!"


Dave melihat Maura sedang memegangi perut bagian bawahnya, kemudian Dave mendudukan dirinya di samping Maura. "Sayang, mengapa kau memegang perutmu?"


"Perut bagian ini sakit, Dave. Seperti kram," Maura menunjuk perut bagian bawahnya.


Dave merasa panik saat mendengar penuturan Maura, ia segera menggenggam lengan Maura dengan lembut. "Hari ini juga kita harus ke dokter, Sayang. Aku takut kau kenapa-kenapa."


"Tidak apa-apa, Dave. Ini mungkin asam lambung yang naik"


"Aku tidak ingin kau membantah, ayo kita ke dokter!" Dave meninggikan suaranya, setengah memaksa. Ia begitu mencemaskan Maura.


"Tidak apa-apa, Dave. Begini saja jika besok pagi masih sakit. Ayo kita berobat!" Maura memaksakan senyumnya karena sebenarnya ia pun sama cemasnya dengan Dave.


"Baiklah, ayo kita ke dalam!" Dave menggendong Maura dengan hati-hati.


"Dave, aku harap kau selalu bersikap seperti ini selamanya. Tak peduli aku hamil atau tidak," batin Maura seraya menatap wajah Dave dari jarak yang sangat dekat.

__ADS_1


Catatan : Jangan lupa mampir di novel author satu lagi yang masih on going ya. Judulnya Istri Kesayangan Nino. 🤗


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2